
Beberapa hari sebelum tes
“Sembilan… Puluh… Delapan… Sembilan… Puluh… Sembilan… Sera… Tus! Fuah… Ini melelahkan.” Yu Jian kehabisan nafas.
Yu Jian tergeletak di tanah setelah melakukan push up dan sit up sebanyak seratus kali. Disampingnya Yi Wei menyodorkan air untuk menghilangkan dahaga Yu Jian yang sedang menggila.
“Sekarang tinggal berlari selama satu jam dan menyerap Qi.” Yi Wei mengingatkan.
“Ini melelahkan, apakah aku memang harus melakukan ini setiap hari?”
“Kau tertinggal banyak hal dari orang-orang seusiamu. Kau memang punya dua teknik bela diri, tapi kau melompati tahap pemula dan itu sangat berbahaya.”
“Tahap pemula, pelatihan fisik, memperkuat tubuh sehingga kuat menampung Qi yang bersifat kasar. Tahap menengah, penyerapan Qi, setelah tubuh cukup kuat mulai menyerap Qi di alam atau pil dan menyimpannya di kolam Qi. Tahap atas, pelatihan bela diri, setelah menyerap Qi harus mempelajari teknik bela diri, itu agar seseorang bisa menggunakan Qi melalui bela diri dan masuk tahap master. Juga fondasi yang dibuat di tahap pemula semakin kokoh. Benar bukan?”
Kemarin Yu Jian menghabiskan satu hari penuh bersama dengan Yi Wei mempelajari dasar-dasar bela diri yang Yu Jian lewatkan karena berlatih sendiri. Yi Wei memberikannya pengetahuan-pengetahuan dasar sehingga Yu Jian bisa memaksimalkan potensinya dengan lebih baik melalui penjelasannya. Salah satu pembelajaran itu adalah tahap dan tingkatan teknik bela diri dan ahli bela diri.
Sambil terbaring Yu Jian menatap Yi Wei yang nampak memegangi kepalanya. Ia tidak meresponnya dengan terlihat khawatir karena Yi Wei tidak suka dianggap rapuh. Meski begitu Yu Jian merasa kasihan dengan Yi Wei.
“Jadi kau sudah menemukan arahmu?” sosok yang menyerupai dirinya muncul.
“Iya, aku sudah menemukannya.” jawab Yu Jian.
“Kau sudah tidak membenci bela diri lagi?” tanya sosok itu lagi.
“Aku… Tidak tahu. Perasaanku campur aduk saat ini, tapi satu hal yang aku putuskan. Jika mempelajari bela diri bisa membuatku berdiri disampingnya, maka aku akan ambil jalan itu.” Yu Jian bangkit.
Sosok itu menghilang tiba-tiba kali ini. Tanpa mengucapkan kata-kata menyebalkan atau desakan. Sebuah rasa sunyi pertama yang Yu Jian rasakan pertama kali dari sosok itu.
“Mau sampai kapan kau beristirahat, kau harus segera bergerak dan berlatih.” Yi Wei menayarankan.
“Baik-baik pelatih…”
Setelah tes
Semua orang berbisik-bisik saat melihat performa milik Yu Jian. Ada yang tidak percaya dan ada yang sinis dengan hasilnya, seakan-akan Yu Jian berbuat curang. Berbagai pendapat bermunculan saat itu namun Yu Jian tidak memperdulikannya.
“Yi Wei, minta Yu Jian nanti pergi ke aula utama. Ini perintah ketua sekte” kata master Zhang melalui transmisi suara pada Yi Wei.
Yi Wei tidak menjawabnya karena ia tidak memiliki kemampuan untuk merubah Qi dan mengirimnya ke bentuk suara seperti masternya. Ia menarik pelan baju Yu Jian untuk menarik perhatiannya.
“Master memintamu untuk pergi menuju aula utama setelah ini.”
“Baiklah..” Yu Jian menyeka air matanya dengan baju.
“Jadi apa permintaanmu? Kuharap bukan sesuatu yang aneh ya.” tanya Yi Wei.
“Elus kepalaku.” pinta Yu Jian malu
“Eh… Kepala?” Yi Wei tidak menduga.
“Ibuku, saat aku berhasil melakukan sesuatu ia akan mengusap kepalaku sebagai apresiasi. Sudah lama aku tidak merasakannya.”
Yi Wei hanya diam lalu mengusap kepala milik Yu Jian. Perasaan hangat muncul dalam diri Yu Jian, perasaan yang ia sudah berhenti rasakan sejak ia memutuskan untuk menarik diri.
“Orang tua yang manja.”
“Aku tidak setua itu juga.”
“Baik-baik…”
Yi Wei mengantar Yu Jian menuju aula utama sebagai bentuk dukungan. Keduanya berjalan dari lapangan itu dengan senyum puas, meninggalkan diri lain Yu Jian yang tetap diam sambil melambaikan tangannya ke dirinya yang berjalan menjauh bersama Yi Wei. Sosok itu lalu berbalik dan mengambil langkah yang berkebalikan dengan Yu Jian.
Setelah pertemuan
Di lorong aula utama nampak master Zhang dan tetua Xian De tengah berjalan berdampingan. Tidak ada yang berbicara di antara keduanya, sampai tetua Xian De menghentikan langkahnya.
“Benar-benar diluar rencanamu ya, semua ini.” kata tetua Xian De
“Awalnya memang keluar dari rencanaku, tapi takdir memberikanku sesuatu yang lebih baik. Jadi aku memberikan kesempatan pada bocah emas itu” balas master Zhang.
“Kau tahu, kau benar-benar jahat. Memaksa orang yang trauma dengan dunia bela diri ke dalam dunia bela diri lagi.” puji tetua Xian De
“Tapi aku memberinya dewi penyelamat.” balas master Zhang dengan senyum.
Langkah keduanya berhenti. master Zhang menatap tetua Xian De. Tatapan penuh percaya diri seakan-akan jalan baru yang dibuat takdir ini berada dalam kontrolnya.
“Kau tahu kau tidak bisa mengontrolnya bukan?” ucap tetua Xian De
“Kau salah tetua Xian, diantara semua hanya aku yang bisa mengontrolnya. Karena bagaimanapun… ia sudah jatuh cinta tanpa sadar dengan Yi Wei. Lagipula aku hanya meminta satu hal, ia menyembuhkan Yi Wei karena ia memiliki Qi yang kuat.”
“Kau benar-benar menyayangi muridmu itu ya.” puji tetua Xian De
“Akan aku lakukan apapun agar ia sembuh. Jika Yu Jian menolaknya, maka aku akan mengambil semua Qi nya dan membuat obat untuk Yi Wei darinya. Namun aku memberikan sarana yang lebih baik, biarkan keduanya membangun hubungan.”
Tanpa menunggu balasan dari tetua Xian De, master Zhang melangkah menjauh menuju lorong yang lebih gelap.
PS:
Awalnya mau update sama chapter berikutnya, cuma capek gara gara dihajar UTS sama Skripsi