
Meskipun jalanan di Konoha penuh aktivitas, tempat dimana Shikamaru dan Temari berdiri ntah kenapa terasa sepi. Seperti ada penghalang di sekitar mereka. Mereka berdua terdiam.
Shikamaru terlalu takut untuk melihat Temari.
“Uh…” Bibirnya bergerak tanpa komando. “Bagaimana aku harus…apa yang mau kau lakukan?”
Itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Aku ini idiot.
Tapi, kemudian…
Shikamaru tiba-tiba merasakan tarikan di lengan bajunya.
“…Kita bisa pergi.” Ucap Temari pelan, tidak melihat ke arahnya.
*
Kenapa atmosfernya jadi seperti ini?
Beberapa saat ini, Shikamaru dan Temari sedang menuju Perkampungan Air Panas Konoha.
Dalam perjalanan, mereka tidak banyak bicara.
Shikamaru mencoba memulai obrolan kecil untuk melihat reaksi Temari, tapi responnya pendek dan singkat, dan atmosfer yang meresahkan di antara mereka terus berlanjut.
Kenapa suasananya jadi menegangkan begini…?
Shikamaru mengalihkan pandangannya sehingga matanya tidak bertemu dengan mata Temari, merasakan keringat mengucur di dahinya. Dia mencoba menganalisa situasi secara objektif.
Untuk memulainya, tidak biasanya dia dan Temari hanya pergi berdua. Yah, sebenarnya itu biasa. Dulu, dia memandu Temari mengelilingi desa, dan mereka ikut dalam berbagai rapat dan bekerja bersama. Dia bahkan keluar dari sifat biasanya dan mengajaknya berkencan.
Yah, dia bilang kencan, tapi pada akhirnya mereka melakukan hal yang sama seperti biasanya, membicarakan hal-hal ringan hingga tiba-tiba membicarakan pekerjaan tanpa sadar- tapi tetap saja, waktu itu, tidak ada sama sekali ketegangan seperti sekarang.
Kebalikannya, kencannya itu tidak buruk sama sekali.
Kendati itu semua, kenapa hari ini terasa begitu menegangkan? Kenapa atmosfernya begitu kaku? Kenapa Temari tidak berbicara padanya?
Shikamaru mati-matian memeras otaknya untuk mencari jawaban.
Kemungkinan besar sebenarnya Temari merasa muak karena harus mengurusi hal yang merepotkan ini. Shikamaru sebelumnya bertanya soal rencananya hari ini, dia bilang tidak ada, maka dari itu dia merasa segan untuk menolak ajakan Shikamaru, jadi dia merasa kesal karena direpotkan dengan apa yang harus dilaluinya sekarang. Itulah kenapa dia berbeda hari ini. Itulah kenapa dia tidak bicara banyak.
Tapi, kalau kau lihat akar permasalahannya, semuanya adalah salah Chouji. Chouji dan perutnya yang tiba-tiba menginginkan kastanye manis. Dan yang lebih lagi, salah Chouji juga karena saran ‘lebih baik kalian sendiri saja yang mengeceknya’-nya dan kemudian menghilang. Jika saja dia tidak melakukan hal itu, maka saat ini dia dan Shikamaru, atau Shikamaru sendiri, yang akan pergi mengecek beberapa penginapan.
Aku tidak pernah mengira kalau aku akan kesini bersama Temari…
Itu adalah hal yang tidak pernah terbayangkan olehnya akan terjadi pagi ini. Dia tidak pernah mengira akan makan yakiniku bersama Chouji, dan kemudian bertemu Temari, dan berakhir pada situasi seperti ini.
Mungkin banyak yang bilang soal “shinobi harus melihat ke balik yang ada di balik” tapi ini bukanlah sesuatu yang siapapun bisa perkirakan. Ya ampun, dunia ini memang tidak terprediksi.
Sumbernya adalah daerah vulkanik Konoha di atas sana. Kuantitas air panas yang cukup besar mengalir ke daerah ini, begitu banyak sehingga dulu tempat ini terkenal sebagai area penyembuhan bagi shinobi yang terluka. Sekarang tempat ini terkenal sebagai lokasi yang menarik bagi turis dari dalam maupun luar desa.
Mereka berpapasan dengan banyak turis dalam perjalanan mereka.
