
Tentu saja, artinya Lee juga melakukan lompat dari pagar ke pagar, pohon ke pohon, dan berlari di atas atap-atap rumah. Bukan hal yang tidak biasa bagi seorang shinobi untuk mengambil jalur yang tidak biasa seperti ini melewati desa tersembunyi. Kenyataannya, itu sudah sangat biasa, begitu biasa hingga penduduk sudah tidak menghiraukannya.
Artinya, tidak akan ada satupun pemilik tanah yang komplain karena Lee berlari di atas atap.
Paling-paling, satu orang akan komplain di pagi hari: “Seorang pria beralis tebal berteriak ‘KUUAAA’ sambil berlari di atas atap kami pagi ini, dia sangat berisik.”
Dan begitulah, dibawah pengawasan mata wajah para Hokage terdahulu yang terukir dibukit yang menghadap Konoha, Lee melompat dan berlari sepanjang desa. Dia terus melakukannya sepanjang malam tanpa muncul satupun ide.
Dan itulah kenapa Lee menyambut fajar hari baru tanpa memejamkan mata sedikitpun.
*
Cahaya matahari terbit sekarang sudah menyentuh wajah-wajah yang terukir Monumen Hokage yang terletak di pusat Konoha.
“Delapan…ratus…enampuluh…empat…”
Nafas Lee serak parau dan terengah-engah saat dia menyebut angka itu.
Larinya menjadi sangat lambat, malah orang-orang yang berjalan lebih cepat darinya.
Dia sudah mencapai batasnya.
Kak iLee mulai menekuk, gerakannya sempoyongan maju-mundur dan akhirnya terjatuh. Dia bahkan tidak punya kekuatan untuk membuat dirinya mendarat pelan di tanah, dia jatuh berdebam keras di tanah.
Lee tergeletak tidak bergerak di tanah, wajahnya mencium tanah, memikirkan apa yangsalah.
Pertama, dia punya konsep bahwa dengan menggerakkan badannya, maka itu bisa menyegarkan pikirannya. Apa dia salah? Tidak, itu tidak mungkin. Itu tidak salah. Lee menyangkal pikiran itu.
Lalu, apakah itu idenya untuk berlari dengan tangan ditengah putarannya? Dia sudah mengira kalau itu bisa membantunya berpikir dari sisi lain, tapi apakah itu ide buruk? Tidak, kadang kalian perlu melakukan hal yang berani untuk menemukan ide baru. Jangan lupa kalau berlari menggunakan tangan mengitari desa adalah salah satu jadwal latihan normalnya. Itu tidak mungkin merupakan hal yang salah.
Apakah itu metode tidak biasanya dengan berjalan mundur? Tidak, itu adalah metode latihan yang biasa saja.
Dia benar-benar tidak melakukan hal yang salah.
Lalu, kalau begitu, kenapa dia benar-benar tidak bisa berpikir…?
Lee menatap nanar tanah didepannya. Tubuhnya sudah menjadi sangat panas sejak sesaat lalu, tapi sekarang kedinginan karena udara pagi yang menusuk. Keringat yang mengucur di tubuhnya menjadi sangat dingin, dan tubuh Lee mulai menggigil.Tapi dia menggunakan setiap otot di tubuhnya melewati batas waspada, dan tidak punya energi lagi untuk bergerak.
Meskipun itu untuk teman tercinta, meskipun aku mengatakan bahwa aku akan melakukan semuanya sepenuh hatiku untuk menemukan sebuah kado pernikahan. Untuk berpikir bahwa aku tidak bisa menemukan satupun ide cemerlang. Kenapa aku sangat tidak kompeten…?
Lee memejamkan matanya erat-erat, marah pada dirinya sendiri karena merasa sangat mengecewakan.
Bagaimanapun, dia tidak bisa begitu saja mengakhiri semuanya dengan berkata bahwa dia adalah orang yang tidak kompeten dan tidak berguna. Dia sudah memutuskan untuk menemukan hadiah yang pantas meskipun jika dia harus mempertaruhkan nyawanya, jadi dia tidak bisa berhenti dan menyerah begitu saja.
Lee yang kelelahan dan kehabisan tenaga membuka matanya lagi, semangat yang berapi-api membakarnya sekali lagi.
Tetapi, ketika dia membuka matanya, Lee menyadari sesuatu:
Seseorang sedang berdiri di depannya.
Kapan itu terjadi? Ada sepasang kaki yang terlihat oleh pandangan Lee, dengan pakaian yang familiar. Lee terkejut karena sebelumnya dia tidak menyadari siapa yang berdiri di depannya. Orang itu tampaknya sedang melihat ke arahnya.
Lee perlahan bangkit dan mendongak. Untuk melihat. Orang itu.
“Neji…”Lee bergumam pelan.
Mungkin itu adalah ilusi atau itu adalah hantu, tapi di situlah dia berdiri: mendiang temannya, Hyuuga Neji.
