
“Tampaknya semua ini terlalu berat bagimu… ya?” kata Yi Wei dengan suara kecil.
Yu Jian tidak langsung menjawabnya. Seperti biasa Yu Jian mengalihkan pandangannya dari Yi Wei saat Yi Wei menanyakan hal-hal sensitif terkait masa lalunya.
“Pada akhirnya… Apakah kau memutuskan untuk bercerita padaku atau tetap memendamnya sampai akhir, Yu Jian?” tanya Yi Wei.
Yu Jian sadar bahwa suatu saat ia harus memilih bercerita kepada Yi Wei atau tetap diam. Saat ia melirik kearah Yi Wei segalanya nampak seperti berhenti, disebelah Yi Wei nampak dirinya tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
“Jadi apa kau memutuskan untuk lari lagi?” tanya sosok itu.
“Aku… Tidak tahu.” balas Yu Jian.
Sosok itu nampak kesal dan bergerak mendekati Yu Jian dengan agresif. Jika itu adalah kondisi yang nyata maka sosok itu sudah mendorong Yi Wei hingga terjatuh. Lalu sosok itu meraih baju Yu Jian ke arahnya dengan sangat kuat.
“Lari! Lari Lari! Apa bakatmu itu hanya lari dari masalah saja! Kau itu sudah diberikan kesempatan kedua untuk menjalani hidupmu dengan baik! Tidak sepertiku!”
“Ta- Tapi aku merasa hidupku sangat baik saat ini. Memiliki orang tua yang selalu ada untukku, tidak seperti di kehidupan yang sebelumnya. Orang-orang juga mengenalku karena membawa perubahan di dunia ini.”
Sosok itu tidak menjawab perkataan Yu Jian. Ia hanya diam sambil menatap langit-langit ruangan. Entah ekspresi macam apa yang ia miliki saat ini, ia lalu melepaskan genggamannya dari baju Yu Jian lalu berbalik.
“Sudah kuduga tidak bisa. Permintaan dariku, apakah kau mau mengabulkannya?” sosok itu tidak berbalik.
“A-Apa itu?”
“Yi Wei, setidaknya untuknya. Aku ingin kau bercerita kepada Yi Wei tentang masa lalumu. Tidak peduli kilas balik macam apa, bahkan disaat seperti kau tidak dapat bernafas kau harus tetap bercerita padanya. Kau bisa?”
“Yi Wei? Kenapa aku harus bercerita padanya?”
Sosok itu berbalik, tubuhnya perlahan memudar seperti debu. Seluruh kakinya sudah menghilang dan perlahan bagian tubuhnya yang atas juga menghilang.
“Karena aku tidak bisa, maka biarkan orang lain yang mencobanya. Firasatku Yi Wei bisa menyelesaikannya. Anggap saja ini percobaan terakhir, jika tetap tidak berhasil maka hiduplah sesukamu. Tapi jika kau mau bercerita pada Yi Wei maka…”
Sosok itu telah menghilang sepenuhnya dan meninggalkan permintaan berat bagi Yu Jian. Meski begitu Yu Jian tetap berharap dalam hatinya. Segala disekitarnya pun kembali menjadi normal dan Yi Wei nampak memiringkan kepalanya karena bingung.
Bukan seperti aku mau kembali ke dunia bela diri, tapi setidaknya aku ingin melegakan hatiku.
Yu Jian menatap kearah Yi Wei sambil menggeser tubuhnya dan mengisyaratkan Yi Wei dengan tangannya agar duduk di kasur miliknya. Yi Wei yang melihat itu pun mendekat dan duduk di kasur Yu Jian.
“Ya Qi racun milikku sedang tidak berbahaya untuk sekarang jadi…” kata Yi Wei sambil duduk.
Meski begitu Yu Jian tidak langsung berbicara begitu saja. Mulutnya seperti dibungkam sehingga tidak bisa berbicara sama sekali. Di titik ini Yu Jian menyadari tekatnya saja tidak cukup baginya untuk bisa lepas dari kegelapan yang hinggap di hidupnya.
“Ceritakan saja dari hal yang mudah, kau juga tidak perlu terburu-buru, Aku tidak akan kemana-mana.” Yi Wei menggenggam tangan Yu Jian.
Aku harus melampiaskan semuanya.
Yu Jian pun bercerita tentang masa lalunya dari awal. Mulai dari bagaimana hidupnya yang biasa saja sampai ia menjadi seorang awakener. Akan tetapi hidupnya tidak jadi lebih baik dan justru semakin tersiksa karena penindasannya sebagai awakener lemah tanpa skill yang berguna lalu mati.