Kebanyakan turis biasanya mengenakan yukata, dengan sandal kayu geta atau sandal bersol kulit, dan pakaian yang terbordir nama penginapan atau tempat mereka menginap. Itu seperti dresscode yang umum di kota ini. Rasanya senang mengunjungi tempat ini, atau hanya berjalan-jalan.
Kesehatan dan hiburan. Kota itu berkembang dengan mengkombinasikan dua hal itu, dan banyak hal lagi selain penginapan disana. Restoran, tempat bermain, toko souvenir, dan berbagai jenis toko berderet disana. Sisi indah lainnya juga bisa dinikmati dengan berjalan-jalan mengelilingi kota itu.
Shikamaru danTemari sudah melewati banyak toko. Kebanyakan teras toko menjajakan keranjang berisi deretan daging pangsit yang dimasak dengan uap air panas, kelihatan enak dan menggiurkan. Toko souvenir menjual kartu pos dan pahatan kayu untuk para turis, ada juga peralatan shinobi. Dimana-mana, kalian bisa melihat banyak kantong dan botol yang terisi dengan air panas. Air panas adalah sebuah sumber daya yang sangat berharga sebagai sumber pendapatan bagi kota ini.
Shikamaru sedang mencari penginapan untuk dilihat di antara seluruh bangunan di sana. Matahari sudah bergerak ke arah barat, dan tidak lama lagi, malam akan tiba.
Lentera di depan toko-toko dan gedung-gedung mulai menyala satu per satu. Cahaya mereka adalah satu-satunya penerangan di kota itu saat malam datang, pemandangan lentera di tengah kegelapan dan gumpalan uap yang meliputi kota itu sangat menakjubkan.
“Indah sekali…” Gumam Temari.
“Yeah…” Shikamaru menyetujuinya. Kemudian menghadap ke arah Temari. “…Hey, kita sudah bersusah payah ke tempat ini, jadi bagaimana kalau kita ke pusat perbelanjaan disini?”
Temari akhirnya berbicara atas kemauannya sendiri ketika dia mengomentari pemandangan itu. Pemandangan indah kota itu tampaknya mengendurkan suasana tegang mereka. Shikamaru ingin mengambil kesempatan untuk menyingkirkan ketegangan itu sepenuhnya. Bagaimanapun, mereka bersusah payah datang kemari. Mereka tidak akan dihukum karena mengunjungi satu atau dua toko, kan.
“Kau benar.” Ucap Temari, melihat sekeliling. “Kalau begitu…bagaimana dengan toko itu?”
Toko yang ditunjuknya adalah sebuah toko kecil, dengan papan yang tertulis ‘latihan membidik’ di depannya. Tampaknya itu adalah sejenis tempat dimana mereka memberikanmu tiga kunai kayu untuk dilempar ke arah hadiah di rak-rak yang disediakan, dan jika kau bisa mengenai hadiah itu, kau bisa memillikinya.
“Kau yakin mau mencobanya?” Tanya Shikamaru.
“Yeah. Aku mau mencoba yang seperti itu sekali.”
Aku tidak mengerti, tapi tampaknya semangatnya sudah kembali normal…
Mata Temari berbinar saat dia merunduk melewati papan kayu di depan pintu masuk toko itu,dan Shikamaru merasa lega saat melihatnya. Dia mengikutinya masuk.
Di dalam toko itu ternyata sangat ramai.
Kalau dilihat-lihat, pelanggan di sana kebanyakan pasangan kekasih, banyak sekali pria dan wanita muda. Untuk alasan tertentu, Shikamaru kembali tidak bisa menguasai dirinya.
Temari sudah mengambil kunai kayu dan melemparnya. Kunai itu tidak mengenai target hadiahnya, meleset ke kegelapan di baliknya. Dia mengambil kunai kayu yang lainnya, dan melemparnya sekali lagi. Kali ini, bidikannya malah sangat, sangat jauh meleset.
“Hm?” Temari memiringkan kepalanya bingung.
“Oi, oi, ada apa?” Tanya Shikamaru. “Jarang-jarang bidikanmu meleset.”
Lupakan permainan target itu, bagi Shikamaru dan Temari, memegang kunai adalah kehidupan sehari-hari mereka. Dan lebih lagi, kunai yang asli. Tidak mungkin lemparannya meleset dua kali.
UPDATE NYA , 5 HARI LAGI YAA :)