“Berlari tanpa henti sampai kau tumbang.” Ucap Neji, melihat ke arahnya dengan tatapan tenang yang sama. “Kau masih saja sama, Lee.”
Lee tidak bisa berkata-kata.
Ada ratusan hal yang ingin Lee ceritakan pada Neji saat mereka bertemu suatu saat nanti. Tapi dengan Neji berdiri di depannya, dia merasa sangat sedih dan tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun.
Tapi meskipun dia tidak mengucapkan apapun, Neji mengerti semuanya.
Untuk alasan tertentu, ada pemikiran yang memasuki pikiran Lee saat dia melihat mata yang tampak tahu segalanya milik Neji.
“Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu …” Ucap Neji, meletakkan tangannya lembut di pundak Lee.
Tangan Neji terasa hangat dan memberikan semangat. Lee tiba-tiba berpikir kalau Neji muncul karena dia begitu khawatir akan Lee yang terlalu memaksakan dirinya sendiri.
“Neji…Aku…”
“Aku tau. Tidak perlu dikatakan.” Neji tersenyum, rambut panjangnya berayun sedikit. “Lee, ingat ini baik-baik. Lebih daripada stamina… kekuatan fisik. Dan, Hyuuga…”
Neji berhenti. Tidak jelas sebenarnya dia menyelesaikan ucapannya atau belum. Sosoknya tertutup oleh kabut pagi, dan menghilang.
“….eh?”
Angin berhembus kencang, membuat pohon berdesir dan meniup kabut pagi.
“Eh– tunggu– Neji…? Neji?!”
Lee melihat ke kiri dan kanan, mencari ke sekelilingnya dengan putus asa, tapi satu-satunya yang ditemukan oleh suara Lee adalah kesunyian pagi.
“EEH?! Bbu-bukankah kau mau memberikanku sedikit saran tentang hadiah pernikahan yang membuatku sangat bingung...? bukannya itu alasan kau muncul? NEJIIIIIII?!”
NEJIIIIIII?!”Lee terbangun dan mulai berteriak mencari temannya.
Sekarang sudah pagi. Masih terlalu pagi, tapi cukup terlambat karena sebagian besar orang sudah bangun dan mulai bersiapmenyambut hari baru.
Lee melihat sekitarnya linglung, mencoba untuk mencerna keadaan sekitarnya. Tampaknya dia tertidur di tengah jalan. Beruntung dia tidak diinjak-injak oleh orang yang lewat.
“Jadi itu...adalah mimpi...” Lee bergumam pada diri sendiri, mulutnya kering dan sangat membutuhkan air.
Sebuah mimpi pendek yang hanya sekejap mata. Lee terduduk kaku di tengah jalan, memegang kepalanya.
Kematian Neji sudah cukup lama. Beberapa tahun sudah berlalu.
Tapi sampai sekarang, Lee terkadang melihat Neji di mimpi-mimpinya. Mimpi-mimpi itu biasanya muncul saat istirahat yang tidak tenang dalam misi yang sangat sulit, atau saat Lee sedang mengalami kesulitan akan sesuatu.
Tapi hanya kadang-kadang. Seringkali, tak peduli seberapa Lee ingin melihatnya, Neji tidak akan muncul.
Saat Neji muncul, mimpi Lee biasanya adalahsaat latihan keras bersama Neji, atau menuju ke tempat misi berbahaya bersama Neji, keduanya berjuang melawan hal-halyang aneh.
Sangat sedikit mimpi Lee yang benar-benar bisa membuatnya melihat dan berbicara pada Neji.
Hampir seluruh mimpinya mengenai hal-hal yang sudah terjadi. Latihan, atau bertarung melawan musuh, atau mengatur strategi dalam misi. Biasanya Neji yang dengan tenang membicarakan strategi atau hal lainnya, dan Lee berdiri di sebelahnya, mendengarkan dengan seksama.
Kapanpun Lee terbangun dari mimpi-mimpi itu, frase-frase akan keluar dari bibirnya.
‘Ayo kita buat serangan frontal dinamis yang lebih hebat!’atau ‘Aku akan mengawasi di paling depan, tolong awasi keadaan sekitar!’. Semua hal yang tidak sempat dikatakan dalam mimpinya.
Kalau aku mengatakan ini pada Neji, ekspresi apa yang akan muncul di wajahnya? Seperti apa responnya?
Belakangan, semakin sulit dan lebih sulit lagi untuk membayangkan bagaimana Neji akan bereaksi.
Lee sangat, sangat menyadari fakta itu.
Suara yang kuat tiba-tiba muncul dari balik punggung Lee yang merosot.
“Lee, itu adalah masa muda yang indah yang kau dapat pagi ini!”
Lee melihat dari balik bahunya ke arah pria yang berada di belakangnya, tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya, tangannya mengacungkan jempol.
Itu adalah gurunya yang penuh semangat, Maito Gai.
Akan tetapi…
“Ga-Gai sensei…”