Level Up! Martial Technique

Level Up! Martial Technique
Ia Yang Dipanggil Crying Dragon [2]



Tak! Tak!


Suara pedang kayu beradu satu. Diatas arena nampak beberapa orang sedang melakukan duel. Menebas, menangkis, dan menghindar, Yu Jian tidak melepaskan pandangannya dari orang-orang itu.


Sudah satu minggu lebih sejak Yu Jian anggota Sekte Azure. Sebagai murid kelas khusus ia memperoleh sumber daya untuk berlatih dan dibebaskan dari mengikuti pelajaran beladiri standar. Meski begitu Yu Jian tetap ke arena setiap sore untuk melihat murid-murid lainnya berlatih.


“Apa ada yang mau berlatih tanding denganku?” Yu Jian bertanya dari pinggir arena.


Tidak ada yang menjawab tantangan dari Yu Jian. Ini sudah yang kelima kalinya Yu Jian tidak mendapatkan respon dari ajuan tantangannya. Untuk mengatasi kurangnya pengalaman Yu Jian memutuskan datang ke arena sehingga bisa memperoleh pelajaran melalui pertarungan.


“Apakah hari ini tetap tidak ada juga?” ucap Yu Jian pelan.


Kebanyakan murid memutuskan untuk tidak berurusan dengan Yu Jian. Beberapa takut karena di hari tes Yu Jian dapat memanggil petir, beberapa masih waspada dengan kemampuan Yu Jian. Ada juga yang memilih menjaga jarak dan tidak mencari masalah dengan Yu Jian karena Xian Yu pernah muncul dan membela Yu Jian.


Yu Jian merasa sedikit frustasi karena tidak ada yang bisa diajaknya berlatih dan memberikannya pengalaman. Ia sudah merasa muak dengan melatih fisiknya sehingga ingin melatih fisiknya dengan cara lain.


“Kalau begitu aku ambil kesempatan ini.”


Saat Yu Jian hendak pergi dari arena, seseorang menjawab tantangannya. Orang itu memiliki tinggi yang sama dengan Yu Jian, rambut pendek yang biasa ia temui di dunia lamanya, dan senyum lebar yang ditujukan ke arahnya.


“Aku Hao Chen. Bagaimana? Mau berlatih bersama?” tanya Hao Chen pada Yu Jian.


“Tentu saja. Terima kasih sudah mau menerima tantanganku. Oh ya, namaku Yu Jian. Salam kenal.” Yu Jian memeprkenalkan diri.


“Aku tahu, kita pernah berte-. Salam kenal juga.” Hao Chen menarik perkataannya.


Hal itu membuat Yu Jian bingung. Ia tidak pernah merasa bertemu dengan seseorang bernama Hao Chen sebelumnya. Terutama dengan gaya rambut pendeknya yang sangat berbeda dengan mereka yang ada di dunia ini Yu Jian tentu tidak mungkin melupakannya.


Saat Yu Jian hendak bertanya lebih lanjut dengan perkataan Hao Chen yang terputus, Hao Chen sudah melompat naik keatas arena. Ia mengambil tongkat kayu yang tersedia disana dan memutarnya seperti seorang ahli.


“Yu Jian menggunakan senjata apa untuk teknik bela dirimu? Pedang? Tombak? Atau sesuatu yang lain?” Hao Chen menatap Yu Jian.


“Sebenarnya aku memiliki teknik yang berhubungan dengan belati. Hanya saja aku memiliki teknik beladiri tangan kosong yang mau aku sempurnakan. Jadi aku rasa aku akan menggunakan tangan kosong.” Yu Jian naik ke atas arena.


“Apa itu akan baik-baik saja? Aku menggunakan senjata loh?” Hao Chen penasaran dengan teknik Yu Jian.


“Kalau dibilang tentu saja aku akan babak belur. Bagaimanapun dari segi jangkauan serangan dan pengalaman aku berada dibawahmu. Tapi aku hanya ingin mencoba dan menyempurnakannya.” balas Yu Jian.


Yu Jian ingin melatih kembali teknik beladiri dari dunianya dulu. Taekwondo dan karate, teknik beladiri yang menggunakan bagian tubuh sebagai media penyerangan. Ia ingin tahu seberapa bagus dan efektif teknik itu di dunia ini.


