Level Up! Martial Technique

Level Up! Martial Technique
Ia Yang Kini Dipanggil Qilin [4]



Angin sepoi-sepoi berhembus di Sekte Azure. Suhu panas dari musim panas sudah mulai menurun selama beberapa minggu ini, menandakan musim akan segera berganti. Yu Jian nampak menikmari waktunya sambil berjalan di jalan setapak sambil mencoba menyerap Qi sambil berjalan.


“Sial, olahraga fisik dan menyerap Qi di satu waktu sangat sulit. Tapi mau bagaimana lagi, ini cara cepat memperbesar kolam Qi ku yang kecil karena di usia muda tidak menyerap Qi dan memperbesar kapasitasnya.” keluh Yu Jian.


Pada umumnya anak-anak yang akan menjadi ahli bela diri akan mulai melatih fisik mereka sejak kecil. Setelah itu menyerap Qi karena pada usia tersebut kolam Qi lebih mudah berkembang. Disisi lain Yu Jian melewati periode itu karena menjauh dari dunia bela diri.


Selain berusaha memperluas kapasitas kolam Qi miliknya, Yu Jian tetap melakukan rutinitasnya. Melatih dan memperkuat fondasi fisik di pagi hari, memperdalam teknik taekwondo dan karate sampai di tahap mahir, dan saat malam hari menyerap Qi.


Sambil terus berjalan sekaligus menyerap Qi, Yu Jian tidak sadar jika ia sudah sampai di tujuannya. Nampak bangunan tua yang masih kokoh dihadapannya. Tingginya setara dengan bangunan empat lantai, itu adalah perpustakaan beladiri Sekte Azure. Yu JIan melangkah masuk untuk pertama kalinya ke tempat itu.


Ia mendapati rak-rak dan tumpukan buku beladiri tersusun dengan rapi. Beberapa terlihat tergeletak dan berserakan di lantai karena sedang digunakan oleh beberapa murid untuk belajar teknik beladiri. Secara garis besar tempat itu adalah tempat yang rapi.


Lantai pertama dibuka untuk umum dan bisa diakses siapapun. Lantai kedua diberikan hanya pada mereka yang memiliki 50 poin tukar sekte, poin ini diperoleh dari penyelesaian misi sekte atau prestasi. Lantai tiga hanya bisa diakses oleh mereka yang menjadi murid spesial. Lantai keempat hanya bisa digunakan oleh guru, tetua,ketua sekte. Namun lantai keempat memiliki beberapa pengecualian dengan izin khusus.


Yu Jian melewati lantai pertama dan berjalan menuju tangga untuk pergi ke lantai tiga. Saat ia berada di lantai dua ia tidak langsung dihadapkan dengan akses tangga menuju lantai tiga sehingga ia berkeliling terlebih dahulu.


Saat ia menemukan lantai tiga ia langsung bergegas naik tanpa melihat terlebih dulu teknik di lantai itu. Lantai tiga dipenuhi dengan teknik-teknik beladiri tingkat lanjut. Teknik pedang, tombak, cambuk, penguatan tubuh, greatsword, formasi, talisman, bahkan seni beladiri suara.


Meski sudah berada disana selama beberapa menit namun Yu Jian tidak menemukan buku yang nampak menarik sama sekali. Ia kemudian teringat akan perkataan Yi Wei yang mengharuskannya memperkuat fondasinya lebih jauh lagi. Jadi Yu Jian pun memutuskan untuk pergi ke lantai dua.


Saat baru sampai di lantai dua, Yu Jian tidak sengaja menabrak seseorang yang tingginya hanya sedagunya. Itu adalah penampilan yang sudah tidak ia temui sejak masuk ke sekte ini. Celana jeans, kaos putih dan sebuah jaket. Nampak juga rambut panjang berwarna pirang itu yang sekaan-akan membuat Yu Jian teringat gadis-gadis yang ada di dunia lamanya. Sejak bereinkarnasi ia baru pertama kali melihat seorang gadis yang menerapkan effort sebanyak itu dalam berpakaian bagai anak populer.


“Aduh,maaf. Wah… Qilin. Aku penggemarmu loh!”


