Kampung Kembang

Kampung Kembang
Bab 8



Mawar sangat kesulitan melihat wajahnya karna posisinya sangat dekat dengan sungai, kalau Ia berjalan lebih maju lagi, sangat bahaya untuknya. Bisa-bisa Ia terpeleset dan terbawa arus. Apalagi arus sungai saat ini sedang deras.


Mawar langsung berjongkok memegang tangan dan bahu pria itu kemudian terpaksa membalikkan tubuh pemuda itu menjadi terlentang. Saat melihat wajahnya.


"AAAKKKHHH"


Mawar menjerit setelah melihat wajah pemuda itu. Betapa kagetnya Ia melihat wajahnya yang dipenuhi darah yang mengalir dari kepalanya.


Mawar langsung kabur, Ia lari terbirit-birit ketakutan sambil mengangkut tumpukan ranting kayu di punggungnya, saking cepatnya Mawar berlari tanpa sadar ranting kayu yang sudah ia capek-capek kumpulkan berhamburan jatuh ke tanah.


...


Sesampainya di desa..


"Tolong! Tolong! Tolong!" Teriak Mawar sambil ngos-ngosan. Para warga langsung keluar dari rumah mereka dan menghampiri Mawar.


"Ada apa neng?" Tanya warga.


Kemudian pak Wahyu yang baru saja pulang bekerja dari rumah tuan Arifin langsung melihat anaknya bersama para warga dan menghampirinya.


"Nak? kamu sedang apa disini? Ada apa?" Tanya pak Wahyu kaget.


"Ada mayat pak" Jawab Mawar yang masih ngos-ngosan. Kemudian warga mulai bertanya-tanya.


"Dimana?"


"Iya neng dimana?"


"Di dekat sungai pinggir pohon bambu" Jawab Mawar gemetaran.


"Kalau begitu ayo kita lihat kesana" Seru pak Wahyu bersama dengan warga lainnya.


Mereka langsung pergi ke hutan bersama dengan Mawar sebagai saksi kuncinya.


...


Di Hutan.


"Dimana neng?"


"Itu pak disana" jawab Mawar sembari menunjuk ke arah sungai tempat pria itu berbaring.


"Ayo kesana" para warga langsung menghampirinya.


"Astagfirullah"


"Inalillahi"


Ucap beberapa warga yang syok melihat kondisi pria itu.


Kemudian salah satu tabib yang ikut, langsung memeriksa urat nadinya.


"Hah! Masih hidup?" Mawar kaget.


"Syukurlah" Ucap beberapa warga bersyukur sekaligus ada sebagian yang kaget.


"Kalau begitu, sebaiknya kita bawa saja ke rumah saya" Ucap pak Wahyu menawar. Karna di desa ini, pak Wahyu lah RT di kampung ini yang bertugas untuk selalu membantu para warga yang sedang kesulitan.


Warga langsung beramai-ramai menggotong pria itu dan membawanya ke rumah pak Wahyu


Sesampainya disana, Bu Ayu yang sedang sakit mendengar suara orang-orang yang berada di depan rumahnya, Bu Ayu penasaran dan langsung keluar dari rumahnya.


"Ada apa ini?" Bu Ayu bertanya-tanya kemudian Bu Ayu melihat warga datang sambil menggotong pemuda itu dan membaringkannya di bangku besar teras rumah nya.


Betapa kagetnya Bu Ayu melihat wajah pemuda itu yang wajahnya dipenuhi darah, Ia langsung syok dan pingsan seketika.


"Ibu" Mawar langsung dengan cepat menahan ibunya agar tidak jatuh ke belakang dan berusaha menyadarkannya. Pak Wahyu dan Mawar langsung menggotong Bu Ayu kedalam rumah.


Sementara para warga tengah sibuk mengurus pria itu dengan membersihkan wajah dan tubuhnya dari darah.


Setelah sadar, Bu Ayu langsung menanyakan siapa orang itu? Mawar langsung menceritakannya jika Ia yang menemukan orang itu di dekat sungai dan orang itu masih hidup. Bu Ayu langsung lega mendengarnya, kemudian Ia pergi keluar melihat kondisi pemuda itu yang kini masih di urus warga secara beramai-ramai.


Bu Ayu ikut membantu mereka dengan membersihkan darah pemuda itu karna bukan hanya pada wajahnya saja yang penuhi darah tapi hampir sekujur tubuhnya. Tabib langsung memeriksa kepala pemuda itu yang terus saja mengeluarkan banyak darah.


"Sepertinya luka di kepalanya sangat parah" Ujar tabib.


"Apa orang ini masih bisa di selamatkan?" Tanya Bu Ina yang ikut membantu bersama Bu Ririn.


"Kita harus berusaha. Semoga orang ini bisa diselamatkan, maka dari itu kita harus segera menyelamatkannya" Ujar Tabib kemudian menumbuk beberapa daun herbal untuk mengobati lukanya di bantu oleh sebagian warga, tabib langsung mengobati kepalanya kemudian memberinya perban. Namun, satu perban saja masih tidak cukup karna darahnya terus mengalir menembus kain perban.


Tabib terus memberinya perban hingga berlapis-lapis diikatkan di kepala pemuda itu sampai perbannya habis, tapi tetap saja darahnya terus saja mengalir. Lalu tabib menyuruh Mawar mencari kain untuk dipasangkan di kepala pria itu


Mawar langsung masuk ke dalam rumah mencari kain untuk menutupi kepala pemuda itu agar tidak terus mengalami pendarahan.


Mawar kebingungan karna Ia tak memiliki kain lain untuk menutupi luka pemuda itu. Tak ada pilihan lain, Mawar langsung mengambil selendang berwarna putih miliknya yang biasa Ia pakai saat latihan menari. Kemudian Ia memberikannya pada tabib.


Tabib langsung menerimanya dan langsung dipasangkan di kepala pemuda itu. Tapi sebelumnya tabib membacakan doa terlebih dahulu agar darahnya tidak terus mengalir dan pria itu bisa di selamatkan.


Setelah beberapa jam kemudian akhirnya tabib dan para warga langsung tenang karna darahnya tidak mengalir lagi setelah tabib memasangkan selendang yang baru saja Ia beri doa di kepalanya.


"Akhirnya darahnya tidak mengalir lagi, semoga tuhan mengabulkan doa kita agar pemuda ini bisa di selamatkan" Ucap tabib bersyukur.


"Iya semoga saja" Timpal Bu Ririn.


"Tapi siapa orang ini? Berasal dari manakah dia" Bu Ina mulai bertanya-tanya.


"Sepertinya dia anak di desa sebelah atau bisa jadi berasal dari kota yang sengaja kabur ke kampung kita, dilihat dari pakaiannya sepertinya dia berasal dari kota" Ujar pak Edi suami Bu Ina sekaligus adik dari Bu Ayu.


Kemudian pak Wahyu menyarankan agar pria itu di baringkan di dalam rumahnya, warga langsung menggotong pria itu dan membawanya masuk ke dalam rumah pak Wahyu.