
Untuk berpikir bahwa anak itu akan segeramenikah…
Bersamaan dengan topping naruto yang melejit di Daftar Topping Populer, Teuchi memiliki banyak hal yang membuatnya merasa emosional.
Itu membuatnya sangat menyadari bagaimana waktu terus berlalu dan mengalir.
Memori Teuchi membawanya kembali ke masa lalu,saat pertama kali Naruto datang ke kedainya…
~
“Heyo, nak. Apa kau mau kesini dan makan sesuatu?”
Teuchi memanggil dengan senyum di wajahnya, tapi anak laki-laki itu langsung tersentak, seluruh tubuhnya gemetar.
Jam makan malam sudah lewat, jadi kedai itu sudah kosong. Teuchi menyadari anak itu terus mencuri pandang ke Ichiraku sambil menatap kosong kejalanan.
Dia tidak cuma melihat anak itu hari ini. Anak itu sering berada di sekitar sini sejak beberapa hari lalu, dan Teuchi sudah terbiasa melihatnya. Anak itu selalu berjalan dengan ragu melewati kedai itu, kemudian berlalu, bolak-balik tanpa pernah benar-benar masuk.
Beberapa waktu berlalu, Teuchi merasa penasaran dengan anak laki-laki yang selalu muncul di pandangannya.
Karena setiap Teuchi melihatnya, anak itu selalu sendirian.
Begitu juga hari ini, anak itu membungkukkan bahunya melawan udara yang dingin, mengintip ke dalam kedai setiap beberapa menit. Tidak ada pelanggan yang harus diurusi, jadi Teuchi tergerak untuk memanggilnya.
Anak itu menghampiri perlahan, gemetar ketakutan. Tapi Teuchi menawarkan semangkuk ramen pada anak itu, dan wajah mungil yang ketakutan itu menjadi cerah.
Apa yang anak sekecil ini lakukan di luar rumah malam-malam begini sendirian?
Apa yang keluarganya lakukan? Orang tuanya?
Pikiran itu melintas di kepala Teuchi, tapi dia tidak menanyakan apapun pada anak itu. Dia hanya melihat anak itu makan. Sepertinya dia menyukai makanannya.
Tak lama kemudian, anak itu mengangkat mangkuk besar itu ke mulutnya dengan tangannya yang kecil, meminum seluruh sup di dalam mangkuk itu dan memastikan dirinya makan sebanyak yang dia bisa, tanpa meninggalkan sisa sedikitpun.
Mangkuk itu begitu besar dibanding dengannya, wajahnya hilang seluruhnya terhalang mangkuk.
Ketika anak itu menurunkan mangkuknya, dia terlihat senang dan puas.
Matanya bertemu dengan mata Teuchi, dan anak itu memberikan cengiran lebar yang menampakkan deretan giginya.
Teuchi tersenyum balik padanya.
“Kau makan dengan sangat baik,” ucapnya, “Baiklah, nak. Aku memutuskan kalau itu akan menjadi traktiran makanmu dari kedai ini.”
Nama anak itu Uzumaki Naruto. Teuchi diam-diam berpikir itu adalah nama yang bagus, berbagi takdir dengan ramen.
~
Itulah bagaimana dia pertama kali bertemu Naruto.
Setelah itu, Naruto sering muncul dan makan dikedai Teuchi. Teuchi dengar dari pelanggannya yang lain kalau Naruto tidak memiliki keluarga. Dia juga mendengar tentang perlakuan buruk yang Naruto terima dari sebagian besar penduduk.
Jadi karena itu dia terus-menerus takut dan hanya bolak-balik di depan kedai.
Salah satu pelanggan Teuchi mengatakan ini:
“Kenapa kau biarkan anak itu masuk ke kedai ini? Semua orang menjauhinya. Kedaimu akan menderita. Kau akan kehilangan uang. Kuberitahu kau.”
Kalimat itu sendiri tidak tampak seperti ada maksud buruk. Pria itu sepertinya benar-benar mengkhawatirkan kedai Teuchi.
Tapi tetap saja, ntah kenapa, Teuchi merasa kesal dan melepas amarahnya.
Oh, dia tidak tahu apapun tentang dunia shinobi, itu benar, katanya pada pelanggan itu. Dia mengerti bahwabanyak hal yang terjadi soal Naruto.
Tapi kenapa dia harus mengucilkan orang yang menyukai ramen, yang jauh-jauh datang ke kedainya untuk mengisi perutnya?
Untuk anak kecil yang tidak memiliki saudara dan orang tua itu, kemungkinan besar bahwa kedai Teuchi lah satu-satunya tempat dimana anak itu bisa memakan makanan hangat yang dibuat hanya untuknya.
Mungkin kedengarannya sombong untuk berpikir seperti itu, mungkin dia lebih menempatkan kepentingan kedai ini untuk Naruto daripada yang seharusnya, tapi maknanya seperti ini:
Teuchi mungkin tidak tahu apa-apa soal dunia shinobi, tapi dunia per-ramen-an adalah dunia yang sangat dia mengerti.
Jika sudah tentang ramen, mangkuk di depanmu adalah segalanya.
Teuchi berkonsentrasi sepenuh hati pada setiap mangkuk ramen yang dipersiapkannya, tanpa kompromi. Dia meletakkan rasa bangganya sebagai ahli, dan memberikan segala yang dia punya dalam membuat setiap mangkuk ramennya.
Jadi, seorang anak yang merasa bahwa semangkuk ramen itu sangat enak, yang memakan makananya dengan kebahagiaan yang meluap-luap- bagaimana bisa Teuchi mengucilkan anak itu? Itu tidak mungkin. Semua pemilik kedai ramen manapun akan mengatakan hal yang sama.
Kau harusnya duduk, dan makan semangkuk ramen di depanmu, Teuchi membentak pelanggan itu. Perkara orang yang duduk disebelahmu tidak usah dipermasalahkan. Orang yang duduk di sebelahmu cuma seseorang yang datang untuk makan ramen seperti yang lainnya. Simpel kan, jadi apa sebenarnya masalahnya?
UP SEKITAR TANGGAL 15
MAAF , SEBELUM NYA SANGAT LAMA TIDAK UP YAA