KONOHA HIDEN

KONOHA HIDEN
DAGING DAN UAP 3



~


Chouji diteriaki oleh teman satu timnya Ino.


“Hey?!” Teriaknya,”Chouji, kau makan dagingku!”


“Diamlah…” Gerutu Shikamaru pada suara berisik Ino.


Yang dilakukannya salah. Ino langsung melotot padanya. “Apa maksudmu diam? Itu dagingku! Lalu apa tadi kau bilang kau mau memasak dagingnya?”


Sekarang dialah yang jadi target. Ini memalukan.


“Apa ini?” Komplain Shikamaru berbisik, meletakkan daging ke panggangan. “Kenapa aku yang selalu memasak semuanya lagi? Ugh, merepotkan…”


Kenapa kebanyakan perempuan itu pemaksa? Shikamaru memikirkan itu sambil membalikkan daging panggangan.


Untuk memulainya, ada wanita yang paling dekat dengannya: ibunya. Dia lebih pemaksa dibanding wanita normal, bisa dibilang dia abnormal.


Apa memangnya yang membuat ayahnya mau meilirik wanita yang begitu menakutkan dan berpikir ‘aku akan menikahinya’? Shikamaru benar-benar tidak bisa mengerti.


“Ini sudah cukup, kan?”


Dagingnya sebentar lagi matang. Saat Shikamaru berkomentar, Ino menggapai daging itu dengan sumpitnya, tampak ada hawa puas di sekitarnya.


Tapi daging itu tiba-tiba menghilang.


Itu bukan fenomena supernatural. Itu adalah Chouji. Ino menurunkan sumpitnya dan mulai berteriak.


“Sengaja, kan?!” Teriaknya, “Kau melakukan ini dengan sengaja!”


“Huh- Aku hanya- aku melihat dagingnya, jadi…”Chouji tergagap.


“Jangan pikir kau bisa keluar dari masalah ini dengan komentar tidak jelasmu!”


Ino menarik kerah Chouji, masih berteriak. Limbung, Chouji masih tidak melepaskan mangkuk ataupun sumpitnya. Shikamaru menggerutu karena dia harus memanggang daging lagi, dan mulai meletakkan beberapa daging ke panggangan.


Itu adalah pemandangan biasa bagi timnya. Dan kemudian…


Ada seseorang yang memperhatikan mereka bertiga dengan senang.


Asuma.


~


Shikamaru kembali ke masa yang sekarang, dan melihat tempat yang biasa Asuma duduki.


Shikamaru ,Chouji, Ino, dan Asuma. Mereka berempat biasa datang ke restoran ini setiap selesai misi, dan berkumpul di meja ini.


Dulu, Shikamaru berpikir bahwa hidup akan terus berjalan seperti itu.


Konyol rasanya untuk membayangkan semua orang hidup dalam masa muda yang konstan, tapi ntah kenapa, masa lalu Shikamaru masih berpikir seperti itu. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa dia nanti saat dewasa.


Tapi terlepas dari semua itu, waktu telah berlalu.


Ino sudah menjadi lebih feminin. Selera makan Chouji tidak berubah, tapi dia memiliki jenggot. Bahkan Shikamaru sudah berubah sebelum dia menyadarinya. Dan Asuma…sudah tidak ada disini lagi.


Mereka berempat tidak bisa bersama-sama lagi.


Restoran ini,tempat duduk ini, semuanya tertanam memori saat-saat bahagia yang tidak bisa Shikamaru ulang kembali.


Karena Shikamaru tidak mau melupakan memori-memori itu maka Shikamaru tetap mengunjungi restoran ini, hingga sekarang.


Saat Shikamaru dikelilingi aroma daging panggang yang familiar, dia bisa terjatuh ke dalam halusinasi dimana ketika aroma tembakau juga sedang mengelilinginya.


Asuma sudah menjadi orang dewasa.


Jenggotnya selalu beraroma tembakau dari rokok yang tidak terhitung jumlahnya. Tidak peduli apapun situasinya, dia selalu bersikap tenang. Tenang dan lembut.


Asuma sudah sering berkelana di masa mudanya, jadi dia punya banyak pengetahuan, dan kemampuannya sebagai shinobi bahkan lebih baik. Dia seperti seorang ayah, dan seperti seorang kakak. Dia selalu menraktir Shikamaru dan timnya makan daging.


Kalau dipikir-pikir, Asuma selalu perlahan berubah pucat melihat nafsu makan Chouji yang luar biasa, dan dengan panik memeriksa dompetnya untuk memastikan uangnya cukup.


Sekarang, Shikamaru dan yang lainnya membayar makanan mereka sendiri, dengan uang yang diperoleh sendiri.


Shikamaru mengambil menu, membalik halamannya dan menghitung berapa banyak tagihan yang harus dibayarnya dan Chouji. Akan terlalu mahal jika dia menraktirnya. Jika dia membagi tagihannya, maka dia bisa menjangkaunya.