Ia melanjutkan kisahnya lagi begitu sampai didunia ini. Bagaimana ia terlahir di keluarga biasa namun penuh perhatian. Menjadi ahli bela diri tingkat semi-atas dengan mempelajari dua teknik bela diri kemudian insiden yang ia alami saat berusia 8 tahun. Menyendiri dalam rasa bersalah sejak saat itu dan berniat menebusnya dengan memajukan desanya dengan ide yang ia bawa dari dunianya.
Yi Wei hanya mendengar apa yang Yu Jian katakan tanpa mengintrupsinya sama sekali. Tangannya juga tidak ia lepaskan sama sekali sejak ia menggenggam tangan Yu Jian. Yi Wei seperti tengah mendengarkan sebuah dongeng atau kisah dari orang yang sedang mabuk karena hal itu sulit dipercaya.
Saat itu Yi Wei menyadari bahwa sambil bercerita Yu Jian meneteskan air matanya dan sadar bahwa Yu Jian tidak sedang mengarang. Yu Jian sendiri sepertinya tidak menyadari jika saat ini ia sedang menangis.
“Berulang kali aku mencoba kembali, namun setiap kali aku mencobanya aku selalu mendapati bayangan dari teman-teman yang aku bunuh. Mereka terus kesakitan dan menyalahkanku. Terus berulang-ulang!Terus hingga aku menjadi gila rasanya! Teru-”
Omongan Yu Jian terputus karena Yi Wei menarik Yu Jian kedekatnya. Ia memeluknya dengan berhati-hati bagaikan sedang memeluk benda yang akan hancur jika ia menambahkan sedikit saja tenaga.
“Yu Jian, apakah kamu menyesal?”
Yu Jian hanya mengaggukan kepalanya dalam pelukan Yi Wei itu. Yi Wei membelai rambut Yu Jian sambil berusaha menenangkannya.
“Kau sudah menebusnya bukan? Minta maaf dan memajukan desamu hingga seperti sekarang. Kalau aku boleh tahu apa tanggapan dari orang tua dari teman-temanmu?”
“Mereka memaafkanku, mereka bilang itu bukan salahku dan merekalah yang terlalu memberikan harapan padaku. Tapi tetap saja…” kata Yu Jian pelan.
“Baguslah kalau begitu. Memang jika dari yang aku dengar mereka terlalu menaruh harapan padamu. Bukan maksudku menyalahkan mereka, hanya saja ahli beladiri semi-atas di usia 8 tahun? Tahukah kau jika orang-orang yang ada di posisi ‘11 Dibawah Surga’ sekalipun tidak ada yang mencapai tahap itu di usia muda. Semua itu ada prosesnya dan anak 8 tahun seharusnya tidak melalui proses itu.”
Yi Wei menyadari beratnya hidup sebagai Yu Jian. Hidup dalam harapan dari orang-orang disekitarnya dan saat jatuh ia dipenuhi rasa bersalah serta. Tidak ada satupun yang memberikan harapan padanya mampu mengangkatnya keluar dari jurang yang membuatnya terjatuh.
“Tidak masalah untuk merasa bersalah. Tidak masalah jika kau memutuskan lari, kadang kala lari juga dapat menyelesaikan masalah. Namun pada akhirnya kau harus kembali, bukan demi dirimu juga teman-temanmu yang sudah mati. Tapi pada teman-temanmu yang ada di ingatanmu. Semua orang sudah memaafkanmu termasuk temanmu yang telah mati, tapi mau sampai kapan kau membiarkan teman-teman mu yang hidup dalam ingatanmu terus merasa kesakitan seperti itu?”
Saat mendengar kata-kata itu Yu Jian teringat bahwa orang tua dari teman-temannya mengatakan disaat terakhir mereka tidak menyalahkanku. Meski begitu Yu Jian terus melukai dirinya dengan rasa bersalah dan membayangkan teman-temannya kesakitan dalam benaknya.
“Kau benar, mereka yang telah mati sudah memaafkanku. Sampai kapan aku mau membiarkan mereka yang hidup dalam ingatanku terus merasakan kesakitan. Jika bisa-bisa mereka tidak tenang dialam sana” Yu Jian keluar dari pelukan Yi Wei.
“Terima kasih, Yi Wei.” ucap Yu Jian lagi.
_______
Bela Diri
Ranah bela diri terbagi menjadi tiga tahap yaitu tahap awal (pemula, menengah, dan atas), tahap Qi (master dan grandmaster), juga tahap Qi Advanced (Saint dan Heaven). Untuk memperoleh titel di tahap pemula (atas), Qi, dan Qi Advance seseorang perlu mempelajari 3 teknik terkait ranah yang mau dijapai.