KONOHA HIDEN

KONOHA HIDEN
BULAN MADU #2



“Tidak, masalahnya adalah benda ini terlalu ringan untuk dilempar dengan benar.” Ucap Temari, memberikan kunai kayu pada Shikamaru.


Ah, aku mengerti, ini terlalu ringan. Jauh berbeda dengan kunai yang asli. Pasti akan sulit melempar ini.


Shikamaru langsung mengerti tepat pada detik dia merasakan betapa ringannya kunai di tangannya.


“Tapi, kalau itu masalahnya,” ucap Shikamaru, memegang kunai kayu itu, “Maka jika kau menemukan pusat gravitasi dan menyesuaikannya, kau pasti bisa melemparnya, seperti ini!”


Dia melempa rkunai kayu itu. Dia melemparnya dengan kekuatan yang lebih besar daripada kunai biasanya.


Dan benar-benar meleset.


“Hm?”


Sekarang giliran Shikamaru yang memiringkan kepalanya bingung.


*


Setelah ‘latihan membidik’ mereka selesai, keduanya kembali mencari penginapan.


Temari membawa satu buah daruma kecil, dan patung kucing dengan ukuran yang sama. Hanya dua hadiah itulah yang berhasil Shikamaru dapatkan setelah beberapa kali mencoba, dengan membayar lagi tentunya.


Tapi kalau dipikir-pikir, dari semua upayanya itu, hanya dua hadiah kecil ini yang berhasil didapatkan. Shikamaru merasa bahwa efektivitas biaya di toko itu perlu dipertanyakan.


Tapi, Shikamaru masih tetap pro. Melempar kunai kayu berulang-ulang membantunya agar terbiasa dengan berat kunai itu. Bahkan dengan latihan sekalipun, kunai kayu itu penuh tipu daya. Kau tidak bisa berharap pada latihan yang cukup untuk mengenai hadiah yang besar tanpa mengeluarkan biaya yang besar juga. Shikamaru menyadari itu dengan cepat. Tidak, kenyataannya, kau bisa menghabiskan banyak uang untuk berlatih sebanyak mungkin, dan tetap tidak akan mungkin bisa mengenai hadiah yang besar.


Shikamaru merasa kasihan pada pasangan-pasangan yang ada di toko itu, mereka mengeluarkan suara seperti ‘kyaa!’ dan ‘awww’ saat mereka membidik hadiah yang tidak akan mereka dapatkan.


Andai saja kunai-kunai itu sedikit lebih berat…yah, untuk menyimpulkannya, kunai kayu itu jauh berbeda dengan kunai asli hingga hampir tidak mungkin mengenai apapun dengan kunai itu.


Jika saja bisa, Shikamaru akan lebih memilih untuk melempar kunai yang asli.


Ke pemilik tokonya.


Tapi bagaimanapun, karena dia tidak bisa menggunakan kunai yang asli, dia pikir lebih baik dia mengenai target yang dia bisa daripada terus membidik yang tidak mungkin dan tidak membawa pulang apapun.


‘Target yang dia bisa’ adalah daruma kecil dan patung kucing kecil**. Keduanya adalah hadiah terkecil di toko itu. Uang yang mereka habiskan tidak sebanding dengan persediaan pemilik toko itu. Pemilik toko itu memiliki strategi yang brilian.


“Maaf…” Ucapnya pada Temari, “Aku tidak bisa mendapatkan yang lebih dari itu…”


Ngomong-ngomong, akan sangat buruk jika dia menjadi terbiasa dengan kunai kayu itu dan bidikannya dengan kunai asli terpengaruh.


Dia tidak bermaksud sarkastik. Itu perasaannya yang sejujurnya. Daritadi, Temari berkali-kali tersenyum polos seperti ini.


“Ini akan jadi souvenir yang bagus untuk adik-adikku.” Ucapnya.


Kalau dipikir, dia benar juga. Jumlah hadiah yang didapatnya pas. Tapi, yang menjadi pertanyaan…diantara Gaara dan Kankurou, siapa yang akan diberi daruma dan siapa yang akan diberi patung kucing? Dia tidak yakin, tapi bagaimanapun, pasti dia akan tersenyum kalau melihatnya.


Temari selalu memikirkan adik-adiknya.


Temari bersenandung kecil sambil memperhatikan hadiah-hadiah di tangannya. Dia terlihat sedang dalam mood yang sangat bagus.


“Baiklah kalau begitu…kita harus berkeliling untuk memilih penginapannya, kan?” Ucap Shikamaru. “Oh, bagaimana kalau disini?”


Shikamaru kemudian berdiri diam, memperhatikan penginapan terdekat. Bangunan itu berstruktur megah, dengan nuansa historis. Kertas lentera yang berpijar redup di sisi-sisi gerbangnya terasa seperti menyambut hangat tamunya. Tampaknya penginapan itu juga punya kolam yang sangat besar.


Dari luar, semuanya terlihat bagus, tapi fokus utamanya adalah pemandian air panas dan makanannya. Akan bermasalah kalau semuanya terlihat bagus tapi sebenarnya berkualitas buruk.


“Yup, ayo kita masuk dan melihatnya.” Shikamaru mengangguk. Satu kali penilaian singkat saja sudah cukup.


Dia mengarah ke penginapan itu, tapi saat itu juga, langkah Temari terhenti.


“Ada apa?” Dia melirik dari balik bahunya untuk melihat Temari.


“Ah– yah– bagaimana ya– bagaimana mengatakannya…” Temari menunduk dan terlihat sangat gelisah.


Lagi? Baru saja dia mengira kalau Temari sudah kembali normal. Sebenarnya ada apa?


“Jadi begini– sebenarnya– aku belum– Aku belum siap mental…” Gumamnya, tidak melihat ke arah Shikamaru dan memainkan daruma dan patung kucing di tangannya.


Siap mental? Untuk apa?


Mungkin dia merasa canggung karena berada di depan tempat yang terlihat mewah?


Jika tempat berkelas seperti itu membutuhkan biaya yang terlalu tinggi untuk dijangkaunya, maka tentu saja Shikamaru akan menyerah. Menurutnya sayang sekali, tapi mau bagaimana. Tapi mereka tidak akan tahu tanpa masuk dan melihat langsung tempat itu. Baik keputusannya iya atau tidak, dia tetap harus melihat kamar-kamar dan pemandian air panasnya. Tidak bisa kalau tidak begitu. Akan jadi masalah kalau mereka menyerah begitu saja di depan pintu bangunan itu.


INI LANJUTAN KEMARIN YAA 💯


TERIMA KASIH 🙏