
“Aku kesini untuk memastikan bahwa ide kami tidak sama denganmu,” jelas Lee, senyum mengembang di bibirnya yang dilapisi lipstik.
“Tidak, tidak sama sekali…” Tenten mencoba untuk memasang muka datar.
“Ah, begitu ya? Syukurlah! Baiklah kalau begitu, aku akan melanjutkan latihanku!”
“Dengan penampilan seperti itu?!”
Tenten gagal mempertahankan muka datarnya. Kalau sudah soal kekonyolan Gai dan Lee, itu adalah hal yang sangat sulit.
Dia memperhatikan Lee yang berlari keluar dari tempat latihan dengan energi yang sama saat dia datang.
Tenten meregangkan badan, dan mengerang.
Dan, dengan itu…
“Baiklaaaah, custom-made kunai jawabannya!”
Dia sudah tidak ragu lagi. Tenten merasa sangat percaya diri.
Kenapa dia perlu merasa cemas? Dibanding barbel, hadiahnya lebih istimewa.
Dia merasa lega.
Bagaimana pun, dia baik-baik saja sebagaimana dirinya.
“Baiklah kalau begitu, kembali kelatihan, latihan~”
*
KA!
KA!
KA!
Bunyi senjata mengenai targetnya yang terasa menyenangkan mulai terdengar lagi.
*
Tempat latihan biasanya. Target biasanya. Metode latihan biasanya.
Dan perasaannya yang seperti biasa.
*INI BUKAN EPISODE , HANYA BAGIAN EPISODE SAJA
Daging dan Uap
Api berpendar, berkelip, dan bergoyang ke kanan dan kiri.
Kenapa orang-orang selalu merasa tenang saat melihat api?
Rasa ingin tahu itu tiba-tiba melintas di kepala Nara Shikamaru.
Itu mungkinadalah sesuatu yang sudah dimulai sejak beberapa generasi lalu, saat orang-orang masih menanti munculnya peradaban. Pada masa itu, api selalu menjadi sesuatu yang menemani setiap orang.
Api dapat menerangi sekitar mereka dan menjauhkan kegelapan malam. Api melindungi manusia dari rasa dingin dan makhluk asing. Api juga digunakan sebagai sinyal, untuk menemukan lokasi temanmu, dan untuk menemukan jalan pulang.
Berabad-abad aktivitas itu menyatu dengan kehidupan manusia, dan tentu saja juga diteruskan pada kehidupan Shikamaru sendiri. Itulah kenapa, duduk di depan api yang hangat, Shikamaru merasakan ketenangan.
Perasaan itu diteruskan melalui ‘Tekad Api’ Konoha.
Dari orangtua ke anak. Dari anak ke cucu. Dari guru ke murid. Dari teman ke teman.
Perasaan muterikat satu sama lain. Terhubung.
Mungkin Tekad Api itu dimulai dari api kecil yang bisa dengan mudah dipadamkan.
Tapi hal itu tidak lenyap. Hingga kini, hal itu masih diteruskan, dari orang ke orang, dan masih berkobar terang.
Hubungan yang menjangkau seluruh generasi itulah yang menyebabkan api begitu menenangkan. Tidak peduli sudah berapa lama waktu berlalu, setiap sel di tubuh Shikamaru sudah ditandai dengan memori orang-orang yang ada sebelumnya, dan membuatnya merasa bahwa api adalah sesuatu yang menenangkan.
Orang-orang menggunakan api untuk memasak dan duduk mengitarinya, memandangi api sambil memakan makanan mereka. Sebelum mereka menyadari apa yang sedang terjadi, mereka sudah berkumpul mengitari api bersama orang-orang tersayang.
Dulu, dan sekarang, itu adalah pemandangan yang tidak pernah berubah, kenyataannya, saat ini, Shikamaru sedang duduk di depan api yang hangat dan makan bersama sahabatnya, Akimichi Chouji.
Mengobrol. Tertawa. Bunyi dentingan alat makan. Dan yang peling penting, bunyi desis daging yang sedang dimasak.
Yakiniku Q.
Tempat biasa Shikamaru dan yang lainnya.
Di restoran barbeque seperti ini, orang-orang biasanya mengira bahwa tempat sejenis ini hanya akan ramai pada malam hari, dan tidak pada waktu sibuk seperti siang hari. Yakiniku Q adalah pengecualian, selalu penuh dengan pelanggan baik siang ataupun malam. Daging yang dijual harganya murah, dan yang terpenting adalah berkualitas tinggi, jadi restoran itu sangat populer.