Life is Mystery

Life is Mystery
Episode 2



1 Minggu sebelum liburan (dihari yang sama)


Alice pulang ke apartmentnya sebelum berangkat bekerja karena ada sesuatu yang tertinggal.


Saat ingin memasuki gedung Ia dikagetkan dengan suara yang sangat Ia kenal "Hoy!! "


"Jae!! Yaa!! 너 진짜 (Neo jinjja)!! " Seru Alice sambil memejamkan matanya karena kagetnya.


"Dimana pesananku? " Tanya Mark sambil menyodorkan kedua telapak tangannya.


(PS : Alice,Karen dan Mark tinggal di gedung yang sama)


"Ada dikamar, tunggu sebentar akan ku ambilkan" Jawab Alice


"Kalau begitu sekalian taruh dikamarku yaa" pinta Mark sambil tersenyum kuasa "aku mau pergi ke swalayan dulu"


"Okey" jawab Alice sambil berjalan memasuki gedung..


Sesampainya didepan kamar, ia merogoh kedalam tas untuk mendapatkan kunci kamarnya yang berupa kartu dan menggesekkannya kedalam lubang dekat gagang pintu.


'tlilit' bunyi pintu terbuka, saat hendak akan melangkah ke dalam ruangan Alice mendengar suara dari dalam kamar milik Karen.


Ia mendekat berlahan sambil berjinjit berusaha agar tidak menimbulkan suara.


Karena letak kamar yang bersebelahan, Alice tak sengaja melihat kedalam kamar Karen yang pintu kamarnya terbuka cukup lebar.


Seketika Alice membelalakkan matanya dan langsung menutup erat mulutnya yang hampir berteriak.


Alice terdiam sesaat dan mulai berjalan mundur keluar dari apartment itu secara perlahan berusaha agar tak menimbulkan suara.


Dengan mata yang berkaca-kaca Alice menyandarkan dirinya didinding samping pintu "Oh my God! Apa yang baru saja kulihat?" katanya dengan suara parau "itu.. Itu tidak benar kan? ", "Aku pasti salah lihat!"


Alice menyakinkan dirinya dan berusaha mengatur nafasnya yang tak beraturan "Ya, ya aku pasti salah lihat" ia mencoba menyakinkan dirinya lagi tetapi tetap tidak berhasil? karena ia melihatnya dengan sangat sangat jelas.


Mata Alice semakin berkaca-kaca dan Ia pun pergi dengan langkah yang berat.


Gadis itu berjalan menuruni tangga darurat dan berhenti di lantai 3.


Alice berusaha keras agar air matanya tidak jatuh, ia berjalan terus hingga berhenti didepan sebuah pintu kemudian memencet-mencet kode past dan langsung menerjang masuk ke dalam ruangan itu.


(PS : walaupun mereka tinggal di gedung yang sama, tapi ada perbedaan fasilitas didalamnya? lantai 3 adalah lantai untuk penghuni VIP, jadi mereka tidak menggunakan keycard seperti kamar milik Alice)


Ruangan yang sangat luas, lebih luas dari pada apartment milik Alice.


"Jae? Jae a~~!?" Panggil Alice "Apa kau ada di dalam ?" sambil membuka pintu kamar tidur Mark dan menutupnya kembali karena tak ada orang "Ah, aku lupa kalau dia sedang pergi"


Alice berjalan menuju sebuah sofa besar didepan TV, ia terduduk diam dan memandang kosong ke arah layar TV yang hitam, terus memandangnya sampai tak sadar air mengalir dari bola matanya.


Alice berbaring meringkuk di atas sofa, 10 menit, 20 menit tampa bergerak sekalipun dari tempatnya.


Suara tombol terdengar dari arah pintu dan terbuka, Mark masuk kedalam dan tersentak kaget mendapati Alice meringkuk di atas sofa sambil menangis.


"야~ 너 왜 그래? (ya~ Neo wae geurae?) {hey, kau kenapa?} " Kedua tangan Mark menyentuh lengan Alice utuk membantunya duduk, tapi Alice tetap tak mau bergerak.


Akhirnya Mark hanya menepuk-nepuk punggung Alice menunggunya hingga tenang.


Setelah melihat Alice mulai sedikit tenang, Mark mencoba bertanya kembali dengan lembut "왜 그래서, 응 ? (wae geuraeseo, eung?) {kenapa seperti ini, hmm?)" dengan nada yang lembut ia mengusap kepala Alice.


Dengan tangannya yang besar dan hangat Mark menyeka air mata yang membasahi pipi Alice. "나 봐파 (na bwapa) {lihat aku}" , "말해봐 (malhaebwa) {katakan)"


"Maaf aku tak bisa membawakan pesananmu" Kata Alice mulai berbicara.


"It's ok, 괜찮아 (gwaenchanha)" Jawab Mark mengerti.


"사실 (sasil) {Sebenarnya}... " Kata Alice berusaha untuk menjelaskan situasinya kepada Mark yang sedari tadi menatapnya dengan penuh tanya.


"Tadi.. Se sebenarnya tadi.." kata Alice terbata-bata berusaha menenangkan diri "Saat aku masuk kedalam apartemen, aa.. aku melihat Karen"


"Ada apa dengannya ? " Tanya Mark penasaran.


Alice menarik nafas dalam-dalam dan mulai berbicara kembali " Aku melihat Karen sedang bercinta" Putusnya menarik nafas lagi.


" ..... "


"Dengan Luis"


Seketika kedua mata Mark membelalak dan wajahnya menjadi merah padam.


Alice tersontak saat tiba-tiba Mark berdiri tanpa sepatah kata, ia langsung memegang erat lengan Mark yang hendak pergi "Don't!!" kata Alice menghentikan langkah Mark.


"Are you crazy?!! " Kata Mark pelan menahan amarahnya dan menutup kedua matanya "벗어 (beoseo) {lepaskan}"


"Please don't" Kata Alice memohon "aku tak ingin merusak hubungan pertemanan kita semua"


Mark hanya menatap Alice dengan tatapan tak percaya, Ia tak percaya Alice membiarkan hatinya terluka hanya demi pertemanan yang konyol ini.


Mark menenggelamkan diri Alice ke dalam pelukan nya "바보 (babo), dasar bodoh", "Benar-benar bodoh" kata Mark sambil memeluk Alice lebih erat.


*****


"Apa kau yakin akan tetap bekerja hari ini? " tanya Mark saat mengantarkan Alice ke tempat kerjanya.


"Aku akan membayar gajimu utuk hari ini jadi kau tak perlu bekerja", " Kau tau kan kalau aku sangat kaya" Godanya


Itu membuat Alice mulai tertawa kecil.


"Haha tenang saja, aku tak pernah membawa masalah pribadi ke pekerjaan" Balas Alice " I'am a Pro" Sambil menutup pintu mobil "bye"


Alice berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, ia bekerja paruh waktu di hari senin, kamis dan jumat.


Saat ini ia bekerja di sebuah tempat dimana ada sepasang pengantin yang mengadakan pesta pernikahan mereka.


'Hari yang perfect' batin Alice.


Alice bekerja di dapur di bagian cuci piring, tentu saja ia mengambil bagian ini karena memiliki bayaran yang cukup banyak, walaupun melelahkan tapi ia dengan senang hati melakukannya.


'Keseharianku yang menarik tak semenarik percintaanku' kata Alice dalam hati.


'Biarlah, yang penting bagaimana caranya aku harus bisa menyelesaikan ini dengan cepat hehe' Sambil tertawa kecil ia memandang ratusan piring kotor dihadapannya.


bersambung...