Life is Mystery

Life is Mystery
Episode 4



Haaaaa!!!?!!!?"


Suara itu sangat nyaring sehingga membuat orang-orang disekitar serempak menoleh ke asal suara itu.


"Sssstttt!!!! Kau gila yaaa!!?!? " Reflect Alice berbisik sambil menutupi kedua telinganya seraya memberi kode agar Mark memelankan suaranya.


"Yang harusnya bilang begitu seharusnya aku!!?! " dengan suara yang tertahan ditenggorokannya Mark langsung menarik lengan Alice menuntunnya berjalan kearah bangku yang letaknya tak jauh dari lokasi mereka Dan memaksa Alice untuk duduk.


Mark POV


"Apa kau gila??!! Apa maksud perkataanmu tadi? jelaskan padaku!?! " tanya ku seraya masih tak mengerti dengan apa yang ku dengar tadi "Kau mau pulang? Kemana? Korea? Indonesia?"


" Bagaimana dengan tugas akhirmu?? "


" Jangan bilang karna masalah Louis kemarin?! ... Eeeeyyy tak mungkin Kan? 않이지 (Anhiji)??! "


Dia hanya tertawa kecil merespon pertanyaanku yang bertubi-tubi and 'Damn!! She so cut!' seruku dalam hati saat melihat lesung pipinya yang dalam, saking dalamnya sampai-sampai jari telunjukku bisa ku masukkan kedalamnya 'I think' hahaha.


" Kau tenang saja, tugas akhir Ku sudah selesai dan tinggal menunggu kelulusan saja hahaha" guraunya dengan tawa kecil "Dan untuk masalah Louis, aku sudah melupakannya"


'Hhhuumff' aku menghela nafas dalam-dalam sambil tersenyum kecil padanya, aku tau kalau hatinya sangat terluka, tak mungkin dia bisa melupakan cinta pertama dan penghianatan yang ia terima dengan mudah.


Melihat wajahnya yang sedang tersenyum didepanku ini membuat hati Ku sakit sekaligus lega.


Aku tahu mungkin ini terdengar egois tapi yang bisa ku lakukan sekarang hanya mendukungnya, semoga dengan kepulangannya ini bisa membuat nya tenang dan segera 'move on', tentu saja itu yang paling kuinginkan.


"Lalu kau akan pulang kemana?"


"Hmmm.. Aku akan ke negara asal kakek ku" jawabnya dengan mata penuh kerinduan "Gimana keadaan disana yaaa? Aku juga rindu teman-teman ku disana, 너무 그리워 (neomu geuriwo) {sangat merindukan mereka}!"


"우리 오빠 도 (uri oppa do) {begitu juga kakak ku}!" lanjutnya.


"그래 (Geurae), selama kau senang" Responku mengiyakan.


Tanpa sadar Aku mengamati wajahnya yang mungil itu diam-diam, wajah yang dipenuhi keringat itu entah kenapa Aku sangat menyukainya 'dia terlihat sangat sexy' batinku.


OMG apa yang sedang Aku pikirkan?! Hahaha apa aku..?? Aaahh tidak tidak 말도안돼 (maldoandwae) ... {tidak mungkin} 않냐 (anhnya)!!


Aku bukan orang seperti itu, ini pertama kalinya aku memikirkan hal itu jadi tidak termasuk kan? Hahaha


" Jae a~~~" Suaranya membuyarkan lamunanku " Kau kenapa? Ngelamun aja, ntar kesambet looh!! "


Hahaha masa kesambet siang-siang begini, ada-ada aja niech cewe. "Haha 아니(anhi), 그냥(geunyang)!! "


"Lalu kapan kau akan berangkat?" tanyaku lagi.


"Lusa" jawabnya sambil mengusap keringat di wajahnya dengan punggung tangan.


"Secepat itu?!! Apa kau yakin? " responku sedikit terkejut, aku melihat ia hanya menganggukkan kepalanya pertanda kalau jawabannya sudah bulat "Ok, kalau gitu biar aku yang belikan tiket pesawatnya"


"Hahahaha!!" Ia tertawa lebar mendengar perkataanku yang lucu baginya tapi tentu saja tidak bagiku.


"


Tenang saja, Aku masih punya cukup banyak uang untuk membeli sebuah tiket pesawat, kau tak perlu khawatir" lanjutnya dengan masih sedikit tertawa "Kalau kau yang beli pasti kau akan beli tiket kelas 1, sedangkan Aku lebih suka kelas ekonomi".


Tentu saja aku akan beli yang kelas 1, bukankah lebih nyaman? dan pelayanannya pun lebih baik?


Terkadang Aku heran dan sekaligus kagum dengan wanita yang satu ini, dia sangat sederhana malah bisa di bilang terlampau sederhana.


Padahal dia bekerja sangat keras untuk mengumpulkan uang tapi yang dihabiskan untuk sehari-hari tidak lebih dari 20% dari pendapatannya, yang lebih membuat ku kagum adalah 50% pendapatannya Ia berikan ke Lembaga Sosial setiap bulannya.


Gila gak sih? Di zaman seperti ini mana Ada orang yang melakukan itu? Ada pun itu hanya seribu banding satu. ya, satunya ini! si cewe ini!.


Aku pernah sempat bertanya apa alasannya, dan dia jawab sambil tersenyum "Berbagi adalah bentuk lain dari rasa bersyukur, seberapapun uang yang bisa ku hasilkan dengan hasil keringat ku sendiri akan terasa lebih nikmat jika bisa berbagi, banyak atau pun sedikit itu sudah cukup membuat ku bahagia dan bersyukur"


Aku benar-benar di buat kagum oleh jawaban dan prinsip hidupnya itu.


Sejak bertemu dengannya aku jadi ikut ketularan, ketularan dalam artian baik maksudnya.


Author POV


Keesokan harinya Alice disibukkan dengan hal-hal mengenai kepulangannya, mulai dari barang-barang bawaannya, apartment sampai urusan study nya.


Alice merasa bingung antara ia akan menjual apartment nya atau tetap mempertahankannya?


Alice masih merasa sakit hati dengan teman sekamarnya yang merebut pacar tercintanya, tapi ia juga merasa kasihan berhubung temannya itu tak punya tempat tinggal.


Mark terus berusaha meyakinkan Alice agar gadis itu menjual apartment nya, karena akan membuat Alice teringat akan hal menyakitkan yang akan membuatnya sedih.


Akhirnya Alice pun menyetujuinya perkataan Mark.


Ia memberi waktu teman sekamarnya agar bisa mencari tempat lain untuk tinggal dalam kurun waktu 6 bulan.


Hari keberangkatan pun tiba, Mark menemani Alice ke San Diego airport.


"Telephone aku jika sudah sampai" Katanya dengan senyum kecil "jangan sampai lose contact ya, setidaknya sehari 2kali kita harus berbicara atau kalau perlu pakai video call"


"Haha 알아성 (araseong) {Aku tahu}~~" dengan nada sedikit manja Alice berkata sambil tertawa kecil.


"Atau ... bagaimana jika kau jadi pacar ku? " Kata Mark dengan tatapan lembut


"No! " Jawab Alice sambil tersenyum


"왜 (Wae)?! Kau tak kan meyesal berpacaran dengnku! " goda Mark sambil membentangkan kedua tanganya kesamping dan memeluk Alice dengan erat "Aku pasti akan sangat merindukanmu"


"나도 (na do) {Aku juga}" Balas Alice "berkunjunglah, aku akan menunggumu!"


✈✈✈✈✈


bersambung...