Ya ampun, aku harus makan lebih banyak lagi selagi sempat…


Shikamaru melirik kecepatan makan Chouji yang ganas, dan meraih beberapa daging untuk dirinya sendiri.


“…nyam, nyam, nyam…Obachan, aku pesan lagi!” Teriak Chouji, mulutnya penuh dengan nyam—tidak, er, daging sapi.


Chouji akhirnya berhenti makan, untuk beberapa saat paling tidak. Dia tampak puas, menenggak secangkir teh ulong sekaligus. Ketika dia yakin Chouji sudah mulai bernapas lagi, Shikamaru berbicara.


“Jadi, soal yang kita bicarakan sebelumnya, apa yang akan kau lakukan?”


“Huh? Dessert?”


Kita tidak sekalipun membicarakan soal dessert, Chouji.


“…mengena ihadiah pernikahan Naruto dan Hinata.”


“Ohh, yeah,itu.”


Shikamaru menghela napas. Apa Chouji lupa?


Awalnya, Shikamaru sedang keluar dengan niat untuk membeli hadiah pernikahan. Ia kemudian bertemu Chouji di jalan, dan kemudian mereka mengobrol mengenai apa yang harus mereka berikan.


Shikamaru masih belum menentukan apa yang harus diberikan sebagai hadiah. Bagaimanapun, dia harus memikirkan sesuatu yang Naruto dan Hinata akan sukai, dan dia merasa blank.


Shikamaru bukan hanya tidak berpengalaman dalam hadiah pernikahan, dia asing dalam masalah perhadiahan.


Dalam kasus itu, yang terbaik baginya adalah berbicara pada seseorang yang tidak sembarangan dalam menentukan hal seperti ini. Dan saat dia akan menentukan hadiah, yang terbaik adalah menanyakan pendapat wanita. Jadi, Shikamaru pergi mengunjungi Ino.


Toko Bunga Yamanaka. Itu adalah nama toko milik keluarga Ino.


Saat Shikamaru berbicara padanya mengenai masalah itu, Ino langsung membanggakan dirinya yang sudah menentukan hadiahnya. Seperti yang diharapkan dari Ino. Dia itu sangat update kalau sudah soal tren dan fashion terkini.


Seperti yang diharapkan dari timku, pikir Shikamaru, dan merasa lega.


“Kalau begitu, sepertinya tidak apa-apa kalau aku membeli sesuatu dari toko yang sama denganmu.” Ucapnya pada Ino. “Bisa kau beritahu dimana toko itu?”


“Eh? Kau tidak boleh mengikutiku. Lupakan itu.”


Dan demikianlah, meskipun mereka adalah teman yang menghadapi pertempuran maut bersama, Shikamaru langsung ditinggalkan.


Setelah itu…


“Aku menyerah…” Shikamaru menggerutu sambil terus berjalan, melakukan survey di beberapa toko. Dia bertemu Chouji di perempatan, dan akhirnya disinilah dia, di Yakiniku Q.


Tapi tampaknya Chouji sudah melupakan seluruh masalah itu akibat keranjingan daging. Bahkan sekarang, dia sedang memakan eskrim. Kapan Chouji memesan eskrim? Shikamaru tidak mencoba untuk menebaknya. Ada banyak hal dari Chouji yang tidak bisa dipahami.


Sejujurnya, kalau sudah soal topik mencari hadiah pernikahan, pendapat Chouji mungkin tidak semeyakinkan Ino.


Akan tetapi, saat Shikamaru merasa khawatir akan hadiah pernikahan itu, Chouji santai-santai saja.


“Sebenarnya, aku kurang lebih sudah menentukan…”


Respon Chouji tidak terprediksi hingga Shikamaru terlonjak di tempat duduknya.


“Kau benar-benar sudah menentukannya?! Apa yang akan kau berikan?”


“Yeah.” Ucap Chouji, mengeluarkan selembar tipis kertas berbentuk segiempat. “Aku berpikir untuk memberikan ini pada mereka.”


Chouji meletakkan benda itu di atas mejanya, dan Shikamaru mengambilnya agar kertas itu tidak basah.


“Ini…”


Shikamaru tidak mempercayai matanya. Ini adalah voucher makan di salah satu restoran Ryotei termahal di Konoha.


“Dewasa muda seperti kita tidak biasa pergi ke tempat seperti itu,” Ucap Chouji, tersenyum lebar. “Tapi karena itu adalah hadiah pernikahan, itu akan bekerja.”


Tepat seperti yang Chouji katakan. Restoran ini sangat formal dan sangat mahal, begitu banyak dewasa muda yang tidak biasa pergi kesana. Tapi, voucher untuk makan disana, sebagai hadiah pernikahan, itu sangat brilian.