
“Yu Jian! Sudah ibu bilang untuk tidak bermain-main dengan belati seperti itu!” Suara ibu Yu Jian terdengar keras.
Diatas pohon di samping rumah Yu Jian nampak bersantai sambil bermain-main dengan belatinya nya. Ia memutar belati itu di antara jari-jarinya dengan mudah seakan-akan dirinya terlatih dengan belati.
“Baik-baik bu, aku akan berhenti.” balas Yu Jian sambil melompat turun.
Dengan pakaian putih serta rambut pendek tampak Yu JIan yang berusia 8 tahun dengan wajah sombongnya. Sejak bereinkarnasi ke dunia baru ini ia akhirnya memperoleh kemampuannya sebagai awakener yang gagal ia wujudkan di bumi karena tidak memiliki Qi.
Ditempat ini Qi cukup melimpah. Namun setelah terus menyerapnya, disatu titik Yu Jian menyadari bahwa Qi dari alam saja tidaklah cukup untuk membuatnya bertambah kuat dalam waktu singkat. Jadi ketika ia mencapai batas menyerap Qi dari alam Yu Jian melakukan satu misi dan memperoleh kemampuan untuk menggunakan belati dan teknik peringan tubuh.
Meski ia belum memiliki teknik bela diri yang menggunakan Qi, namun dengan teknik-teknik tersebut langsung membuat Yu Jian terkenal di desa tempatnya tinggal. Ia terkenal karena telah menjadi satu-satunya ahli bela diri di desa terpencil itu.
“Yu Jian… Ayo bermain.”
Dari luar terdengar suara dari beberapa orang anak kecil. Mereka adalah teman-teman Yu Jian di dunia ini. Meski dirinya tidak sepenuhnya berusia 8 tahun, namun Yu Jian memutuskan untuk tetap berteman dengan mereka yang ada disekitarnya.
“Ibu, aku pergi bermain dulu.” ucap Yu Jian.
“Hati-hati, jangan sampai melakukan hal yang aneh dengan teman-temanmu.” kata ibu sambil melambaikan tangannya.
Yu Jian dan tiga orang lainnya pergi menuju area sungai tempat mereka biasa bermain. Namun selain dari bermain, Yu Jian biasanya mencoba mengajarkan teknik bela diri yang ia kuasai kepada teman-temannya. Anehnya kebanyakan dari mereka tidak dapat melakukannya meski mengikuti cara yang sama dengan Yu Jian.
“Jadi hari ini apa yang akan kita lakukan?” tanya salah satunya.
“Bermain air? Berlatih seni bela diri? Atau mencoba sesuatu yang baru.” tanya yang lainnya.
Dengan raut wajah aneh Yu Jian berusaha menahan ekspresi sombongnya karena ia sudah mencapai sesuatu yang baru. Dari belakang seorang gadis yang merupakan teman Yu Jian menendangnya hingga terjatuh ke sungai.
“Berhenti membuat wajah bodoh itu untuk menyembunyikan ekspresi sombongmu. Hal baru apa yang kamu temukan?” tanya gadis itu.
Yu Jian yang tercebur berusaha meraih tepian sungai, saat keluar seluruh baju dan tubuhnya basah kuyup. Yu Jian yang basah kuyup menatap gadis itu dengan tatapan kesal. Gadis itu membalasnya dengan ekspresi yang puas.
“Aku berhasil mempelajari teknik bela diri baru”
[Skill: Zephyr]
[Melepaskan Qi Ke Langit Dan Menciptakan Badai Petir]
[Teknik Bela Diri Tingkat Heaven]
Beberapa hari lalu Yu Jian baru saja mendapatkan satu teknik tingkat heaven setelah menyelesaikan misi dari sistem. Akhirnya ia memiliki keterampilan bela diri yang melibatkan Qi, meski dirinya tidak tahu tentang tingkat-tingkat teknik bela diri. Oleh karena ia merupakan satu-satunya ahli bela diri ia tidak mengetahui hal-hal teknis terkait seni bela diri di dunia ini.
“Teknik baru!”
“Tunjukan! Tunjukan!”
“Tunggu dulu. Apa kau yakin ini aman?” gadis itu bertanya.