Gadis itu meraih lengan Yu Jian dan menyalaminya dengan penuh energi. Benar-benar mirip dengan gadis serba ceria dari dunia modern.


“Qi- Qilin? Juga kenapa kau menjadi penggemarku?” Yu Jian bingung.


“Qilin… Maksudku, kau Yu Jian dari kota Yang bukan? Yu Jian yang mengembangkan standar berpakaian baru disana? Aku sangat-sangat menyukai inovasi yang kau lakukan.”


Salaman diantara keduanya semakin intens sampa-sampai Yu Jian merasa tangannya akan copot jika ia terus membiarkannya. Yu Jian segera menarik tangannya dan menjaga jarak dari gadis itu.


“O- Oh, begitu ya. Baguslah jika kau suka.”


“Benar juga, tidak sopannya diriku. Perkenalkan, namaku Xia Wu, murid tingkat 1.” gadis itu memperkenalkan dirinya.


“Kau mungkin sudah tahu, tapi namaku Yu Jian. Salam kenal juga.”


Gadis itu tidak berhenti sampai situ saja. Ia mengikuti Yu Jian dan bertanya seputar perkembangan gaya berpakaian yang Yu Jian bawa ke kotanya. Sampai-sampai Yu Jian tidak fokus mencari teknik beladiri yang ia butuhkan. Pada akhirnya Xia Wun tidak melepaskannya begitu saja dan nampak semakin tertarik. jadi Yu Jian memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan berbicara dengan Xia Wu.


Keduanya berjalan keluar dari perpustakaan dan berjalan kemanapun kaki keduanya melangkah. Xia Wu benar-benar aktif dan menggambarkan gadis yang memiliki rasa penasaran seperti kucing. Meski awalnya terganggu semakin ia berbicara semakin Yu Jian sadar keduanya memiliki visi yang sama di bidang fashion.


“Ah… Akhirnya ketemu juga! Aku sudah lelah kesana kemari seperti tupai dan menghancurkan beberapa atap saat sedang melompat mencarimu.”


Seorang gadis lainnya muncul, tingginya kini sepantaran dengan bagian telinga Yu Jian. Penampilannya agak mengejutkan Yu Jian. Pakaiannya nampak sedikit terbuka pada bagian bawahnya, mirip seperti baju beladiri dengan bagian rok diatas lutut. Terlihat juga sebuah pedang bergantung di bagian samping tubuhnya. Seperti perpaduan dari baju khas ahli beladiri dan keterbukaan baju modern.


“Ada apa Li Jia?” tanya Xia Wu.


“Ada apa maksudmu? Aku ini bertugas mengawalmu.” balas Li Jia.


“Li Jia? Ah Li Jia, kamu adalah orang yang membantuku bersama hao Chen saat itu ya?” Yu Jian berusaha memastikan.


“Mayoritas penyelamatanmu dilakukan olehku sebenarnya, tapi ya itu aku.” Li Jia tidak suka Hao Chen dimasukan dalam orang yang ikut berkontribusi disaat hanya dirinyalah yang membawa Yu Jian di punggungnya.


“Kalau begitu aku ingin berterima kasih atas bantuanmu saat itu. Kau bisa memanggilku jika kau butuh bantuan.” Yu Jian menawarkan jasanya.


Li Jia tidak langsung menjawab tawaran Yu Jian itu. Ia hanya tersenyum saat Yu Jian mengatakan hal itu.


“Kalau begitu… Aku sedang membutuhkan lawan untuk latihan teknik beladiri ku. Yu Jian mau membantuku kan?” Li Jia langsung menggunakan tiket yang Yu Jian berikan padanya saat itu juga.


“Eh duel? Ya kurasa tidak masalah, demi penyelamat hidupku.”


Li Jia pun langsung menarik lengan Yu Jian dan dengan teknik peringan tubuhnya ia bergerak menyeret Yu Jian menuju arena latihan dan melakukan duel. Tarikannya begitu kuat sehingga Yu Jian tidak percaya itu keluar dari tubuh sekecil itu. Li Jia juga meninggalkan Xia Wu yang seharusnya ia jaga saat ini.


