KONOHA HIDEN

KONOHA HIDEN
MENGINGAT KESEDIHAN



Lee kehilangan kata-kata. Alasannya adalah karena gurunya, Gai, yang kehidupannya harus dihabiskan di atas kursi roda, ntah bagaimana sudah berada di atas atap gudang peralatan bersama kursi rodanya.


Saat Perang Dunia Shinobi, Gai mempertaruhkan nyawanya dalam pertempuran melawan Uchiha Madara, dan membuka ‘Gerbang Ke Delapan/Hachimon Tonkou No Jin’. Nyawanya terselamatkan berkat Naruto, tetapi, kaki kanannya kehilangan fungsi dan menjadi lumpuh.


Sejak saat itu, Gai menjalani kehidupannya diatas kursi roda. Tetapi, dia tidak mengubah kehidupan berdarah panasnya, memahat kata ‘masa muda’ di gips kaki kanannya dan masih menyemangati dan membimbing Lee seperti biasanya.


Lee terperangah dan tak bisa berkata-kata karena dia tidak bisa mengerti bagaimana gurunya bisa berada di atas atap gudang peralatan bersama kursi rodanya.


Tiba-tiba-


“TOU!” Gai meneriakkan suara pertempuran, meluncur dari atasatap gudang itu bersama kursi rodanya.


Dia ntah bagaimana mampu mengatur sudut kursirodanya untuk mendarat dengan halus, meskipun dengan suara BANG! yang sangat keras.


Lee berlari ke arah senseinya, bingung dankhawatir.


“Sensei, itu sangat berbahaya! Kenapa kau mau melakukan hal itu...”


“Pasti banyak orang dunia ini yang berpikir kalau kau tidak bisa terbang dengan kursi roda! Jadi aku memutuskan untuk membuktikan bahwa mereka salah dengan tubuhku sendiri.” Gai mengungkapkan maksudnya dengan santai dan tenang.


Hal seperti itu pasti merupakan hal yang tidak mungkin bagi orang lain, orang lain yang tidak memiliki kemampuan khusus untuk mengontrol tubuh dan keadaan fisiknya seperti Gai.


“Semua orang di desa, Kakashi dan Ebisu dan juga Genma, mereka masih memperlakukanku layaknya shinobi. Itu membuatku sangat senang. Meskipun aku harusnya sudah berhenti sejak lama... jadi, karena itu, aku memutuskan untuk terus membuktikan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, dan menunjukkan diriku yang biasanya pada kalian!” Ucap Gai, memberika pose ‘Nice Guy’ nya. “Bagaimanapun, itu adalah masa mudaku!”


Kata-kata Gai menyentuh hati terdalam Lee. Mereka selalu seperti itu. Ketika Lee sedang tersiksa, ketika Lee sedang merasakan kepedihan, ketika hatinya terasa sepertiakan hancur berkeping-keping, setiap perkataan Gai menyelamatkannya, lagi dan lagi.


Bahkan sekarang, Lee menjadi berani karena mendengar kata-kata Gai.


Dia ingin menjadi sehebat Gai suatu saat nanti. Dia ingin menjadi pria yang bisa menyemangati jiwa yang hilang dan tertekan seperti dirinya.


-


“Ngomong-ngomong, Gai-sensei, apa yang kau lakukan disini?” Pertanyaan itu mendadak muncul dari Lee, dan Gai menjawab dengan ringan.


“Tentu saja untuk latihan pagiku. Kupikir aku akan menghabiskan hari ini dengan berjalan-jalan bolak-balik di sekitar desa. Bagaimana Lee, apa kau mau ikut denganku?”


“Terima kasih, aku sudah menjalani latihan seperti itu.”


“Mengagumkan. Bagaimanapun, hal yang mengganggumu masih belum selesai, kan?”


Mata Lee melebar terkejut karena pengamatan Gai yang tajam.


“Ba-bagaimana kau tau?!”


“Hanya butuh satu kedipan mata untuk menyadari bahwa kau akan menghabiskan semalaman untuk berlatih dan mengkhawatirkan sesuatu. Menurutmu berapa tahun aku menghabiskan masa muda bersamamu? Itulah kenapa dari awal aku mengatakan ‘masa muda yang indah pagi ini’.”


Tepat setelah Gai mengatakan itu, Lee menyadari betapa menyedihkannya ia terlihat. Dia diselimuti dengan lumpur, dan tentu saja penampilan yang tidak enak dipandang. Dia berkali-kali tersandung karena kelelahan, terjatuh dan terguling di tanah. Semua kotoran itu diakibatkan oleh lari berkelilingnya.


“Dan sepertinya kau merasa risau karena masalah hadiah pernikahan, apa itu benar?”


Lee panik karena pertanyaan Gai yang sangat tepat.


“Gai-sensei, apa kau bisa membaca pikiranku?!”


“Tidak, itu karena aku juga diundang ke pernikahan itu …”


Gai juga merasa risau karena kado pernikahan itu.