Yu Jian tidak yakin. Sistem hanya memberikan misi dan hadiah berupa teknik-teknik saja tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Suasana hening untuk sesaat. Hanya angin yang bertiup serta ranting yang jatuh ke sungai yang memecah keheningan itu.
“Sudahlah, kita coba saja. Kita akan tahu saat itu sudah aku lakukan.”
Seperti yang sebelum-sebelumnya, ketiga teman Yu Jian bersembunyi dibalik batu untuk berlindung. Di pinggir sungai Yu Jian menutup matanya, dalam pikirannya ia mengucapkan nama teknik yang ingin ia lakukan sambil mengangkat tangannya ke langit
[Zephyr]
Untuk pertama kalinya Yu Jian menggunakan Qi yang sudah ia kumpulkan selama ini. Saat mengucapkan teknik itu dalam hati Yu Jian merasakan Qi bergerak dari pusat perutnya menuju tangannya.
“A-Aakkhh! Aaaa!”
Perasaan yang awalnya geli bagai kesemutan itu berubah seketika. Rasanya seluruh Qi milik Yu Jian seperti tersedot oleh sesuatu. Kasarnya Qi itu membuat tangan Yu Jian seperti tercabik-cabik. Tidak hanya Qi nya, namun ia merasakan semua energi di tubuhnya seperti dihisap oleh sesuatu hingga kering.
“Yu- Yu Jian!” kata salah satu anak khawatir setelah mendengar teriakan Yu Jian.
“Berhenti, jika kita mendekati Yu Jian mungkin kita bisa dalam bahaya!” ucap gadis itu sambil menahan lengan temannya yang berusaha mendatangi Yu Jian.
Langit biru tanpa awan yang indah di siang hari seketika berubah. Awan-awan berwarna abu-abu mulai bermunculan. Berkerumun dan membentuk sebuah pusaran tepat puluhan hingga ratusan meter diatas tangan Yu Jian yang sedang diangkat.
Suara gemuruh petir terdengar di tempat itu, kilat-kilat nampak menyambar di dalam awan. Rintik air perlahan turun dan angin bertiup dengan kencangnya di tempat itu. Gemuruh semakin kuat diatas memberikan pertanda buruk. Beberapa saat setelahnya gemuruh itu berhenti.
Duarrr…
Petir jatuh menghantam bumi. Suara kerasnya begitu memekakan telinga, petir itu menyambar dan meratakan apapun yang disambarnya. Begitu petir menyambar hujan langsung berhenti dan awan-awan kelam itu mulai menyebar lagi. Ditanah Yu Jian terbaring pingsan setelah kehabisan seluruh tenaganya.
***
Yu Jian terbangun dari tidurnya. Pergelangan tangannya terasa begitu sakit, perban nampak menutupi tangan dan perutnya. Disebelahnya napak Yi Wei tengah tertidur di kursi dengan kondisi masih menggunakan topeng miliknya.
Kepalanya terasa begitu pusing, baik itu karena kekurangan darah atau karena mimpi yang baru saja ia alami. Kondisi ruangan saat itu sangat cukup gelap dengan hanya ada lilin kecil yang menyala di pojok ruangan.
“Yu Jian?” terdengar suara Yi Wei.
“Aku membangunkanmu?” tanya Yu Jian seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Yi Wei hanya bangun dari kursi dan mendekati Yu Jian. Ia berdiam cukup lama, menjulurkan tangannya lalu menariknya kembali seakan-akan ada perasaan yang bercampur aduk dalam dirinya. Namun Yu Jian tidak terlalu melihatnya karena kondisi ruangan yang cukup gelap
________
Tahap Pertama Ahli Bela Diri
Mereka yang memasuki ranah bela diri akan melalui tiga ranah pelatihan. Ranah pertama adalah ahli bela diri pemula yang mengharuskan mereka melatih fisik mereka sebelum dapat menampung Qi yang memiliki sifat kasar saat digunakan. Ranah kedua adalah pengumpulan Qi dimana setelah tubuhnya sudah cukup kuat ahli bela diri akan melakukan penyerapan Qi. Ranah ketiga adalah tahap pembelajaran teknik bela diri non Qi, di tahap ini latihan fisik tingkat lanjut dilakukan agar tubuh semakin kuat saat menggunakan Qi.