Hao Chen yang tidak mempermasalahkan pun memutuskan untuk bersiap. Arena seketika langsung kosong, mereka yang sebelumnya berada di atas arena memutuskan untuk menghentikan duel latihannya dan menonton. Yu Jian dan Hao Chen mengambil jarak satu sama lainnya.


“Baiklah, kita mulai saja kalau begitu.” Hao Chen memulai duel.


Keduanya tidak ada yang bergerak sama sekali. Yu Jian menguatkan kuda-kuda miliknya untuk bertahan dari serangan yang akan datang. Sebagai orang yang masih kurang berpengalaman melakukan pertarungan dengan manusia. Meski sebelumnya ia hidup di dunia awakener, namun yang pernah ia lawan hanyalah monster.


Manusia adalah makhluk berakal. Tidak seperti monster yang aku bisa pelajari polanya karena pergerakannya mudah dibaca, melawan manusia lebih sulit karena mereka bisa merespon dengan cara yang berbeda tergantung situasi. Tetap tenang, jangan maju terlebih dahulu. Bagaimanapun ia memiliki lebih banyak keuntungan dalam pertarungan ini dari segi pengalaman dan senjata. Biarkan dia yang menyerang dan aku memberikan serangan balasan saat ada celak. Yu Jian membuat rencana.


Melihat Yu Jian yang tidak menunjukan tanda-tanda akan menyerang, Hao Chen memutuskan untuk bergerak pertama. Tidak seperti pengguna tongkat pada umumnya, Hao Chen meleparkan tongkat ditangannya dengan kuat.


Yu Jian meresponnya dengan menghindar ke arah samping. Berkat itu yu Jian terpaksa melepas kuda-kuda miliknya. Tiba-tiba saja Hao Chen sudah berada di dekat tongkat itu, ia meraihnya lagi dan memberikan serangan ke arah perut Yu Jian.


“Teknik peringan tubuh ya?”


Yu Jian berusaha menghindar, namun hal tersebut tidak ia lakukan karena sudah terlambat. Ia menangkis serangan yang datang dengan ude uke. Sebuah tangkisan dalam karate yang berfungsi menahan atau menangkis serangan yang datang ke arah perut, dada, dan kepala dengan cara pengambilan tangkisan dari bagian samping kepala.


Yu Jian berencana memberikan serangan yang memanfaatkan momentum putarannya itu untuk memperkuat serangannya. Hao Chen tersenyum seperti sudah tau akan hal itu, dengan sisi bawah tongkatnya Hao Chen mengganggu momentum itu dan menjaga jarak darinya.


Keduanya saling menjaga jarak lagi kali ini. Yu Jian yang sadar jika respon geraknya yang dilakukan dalam waktu singkat masih lebih lambat dari Hao Chen memutuskan untuk maju terlebih dahulu. Ia menggunakan teknik peringanannya dan memberikan tendangan terkuatnya pada Hao Chen, meski begitu Hao Chen dapat menahannya dengan tongkat miliknya.


Yu Jian pun mengambil jarak satu langkah dan mendaratkan Dwi Huryeo Chag, teknik tendangan mundur di mana penggunanya menendang dengan kaki belakang mereka ke belakang untuk menyerang lawan atau bergerak menjauh dari lawan.


Saat serangan itu hampir mengenai bagian perut, Hao Chen membelokan serangan yang datang dengan bagian bawah tongkatnya dan berbalik menyerang dengan bagian atas dari tongkat. Yu Jian hampir gagal menghindari serangan itu jika saja ia tidak waspada. Keduanya pun menjaga jarak lagi. Peratarungan sangat sengit sehingga membuat Yu Jian mengeluarkan banyak keringat.


“Hao Chen, kau bukan ahli beladiri yang menggunakan tongkat kan?” Yu Jian penasaran.


“Kenapa kau berpikir seperti itu?” tanya Hao Chen.


“Teknik tongkatmu terlalu ganjil, kau selalu memposisikan masing-masing sisi atas dan bawah dengan fungsi yang berbeda. Bagian atas menyerang dan bawah bertahan. Anehnya seranganmu lebih seperti menusuk dan mengandalkan ujung tongkatnya dan bukan badan tongkatnya itu sendiri seperti teknik tongkat yang seharusnya.” tebak Yu Jian.


