KONOHA HIDEN

KONOHA HIDEN
Daging dan Uap lanjutan sebelumnya



Dan itu artinya saat ini, tepat saat jam makan siang, Yakiniku Q tidak ada bedanya dengan medan perang.


Panggilan pesanan datang dari semua penjuru tempat duduk, pesanan seperti bir atau teh ulong atau alat makan bertemu dengan pelayan restoran yang sibuk. Mereka dengan cepat berkeliling ke seluruh pelanggan. Tempat itu sangat ramai.


Shikamaru menonton kegiatan para pelayan itu dari sudut matanya sambil meletakkan sepotong daging ke panggangan.


Warna merah pekat daging itu hampir bersinar, lemaknya berkilau bak mutiara. Menandakan bahwa daging itu segar. Bunyi desis yang menggiurkan terdengar berpadu dengan aroma daging yang lezat di restoran itu.


Shikamarudan Chouji sudah memutuskan untuk makan siang di tempat itu.


Keputusan itu disepakati beberapa saat yang lalu.


Shikamaru sedang keluar untuk pergi berbelanja, dan bertemu Chouji di perjalanan. Mereka kemudian mengobrol.


Kemudian Chouji berkata, “Sebentar lagi waktu makan siang, bagaimana kalau makan beberapa daging bersama?” dan disinilah mereka, di tempat hangout mereka biasanya,YakinikuQ.


Shikamaru memasuki kedai itu dengan niat mampir sebentar, seperti yang orang-orang biasa lakukan di kedai teh, tapi Chouji selalu melakukan ini.


'Beberapa daging’ katanya– mana mungkin! Chouji tidak pernah duduk tanpa niat untuk makan sebanyak yang dia bisa.


Potongan daging di atas panggangan Shikamaru sudah hampir matang dan juicy. Dia mengulurkan sumpit dan membaliknya. Bagian yang dibaliknya sudah terpanggang dengan sempurna.


Jika daging dipanggang terlalu lama, maka akan menjadi alot. Kalian harus memperhatikannya untuk memastikan daging itu tidak terlalu matang.


Sebagian besar orang membiarkan daging mereka dimasak dalam jangka waktu yang ditentukan insting mereka, tapi hasil penelitian terbaru menyatakan bahwa kebanyakan orang akhirnya memasak dagingnya terlalu lama.


…Atau paling tidak, itulah yang Chouji katakan pada Shikamaru saat mereka mengobrol.


Chouji sendiri, saat mengkritik orang-orang yang memasak daging terlalu lama, memakan potongan daging yang sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda matang.


Chouji mempunyai kecenderungan untuk memakan daging saat masih terlalu mentah untuk dimakan. Shikamaru berpikir kalau lebih baik memanggangnya sedikit lagi.


Chouji. Diamengambil potongan itu dan melahapnya dengan suara puas.


“Itukan…dagingku…”


“Huh? Ohhhh, maaf Shikamaru. Aku melihatnya sudah siap dimakan, dan sebelum aku menyadarinya, tanganku langsung…” Chouji tampak merasa bersalah saat menyadari bahwa dia mengambil daging yang salah.


“Ah iya, tidak apa-apa. Lagipula, masih banyak daging yang bisa dimakan.”


Setelah itu. Shikamaru meletakkan potongan daging lainnya ke atas panggangan. Dia kembali melihat Chouji dengan senyum lebar, dan berkata:


“Lagipula ,lebih baik kau memakannya daripada daging itu gosong, kan?”


Chouji memberikan cengirannya pada temannya, dan kembali fokus mengunyah daging jarahannya, juga menambahkan nasi ke mulutnya.


“Daging ini enak sekali.” Dia bergumam sambil mengunyah.


Shikamaru memandangnya, memikirkan apa Chouji mengerti kalau komentarnya bukan di saat yang tepat.


“Memasak dengan panggangan arang itu sangat sulit untuk pemula.” Lanjut Chouji. “Jadi kalau untuk memasak sekaligus makan, panggangan gas lah yang terbaik. Mereka memilih metode yang sangat bagus untuk memasak daging yang enak.”


Yup, Chouji benar-benar tidak menyadari apa-apa. Komentarnya hanya tentang bagaimana metode memasak daging yang baik.


Sambil Chouji berbicara, dia juga terus melahap nasinya. Ya ampun, kalau keadaannya seperti ini, mangkuknya akan segera kosong.


Shikamaru melambai ke pelayan yang berada di tengah keramaian pengunjung dan memesan nasi tambahan.


Hal yang menarik dari nafsu makan Chouji yang luar biasa itu adalah karena pemandangan Chouji yang sedang makan itu enak dilihat. Melihat dia makan ntah kenapa membuat Shikamaru juga merasa kenyang, meskipun dia tidak makan banyak, dan meskipun dagingnya sendiri dicuri tepat di depan matanya.