Begitu sampai di arena, hal yang pertama Li Jia lakukan adalah melempar Yu Jian keatas arena dengan keras dan menendang jatuh semua orang yang sedang berlatih di arena seenaknya. Yu Jian memegangi kepalanya yang terbentur di arena itu, kini ia mempertanyakan keputusannya dalam menerima duel ini.


“Baiklah! Kalau begitu bersiap, kita akan mulai. Tiga… Dua… Satu… Mulai!” Li Jia memulai tanpa membairkan Yu Jian benar-benar bersiap.


Dengan pedang kayu ditangan kanannya Li Jia mengarahkan tebasan pada perut Yu Jian. Sontak Yu Jian menghindarinya secepat yang ia bisa. Namun saat menghindar ke samping, arah serangan dari pedang Li Jia dengan cepat berubah arah dan mengenai perutnya.


Yu Jian terhempas sejauh lima meter dalam keadaan bisa mempertahankan keseimbangannya. Belum selesai memproses situasi Li Jia sudah ada dihadapannya lagi. Kali ini ia menyerang Yu Jian dengan beberapa serangan sekaligus. Yu Jian hanya berhasil menghindari salah satunya saja dan sisanya berhasil mendarat di tubuhnya.


Seluruh tubuh bahkan tulang Yu Jian terasa menjerit saat Li Jia berhasil mendaratkan satu serangan pada dirinya. Yu Jian tidak bisa mengatasi serangan Li Jia yang cepat dan brutal itu dengan kondisinya sekarang. Li Jia bahkan tidak membiarkan Yu Jian melakukan kuda-kuda atau bersiap memberikan serangan. Karena fondasi taekwondo dan karatenya memerlukan kuda-kuda sebelum dilepaskan, Yu Jian yang kalah dari segi kecepatan merasa dirugikan.


“Kurasa dari segi kekuatan murni dia mampu melawan tiga atau lebih diriku sekaligus.”


Yu Jian membiarkan beberapa serangan mengenainya semntara dirinya fokus mengalirakn Qi keseluruh tubuhnya. Yu Jian menggunakan ikazuchi untuk memperkuat fisik dan kecepatannya. Berkat hal itu Yu Jian berhasil menghindari serangan yang datang  dan memberikan pukulan pada Li Jia.


Dengan pedang kayu ditangannya Li Jia berhasil menangkis dan memberikan serangan balik. Yu Jian memutuskan untuk mengambil langkah mundur dengan peringanan tubuhnya. Pada saat ini kecepatan Yu Jian berada diatas angin jika dibandingkan dengan Li Jia.


“Kau sepertinya semakin serius ya? Kalau begitu aku juga akan mengeluarkan sedikit lebih banyak kemampuanku.”


Li Jia memunculkan Qi di telunjuk dan jari tengahnya, ia menyebarkan Qi di jarinya itu ke pedang kayu miliknya. Li Jia menggunakan teknik lapisan Qi pada pedangnya untuk memperkuat kerusakan yang bisa dihasilkan senjatanya.


Ia tersenyum lebar seperti menikmati situasi ini dan maju dengan cepat kearah Yu Jian. Li Jia menggunakan teknik yang jauh lebih cepat dari yang sebelumnya. Serangan yang diberikan semakin acak akrenas aat serangannya meleset ia langsung membelokan arah serangannya.


“Sial cepat sekali. Juga berapa banyak staminanya? Membelokan arah serangan terus menerus jelas-jelas menguras banyak tenaga!” keluh Yu Jian sambil memberikan serangan balik.


Daripada melawan Li Jia, Yu Jian memutuskan untuk menyerang pedang kayu miliknya saja. Yu Jian mengarahkan serangannya menuju pedang kayu pada titik yang sama untuk menghancurkannya. Denagn begitu Li Jia tidak dapat berbuat apa-apa saat pedangnya patah. Setelah beberapa serangan kuat dari Yu Jian pedang kayu Li Jia pun patah.


Senyum Li Jia semakin lebar seakan-akan ia sedang menunggu momen ini. Saat Yu Jian mengendorkan kewaspadaan karena pedang Li Jia sudah patah, Li Jia meraih baju Yu Jian dan menariknya ke arahnya. Li Jia lalu melayangkan pukulan tepat kerah Yu Jian, berkali-kali tinju itu menghajar wajahnya.