“Ya, kau benar. Aku sebenarnya pengguna tombak, hanya saja di tempat latihan tidak terdapat tongkat kayu. Itu karena tombak kayu yang sudah tumpul sekalipun tetap berbahaya jika digunakan untuk menusuk karena memiliki fokus pada satu titik dan pegangan yang panjang sehingga memungkinkan tenaga yang dikeluarkan lebih banyak.”


Peringanan tubuh, teknik tombak yang bagus. Semi-lanjutan? Tidak, dengan teknik tombak sebagus ini setidaknya ia punya teknik tombak lainnya, jadi tiga atau lebih teknik beladiri.. Ahli beladiri tingkat lanjut? Mungkinkah aku harus mencobanya? Yu Jian tiba-tiba tertarik mencoba sesuatu.


Ia memperkuat kuda-kudanya. Mencampur kuda-kuda taekwondo dengan bentuk langkah awal teknik peringanan tubuh sekaligus mengumpulkan tenaga pada kakinya. Ia memfokuskan dirinya untuk menyerang satu titik, tongkat milik Hao Chen.


Yu Jian menutup matanya merasakan Qi yang mengalir dalam dirinya. Tubuhnya saat ini sudah cukup kuat untuk menggunakan Qi, ia menyalurkan kekuatan Qi keseluruh tubuhnya. Area di sekitar tubuhnya nampak mengeluarkan kilatan kecil dari petir berwarna biru. Saat ia membuka matanya, nampak perubahan menjadi warna biru gelap.


[Ikazuchi]


Yu Jian menguatkan seluruh tubuhnya dengan Qi petir. Ia segera maju dan menyerang Hao Chen yang sudah memposisikan dirinya dalam bentuk bertahan saat melihat Yu Jian mengeluarkan Qi petir. Saat menerjang ke depan tempat berpijak Yu Jian seketiak meninggalkan sedikit bekas hancur.


Dengan peringanan tubuh dan tubuh yang diperkuat Yu Jian melesat dengan cepat kearah Hao Chen. Ia memberikan serangan kuat kerah tongkatnya hingga terbelah dua. Serangan itu tidak langsung berhenti begitu saja saat tongkat hancur, serangan itu terus bergerak ke arah perut Hao Chen.


Meski begitu Hao Chen berhasil menghindarinya dengan refleks yang cepat, arena Yu Jian bergerak terlalu cepat ia tidak bisa mengontrol gerakannya. Saat menghindar Hao Chen sudah berada dalam posisi siap memberikan pukulan pada Yu Jian. Serangan itu mendarat ke arah perut sehingga Yu Jian terhempas sejauh tiga meter. Pertarungan pun berakhir dengan kemenangan Hao Chen


“Ah maaf, kau baik-baik saja Yu Jian.” Hao Chen mendatangi Yu Jian.


“Y- Ya, lumayan. Selain perutku sakit dan tubuhku terasa sedikit kebas.” jawab Yu Jian.


“Ya kau bertarung dengan cukup baik, meski pengalamanmu kurang kau memiliki pengamatan yang baik terhadap sekitar. Tapi itu tadi Qi? Kau sudah bisa menggunakan Qi dalam teknik beladiri mu?” Hao Chen menjulurkan tangannya.


“Begitulah.” Yu Jian mengambil kemurahan hati Hao Chen dan berdiri dengan bantuannya.


“Kurasa itu luar biasa. Kalau kau sudah bisa menggunakan Qi di teknik beladiri kurasa kau memang layak menempati posisi murid spesial!” seru Hao Chen sehingga setiap orang di arena dapat mendengarnya.


“Terima kasih pujiannya. Juga terima kasih sudah mau berlatih denganku.” Yu Jian tersenyum.


“Tentu saja, jika kau butuh partner datanglah padaku.”


Yu Jian pun membangun persahabatan dengan Hao Chen tanpa mengetahui Hao Chen merupakan murid spesial sepertinya.


_______


[Hadiah Penyelesaian Quest Penerimaan Sekte: Ikazuchi]


Teknik penguatan tubuh yang menambahkan kekuatan serangan dan kecepatan dengan menyelimuti tubuh penggunanya dengan Qi petir.