Kampung Kembang

Kampung Kembang
Bab 16



...•...


...•...


...•...


"Mawar, kamu baru datang?" Tanya Melati kaget begitupun juga Dahlia yang menatap Mawar dengan heran.


Karna sejak pagi Mawar tidak datang dan baru datang ke kebun sekarang.


"Iya, kalian datang dari pagi?" Jawab Mawar sembari bertanya juga.


"Kami selalu datang setiap pagi sesuai jadwal kerja War." Ucap Melati.


"Mawar, kenapa akhir-akhir ini kamu sering datang terlambat ke kebun? Apa kamu tidak di marahi tuan Rama karna sering datang terlambat?" Timpal Dahlia bertanya.


"Tidak Dah! Tuan Rama sudah mengizinkan aku untuk datang kapanpun yang aku mau."


Pernyataan Mawar membuat Melati dan Dahlia saling menatap kaget satu sama lain. Mereka mulai iri dengan kedekatan Mawar dan Rama.


"Wah, enak banget jadi kamu War! Sepertinya tuan Rama baiknya hanya pada kamu saja. Kita saja yang waktu itu datang terlambat sekali, langsung di marahi habis-habisan." Ketus Dahlia.


"War, berarti selama ini kamu sengaja selalu datang terlambat karna sudah diizinkan tuan Rama?" Timpal Melati bertanya. Mawar langsung menundukkan kepalanya tak menjawab.


"Berarti selama ini kamu enak ya. Datang terlambat, kerja sebentar, pulang duluan. Dan itu semua atas izin tuan Rama. Sementara kita disini, kita di suruh datang lebih pagi dan bekerja lebih banyak. Sepertinya tuan Rama lebih memilih memprioritaskan kamu dari pada kita. Tuan Rama sudah mulai pilih kasih sekarang!" Nyinyir Dahlia dengan nada emosi.


"Jangan bicara begitu Dah! Nanti kalau sampai kedengaran tuan Rama bagaimana?" Melati mencoba menenangkannya.


"Dah, kenapa kamu bicara begitu? Tuan Rama tidak pilih kasih! Dia sengaja memberi izin seperti itu karna aku punya banyak urusan." Ungkap Mawar.


"Urusan? Urusan apa? Sudahlah jangan membela diri! Asal kamu tau ya. Kamu melakukan seperti ini sama saja kamu memakan gaji buta."


Ucapan Dahlia membuat Mawar langsung naik pitam.


"Dengar ya Dah! Jangan tuduh aku sembarangan! Selama ini aku berusaha sabar mendengar setiap ucapan kamu. Tapi kali ini kamu bicara di luar batasan! Kamu tidak pernah mengerti apa yang sedang aku alami setiap hari. Kamu tidak pernah tau kegiatan apa yang sedang aku kerjakan, hanya tuan Rama saja yang tahu. Itu sebabnya tuan Rama mengizinkan aku. Kamu harus tau itu!" Mawar langsung pindah tempat setelah memarahi Dahlia.


Sembari memetik daun teh, air mata pun mulai mengalir dari pelipisnya.


Tiba-tiba Melati menghampirinya dan mencoba menenangkannya.


"Sabar ya war. Maafkan Dahlia! Dahlia memang seperti itu orangnya."


"Iya aku sudah tau Mel."


*****


Siang hari.


Saat sedang latihan menari, Dahlia memperhatikan pergerakan Mawar dengan sorot mata yang penuh dendam.


Setelah latihan menari, para penari langsung istirahat.


Saat sedang istirahat, tiba-tiba Munir datang menghampiri Mawar.


"Kang Munir mau ngapain kesini?" Tanya Mawar sambil menggiringnya menjauhi tenda.


Semua orang yang berada di tenda langsung memperhatikan mereka.


Mawar membawanya ke tepi sungai, dan mereka pun duduk di sana.


"Ada apa kang Munir kesini?


"Saya membawakan sesuatu buat kamu." Ucap Munir sambil memperlihatkan kue putu yang ia bungkus pakai daun pisang.


"Kue putu!" Seketika Mawar langsung senang.


"Ayo di makan! Kamu pasti lapar."


Mawar mengangguk-angguk sambil memakan kue tersebut yang ada di tangannya.


"Kang Munir dapat kue putu dari mana?" Tanya Mawar sambil mengunyah.


"Dari rumah tuan Arifin."


Mendengar jawaban Munir, membuat Mawar langsung batuk-batuk.


"Kenapa?" Tanya Munir kaget.


"Tidak! saya ingin bertanya, Tuan Arifin yang memberi ini?"


"Tidak! Saat tuan Arifin sedang mengobrol dengan para warga. Diam-diam saya masuk ke dalam rumahnya, saya membuka lemari yang ada di dapur dan menemukan ini. Lalu diam-diam saya mengambilnya." Jelasnya.


"Kang Munir! Kenapa kang Munir berani sekali? Kalau sampai ketahuan tuan Arifin, kita bisa dalam bahaya." Tegur Mawar.


"Kamu tidak usah khawatir, saya melakukannya dengan hati-hati kok."


"Lainkali jangan lakukan itu lagi." Ucap Mawar memperingatkannya.


"Baiklah kalau begitu, saya mau kembali lagi bekerja di rumah tuan Arifin."


"Belum selesai?"


"Belum!"


"Lalu kenapa kang Munir bisa kemari?" Tanya Mawar berdenyit heran.


"Kebetulan tadi tuan Arifin sedang pergi, entah pergi ke mana? Jadi saya pergi dulu untuk menemui kamu."


"Ya sudah kalau begitu, kang Munir pergi sekarang, keburu tuan Arifin kembali."


"Baik, saya pergi dulu yaa!" Pamit Munir.


...----------------...


...Bersambung....