KONOHA HIDEN

KONOHA HIDEN
CHAPTER 3 BAGIAN 3



“Apa yang kalian berdua bicarakan?” Temari melihat mereka ragu. “Kalian terlihat mencurigakan.”


Dia harus cepat-cepat memperbaiki suasana itu tapi—


“Shikamaru mau bertanya sesuatu padamu.”


Tapi Chouji sudah bertindak duluan.


“Ahh…kau…” Shikamaru menjadi bingung saat Temari mengalihkan pandangan padanya.


Dia tidak mungkin mengatakan sesuatu seperti ‘tidak masuk akal bagiku jika menanyakan soal merencanakan sebuah bulan madu padamu, kan?’. Tidak ada pilihan lagi selain berterus terang.


“Ah, itu, maksudku…” Dia masih tergugup.


Untuk alasan tertentu, dia merasa nervous. Shikamaru ntah kenapa merasa malu. Dia bahkan tidak sanggup melihat mata Temari. Akhirnya, kata-kata itu terlompat dari mulutnya:


“…Aku sedang memikirkan soal ini, tapi, untuk sebuah bulan madu, dimana tempat yang bagus menurutmu?”


“Eh?!” Temari mengeluarkan suara terkejutnya.


“Apa?!” Karena terkejut akan reaksi Temari, Shikamaru bisa melihat ke wajah Temari sekarang, menatapnya.


“Kau- it- bu-bulan madu…?!”


Temari tidak melihat ke arahnya.


Nah kan, dia benar, menanyakan hal itu pada temari sangatlah tidak sopan dan menghina. Tentu saja Temari akan kesusahan jika diminta memilih hadiah pernikahan untuk Naruto dan Hinata. Bahkan Shikamaru sendiri kesusahan, padahal dia teman sekelas mereka…


Ugh, Chouji, kau harusnya tidak usah turun tangan. Shikamaru memelototi pria itu penuh dendam dan komentar di lidahnya. Chouji berpura-pura tidak sadar dan mengalihkan pandangannya pada jendela toko.


Sambil memelototi pria itu, Shikamaru mencoba untuk mengubah situasinya.


Hasil akhirnya adalah masalah itu sudah selesai, jadi mungkin dia bisa mendengar pendapat Temari.


“Maaf.” Shikamaru meminta maaf. “Aku tahu ini mendadak, tapi aku mau mendengar pendapatmu.”


“Ke- kenapa bertanya so- soal itu padaku?” Temari terlihat begitu bingung dan panik. Hal itu sangat bisa dimengerti.


“Yah, kurasa menanyakan padamu adalah yang terbaik…”


Yah, dia tidak bisa bilang ‘siapapun bisa kutanya selama mereka adalah wanita’ saat Temari terlihat seperti mempertimbangkannya dengan serius. Itu akan jadi sangat tidak sopan. Bahkan Shikamaru tahu itu.


“Be-bertanya padaku adalah yang terbaik…” Ulangnya.


Untuk alasan tertentu, Temari menunduk dan terlihat sangat gelisah. Shikamaru yakin kalau itu karena dia merasa kerepotan dengan pertanyaannya. Ini tidak bagus. Dalam keadaan ini, tidak akan ada progres. Akan lebih baik kalau Shikamaru mengutarakan pendapatnya lebih dulu.


“Aku rasa bulan madu dengan bersantai di penginapan dengan pemandian air panas itu bagus, tapi bagaimana menurutmu? Tidakkah itu terdengar kuno?”


“A…aku rasa tidak apa-apa…”


“Ah, baguslah. Aku senang. Penginapan dengan pemandian air panas dengan makanan yang enak adalah yang terbaik, huh.”


Temari menyetujui idenya. Shikamaru merasakan kekhawatirannya sirna. Dia merasa khawatir sepanjang pagi, dan sekarang akhirnya dia bisa tersenyum lega. Itu akan jadi hadiah pernikahan yang bagus untuk Naruto dan Hinata.


Temari, di sisi lain, tampak seperti terganggu ketenangannya.


“Jangan bilang kau masih ada urusan…?” Tanya Shikamaru.


Sepertinya begitu. Bagaimanapun Temari kesini karena ada urusan. Dia mungkin terganggu karena Shikamaru terus membuatnya sibuk dengan konsultasi ini.


“…?”


Dia tidak punya tugas lain yang harus diurus, tapi dia tampak gelisah. Shikamaru memiringkan kepalanya, bingung akan respon Temari. Temari bertingkah aneh hari ini. Apa yang menyebabkannya begitu…?


“Sebaiknya melihat langsung penginapannya, kan?” Saran Chouji, dan Shikamaru menarik dirinya dari lamunannya untuk berkonsentrasi lagi ke masalah hadiah itu.


“Itu benar.” Shikamaru mengangguk. “Sebaiknya pergi dan mengecek langsung secepatnya.”


“Ini masih cukup pagi, jadi pergi hari ini lebih baik, kan?”


“Yeah. Sepertinya itu yang terbaik.”


“Kalau begitu,” ucap Chouji, “Aku mau pergi mencari kastanye manis, jadi kalian berdua saja yang pergi.”


“Eh?!” Shikamaru dan Temari berseru bersamaan.


Kebingungan, Shikamaru melihat ke arah temannya.


“Cho-Chouji…! Apa maksudmu kau tidak ikut…?!”


“Mmm, maaf Shikamaru. Aku harus makan dessert setelah makan makanan berat.”


“Kau baru saja memakannya!”


“Aku punya ruang terpisah untuk dessert.”


“Aku bilang, kau baru saja makan dessert!”


Sambil mereka saling membantah, Shikamaru melirik Temari. Dia mungkin juga marah pada keegoisan Chouji yang tiba-tiba, karena wajahnya sekarang perlahan memerah.


Oi, oi, oi, ini bukan waktunya bercanda. Chouji, ubah keputusanmu. Wanita itu tidak seharusnya dibuat marah, itu akan menjadi situasi yang merepotkan, aku sudah mempelajarinya sejak kecil!


Shikamaru mati-matian mencoba berkomunikasi dan memohon dengan matanya, tapi Chouji tidak mengubah keputusannya.


“Kau akan melakukan survey bulan madu kan, jadi lebih baik kalian sendiri saja yang mengeceknya.”


Chouji mengatakan itu sambil tersenyum lebar.


Rasanya itu terlalu masuk akal untuk dibantah Shikamaru. Siapapun akan setuju bahwa akan lebih masuk akal jika yang memeriksa penginapan itu adalah seorang wanita dan seorang pria, dibanding dua orang pria. Dengan begitu, kau bisa melihatnya dari sudut pandang pengantin pria dan wanita.


Tapi sekarang, dengan reaksi Temari yang tidak dimengerti Shikamaru, wajahnya terlihat memerah seperti akan marah, pergi bersamanya bisa-bisa…


Shikamaru merasakan wajahnya memucat.


“Kalau begitu, sampai bertemu nanti ya.” Ucap Chouji, mulai berjalan. “Aku pergi.”


“Ah…” Saat Shikamaru bisa mengeluarkan suara itu, semua sudah terlambat.


Chouji sedikit melirik temannya dari balik bahunya, melambaikan tangan, dan menghilang dibalik keramaian.


Shikamaru benar-benar terdiam dan ternganga.


Kenapa, Chouji…? Kenapa kau begitu ingin makan kastanye manis…? Meskipun kau sudah makan begitu banyak eskrim, kenapa…? Apa perutmu itu tidak pernah kenyang…?


Itu adalah yang terlintas di pikirannya yang menggila.