Setelah beberapa tinjuan, sama seperti pedang Li Jia, Yu Jian tidak sanggup memeprtahankan teknik iazuchi pada dirinya. Padahal itu hanyalah sebuah pukulan baisa dengan kekuatan fisik murni tanpa Qi. Namun Yu Jian merasakan pukulannya hanya sedikit dibawah serangannya saat menggunakan teknik ikazuchi.


“Time out…” kata Yu Jian tidak jelas.


“Hah? Aku tidak dengar?”


Saat Li Jia hendak melayangkan pukulannya lagi kearah Yu Jian, Hao Chen datang dan menahan Li Jia dan menariknya menjauh. Di Luar arena nampak Xia Wu yang datang sambil membawa Yi Wei.


“Sudah hentikan! Yu Jian bisa-bisa pingsan jika lebih dari ini!”


“Heh… Tapi aku masih mau meg- berlatih dengan Yu Jian lebih lama lagi.”


“Apa menurutmu menyenangkan menghajar orang yang baru mempelajari ulang beladiri selama satu bulan?!” Hao Chen melepas pegangannya dari Li Jia.


Li Jia nampak cemberut karena pertarungannya dengan Yu Jian berhenti begitu saja. Disisi lain Yu Jian nampak lega dengan wajah yang bengkak setelah dijadikan samsak tinju oleh Li Jia.


“Kau seharusnya lebih menahan diri.”


“AKu hanya mau mencoba orang yang dijuluki Qilin. Tapi dia luar biasa, jika itu kau kau sudah pingsan di pukulan ketigaku. tapi Yu Jian bisa menahan tiga belas kali pukulanku.” Li Jia senang.


“Ti-! Yu Jian, setelah ini aku akan mentraktirmu makan di kota dibawah sebagai bentuk minta maaf atas perbuatan tunanganku ini.” Hao Chen menutup matanya dengan tangan kanannya sambil mengarahkan kepalanya kelangit.


“O.. Oh… Wentu waja. Wika waku wisa wakan dengwan kwondwisi sekwuawang.” kata Yu Jian yang bibirnya sudah membengkak. Disebelahnya Yi Wei tengah mengolesi Yu Jian dengan obat.


Hao Chen pun membantu Yu Jian berdiri dan bersama dengan Li Jia, Yi Wei, dan Xia Wu pergi keluar sekte dan makan di kota yang bisa ditempuh hanya dengan turun lembah saja.


***


Yu Jian Kami!


“Kurasa aku tidak bisa membiarkan Yu Jian terlalu sering sendiri. Terlalu banyak orang gila di sekte ini.” kata Yi Wei dalam hati.


“Aku benar-benar merasa bersalah dengan Yu Jian. Ia benar-benar dihabisi oleh Li Jia.” kata Hao Chen dalam hati.


“Yu Jian ini benar-benar lemah, tapi ia memiliki potensi dan daya tahan yang layak dipoles.” kata Li Jia.


“Yu Jian adalah panutanku dan pencetus fashion yang revolusioner.” kata Xia Wu.


Apapun yang terjadi aku —kami— harus melindungi Yu Jian —kami. ucap Yi Wei, Hao Chen, dan Xia Wu dalam hati disaat yang sama.


*Aku harus lebih sering bermain dengan Yu Jian*! Li Jia memutuskan mengambil jalur yang berbeda dengan ketiga orang lainnya


Disisi lain saat menunggu makanan datang Yu Jian yang tidak tahu kalau keempatnya memiliki pemikirannya sendiri, secara diam-diam memberikan Qi miliknya pada Yi Wei yang tengah mengobatinya. Hal ini ia lakukan karena Yi Wei melarangnya terlalu sering memberikannya Qi miliknya jika tidak diminta karena kondisi darurat yang membutuhkan Qi mungkin saja terjadi.


_______


Sekte-sekte di dunia ini menerapkan sistem 3 tingkat dan 1 tingkat spesial dalam pembagian murid-muridnya. Tingkat 3 murid luar, tingkat 2 murid dalam, dan tingkat 1 murid inti. Diluar 3 tingkat itu ada kelas atau tingkat spesial yang menjadi penempatan khusus.