
Tepat seperti yang Chouji katakan. Restoran ini sangat formal dan sangat mahal, begitu banyak dewasa muda yang tidak biasa pergi kesana. Tapi, voucher untuk makan disana, sebagai hadiah pernikahan, itu sangat brilian.
Adalah sebuah kesempatan bagi pasangan itu untuk pergi ke suatu tempat yang tidak biasa mereka kunjungi, dan itu adalah hadiah pernikahan yang akan mereka nikmati. Tidak akan ada lagi hadiah pernikahan yang sehebat ini.
Tapi, meskipun itu adalah hadiah pernikahan yang menakjubkan, bagaimana mungkin Chouji dengan mudah melepaskan voucher makan di tempat berkelas seperti itu?
Chouji, apa kau benar-benar pria yang sama dengan yang kukenal? Kau benar-benar jauh lebih dewasa dari yang kukira.
Shikamaru memandangi voucher elegan di tangannya itu, kemudian melirik wajah Chouji yangs edang bahagia menikmati eskrimnya. Dia tercengang.
Chouji terus memakan eskrimnya tanpa menyadari tatapan temannya. Secepat kilat, dia memulai mangkuk keduanya.
“Plus, itu datang pada waktu yang tepat,” Ucap Chouji sambil menjilat. “Itu untuk makan bertiga…”
Awalnya, Shikamaru tidak mengerti maksud dibalik apa yang Chouji katakan. Sesaat berlalu, dan dia memahaminya. Keringat muncul di dahi Shikamaru.
“Kau tidak mungkin…” Shikamaru bertanya dengan lembut, merasa terkejut karena alasan yang sangat berbeda. “Kau tidak akan…makan…bersama mereka…?”
Chouji mendongak dari eskrimnya dengan tawa yang keras. “Tidak mungkin. Kalau memang itu aku, aku tidak akan mengganggu acara makan pasangan yang baru menikah.”
“B-benar…yeah, itu akan terasa….”
“Aku akan meminta pada pemiliknya, dan makan di meja yang terpisah.”
“…Serius?”
Tanpa berpikir, Shikamaru mendongak ke langit-langit. Kipas disana terus berputar tanpa henti seperti biasanya.
-
Kipas dilangit-langit itu terus berputar dalam diam. Chouji, terus memakan eskrimnya penuh semangat dalam diam.
Tidak terasa, jam makan siang sudah berlalu, dan pelanggan restoran mulai berkurang. Kedamaian mulai kembali ke Yakiniku Q.
Mendengarkan suara samar kipas angin di kedai yang sunyi, Shikamaru kembali mengkhawatirkan dirinya sendiri.
Voucher makan gratis di tempat berkelas.
Itu adalah hadiah yang telah dipersiapkan Chouji. Hadiah itu tidak memiliki sisi buruk.
Tapi…
Shikamaru dalam hati mengkritik peraturan restoran yang belum pernah didatanginya dengan muka masam.
Pikirannya membayangkan Naruto dan Hinata berpakaian rapi untuk kesempatan makan di restoran ryotei berkelas itu.
Dan, kemudian, di kursi di belakang mereka. Chouji. Memesan porsi ke-duanya sambil memperhatikan mereka berdua.
…apa itu tidak apa-apa…?
Tidak, saat ini, Chouji baik-baik saja seperti biasanya. Bagiamanapun, itu adalah hadiah yang ‘sangat Chouji’. Saat ini, masalah yang lebih besar adalah Shikamau sendiri, yang masih belum bisa memikirkan apapun. Dia telah mengerahkan seluruh proses berpikirnya untuk mendapatkan ide.
Shikamaru meluruskan duduknya dan perlahan memejamkan matanya.
Kapanpun Shikamaru berpikir keras tentang sesuatu—contohnya, langkah selanjutnya dalam permainan favoritnya shougi, atau strategi yang rumit di tengah misi—dia memiliki kebiasaan duduk dengan cara tertentu saat berpikir. Dia tidak melakukan posisi itu dengan maksud tertentu. Itu adalah posisi yang terbaik baginya untuk berpikir.
Maka dari itu, tidak akan ada yang mengira bahwa Shikamaru akhirnya melakukan posisi berpikirnya di tengah Yakiniku Q. Dia sendiri tidak mengira akan menjadi seperti ini.
Shikamaru mengumpulkan pikiran di kepalanya. Sesuatu yang cocok sebagai hadiah pernikahan…beberapa kemungkinan dan pilihan mengambang di pikirannya.
Pertama, hadiah itu haruslah sesuatu yang praktis dan berguna. Peralatan dapur, atau peralatan masak. Hadiah yang bagus adalah sesuatu yang belum dimiliki pasanganitu.
Peralatan makan belakangan ini populer, kan? Mangkuk yang matching untuk pasangan itu merupakan sebuah pilihan yang mungkin.
Jam tangan mungkin, atau juga figura foto untuk foto pernikahan. Hadiah yang memenuhi standar. Hadiah yang dapat menjadi memori yang indah dalam pernikahan itu sangat baik. Tapi hadiah-hadiah itu juga harus menjadi hal yang menarik bagi keduanya.
Bagaimanapun, dia tidak boleh memberikan hadiah yang sama dengan orang lain. Lagipula, Ino sudah marah bahkan jika Shikamaru mencari hadiah di toko yang sama, jadi memberikan hadiah yang sama dengan orang lain secara logika tidak baik.
Pernikahannya sebentar lagi, jadi mungkin buket besar bisa menjadi hadiah? Itu adalah hadiah yang paling sesuai sebagai hadiah pernikahan.
Ada juga pilihan dengan memberikan mereka makanan. Bahan-bahan berkualitas, seperti kue-kue atau teh, yang seperti itu akan mereka terima dengan senang hati, kan? Tapi itu tampaknya akan jadi sejenis dengan hadiah voucher makan Chouji.
Tapi tidak, sejujurnya akan tidak apa-apa jika dia akhirnya memberikan mereka voucher seperti Chouji, ya kan? Dia bisa mendapatkan voucher dari pusat perbelanjaan. Dia hanya perlu membeli barang-barang yang dia suka, dan kemudian akan menjadi mudah untuk memilih barang yang disukainya… Tapi kemudian bagaimana dia bisa membayar itu semua untuk mendapatkan voucher itu… Uang adalah…uang…
Shikamaru perlahan membuka matanya. Chouji masih menikmati eskrimnya.
Apa yang harus dilakukan…
Pada akhirnya, satu kata muncul secara pragmatis di pikirannya: uang.
Itu adalah sudut fokus yang bagus. Daripada membeli barang yang tidak bisa mereka gunakan, atau sesuatu yang sejenis dengan hadiah orang lain, jauh lebih baik jika memberikan mereka uang untuk membeli apapun yang mereka suka.