KONOHA HIDEN

KONOHA HIDEN
KEHIDUPAN SEHARI HARI 2



Tenten mempelajari taijutsu dengan keras di bawah pengawasan Gai, dan dia melakukannya dengan baik. Tetapi, Lee dan Neji juga berlatih bersamanya, dan Tenten kemudian menyadari bahwa dia tidak akan mencapai level stamina dan kemampuan fisik mereka.


Tim Gai memiliki kemampuan taijutsu yang paling tinggi di seluruh desa, dan karena berlatih di bawah pengawasan Gai dan berlatih bersama Lee dan Neji, level taijutsu Tenten telah mencapai titik dimana kemampuannya berada di atas shinobi lain, kecuali teman-teman satu timnya.


Di tengah-tengah latihannya, sebagian dari Tenten tanpa disadari membandingkan dirinya dengan Lee atau Neji, atau bahkan Gai.


Akulah yang kemampuannya paling buruk di tim ini.


Itu adalah pikiran yang mengganggu Tenten dalam setiap detik latihannya.


Akan tetapi, pikiran itu yang telah memacu dirinya menuju jalur yang unik.


Gai dan yang lainnya dapat menghancurkan batu besar dengan satu pukulan. Tenten tidak memiliki kemampuan yang bisa membuatnya melakukan hal itu dengan tangannya sendiri.


Itulah mengapa dia mempersenjatai tangannya dengan kunai.


Supaya dia bisa mengimbangi Lee dan Neji. Supaya dia bisa berjalan di samping mereka.


-


Pada waktunya, Tenten akhirnya menyempurnakan kemampuan Jikkukan Ninjutsu-nya, dan mempelajari bagaimana men-summon berbagai jenis senjata ninja menggunakan gulungan.


Ketika saatny atiba, juga karena Tenten yang menghabiskan hari-harinya dengan mempelajari berbagai senjata, Tenten menjadi begitu terpesona dengan daya tarik senjata ninja. Dia memandang senjata yang ada di tangannya dua kali, dan terkagum-kagum pada keindahan benda-benda itu.


Dulu sewaktu di akademi, teman sekelas perempuannya mengatakan bahwa kunai itu biasa dan membosankan. Sama sekali tidak menarik. Justru karena kunai itu biasa dan membosankan maka benda itu begitu mempesona.


Tenten tidak mengatakan pendapatnya waktu itu, tapi dirinya yang sekarang bisa mengatakannya. Bagaimanapun, dirinya yang sekarang terus berlatih dengan tujuan menjadi pengguna senjata nomor satu. Seluruh pikirannya diabdikan pada senjata ninja lebih daripada yang lain.


Bahkan pisau yang paling sederhana punya sisi yang mempesona.


Ninjutsu dan Genjutsu, dan bahkan Taijutsu, tak satupun yang bisa mengalahkan keindahan senjata ninja.


Tentu saja, ketika Tenten mengutarakan pendapatnya, bukan berarti dia memaksa semua orang untuk memiliki pemikiran yang sama dengannya.


Dia mengekspresikan apa yang dirasakannya dengan tindakan, bukan perkataan. Melihat kunainya melesat menembus targetnya, contohnya, jauh lebih baik daripada penjelasan lewat kata-kata. Itulah yang Tenten pikirkan.


Tapi dia harus memastikan bahwa tujuannya besar, atau semua kerja kerasnya tidak ada artinya. Itulah mengapa Tenten tidak pernah bolos dalam melatih ketrampilan dasarnya. Setiap hari, dia diam-diam memoles senjatanya, mempersiapkannya untuk latihan,dan membidik targetnya.


Lee dan Neji…Tenten melihat kerjakeras dan talenta mereka lebih dekat dari yang lain, dan merekalah yang menjadi alasan mengapa dia selalu berusaha keras dalam latihannya. Tidak peduli seberapa kuat mereka nantinya, mereka tidak akan mengabaikan kemampuan dasar mereka.


Itulah alasannya…


Meskipun ketrampilan dasar ini adalah hal yang bisa dilakukan semua orang, yang semua orang bisa lakukan selama mereka memiliki insting yang bagus, meskipun jika mereka tidak sering berlatih, meskipun begitu, Tenten masih terus berlatih berpuluh-puluh hingga beratus-ratus kali, mengulanginya lagi dan lagi.


Di pertempuran yang sebenarnya, target itu tidak hanya diam. Tenten tidak mungkin membidik sambil berdiri diam. Jika kalian berdiri diam, maka kalian akan mati.


Tapi Tenten masih terus berlatih melempar kunai ke tengah-tengah targetnya.


Pada akhirnya dia terus melempar kunai beratus-ratus kali, mengulang gerakan itu lagi dan lagi, dan kemudian hasilnya…


Alhasil, meskipun saat targetnya bergerak dengan gerakan yang kompleks, seketika itu juga, dia bisa merasakan seolah mereka diam. Baik kunai maupun shuriken, benda-benda itu melayang dari tangannya dan tepat mengenai sasarannya seolah target itu memanggil mereka.


Untuk terus berlatih ketrampilan dasar yang semua orang bisa lakukan, setiap hari, tanpa sekalipun bolos latihan, mengulang dan mengulang lagi…itu adalah dedikasi yang tidak semua orang bisa lakukan. Dunia bahkan mengetahuinya.


Dan latihannya yang penuh dedikasi itu akhirnya membuahkan hasil. Kemampuannya meningkat sampai taraf dimana jika kalian bertanya pada teman-temannya siapa pengguna senjata terbaik, mereka pasti segera menjawab “Jelas saja, Tenten.”


Itu adalah hasil yang normal dari kerja kerasnya, tapi itu adalah sesuatu yang membuatnya sangat senang. Tentu saja, dia juga merasa bangga. Tapi hari ini, membaktikan seluruh dirinya pada persenjataan ninja membuatnya sedikit berada dalam masalah.


*


“Argh- ini- aku tidak bisa memikirkan apapun!”


Bunyi debam yang keras ‘ZUGAGAGAGA’ mengiringi kekesalan Tenten, dan sekumpulan shuriken berdebam ke targetnya, suara keras menggema di tempat latihan yang kosong itu. Dia dikelilingi oleh target yang sudah dipenuhi kunai dan shuriken. Tentu saja, tidak ada satupun yang meleset.


Saat Tenten pertama kali mendengar tentang pernikahan itu, dia segera berpikir pada dirinya, ‘Baiklah, aku akan memberikan mereka beberapa custom-made kunai!’


Dia sudah membuat keputusannya, merasa puas, dan dengan itu seharusnya semuanya sudah selesai.


Akan tetapi, malam itu …


Tenten sedang berbaring di futon-nya, menerawang ke langit-langit. Dia sudah hampir tertidur ketika sesuatu terbesit di pikirannya:


Selain kunai, apalagi ya yang bagus menjadi hadiah?


Tenten terkejut saat dia tiba-tiba tidak bisa memikirkan apapun. Akhirnya dia menghabiskan malam itu dengan penuh rasa gelisah karena tidak bisa menemukan jawabannya.


Berkat kejadian itu, dia tidak tidur sedikitpun.


Menguap, Tenten bergerak untuk mengumpulan shuriken dan kunainya dari target-target tempat benda-benda itu tertanam.


Ada banyak sekali tiang kayu yangtertanam di tempat latihan yang sering Tenten datangi. Beberapa tingginya sama seperti manusia. Pengguna lain biasanya menggunakan tiang kayu untuk berlatih taijutsu, untuk memukul dan menendang. Sedangkan Tenten menggunakan tiang kayu itu untuk mengikat target-target yang dibawanya.


Dia menuju ke target-target itu, dengan cepat dan kuat menarik semua kunai dan shuriken yang tertanam satu persatu. Untuk sesaat, dia mengulangi gerakan itu pada setiap target, sambilm emenuhi otaknya dengan beberapa ide.


Dia tidak lagi berpikir untuk membeli senjata sebagai hadiah, kunai, atau yang lainnya. Rentetan pikirannya sudah mengeliminasi pilihan itu.