Kampung Kembang

Kampung Kembang
Bab 7



Mawar langsung menoleh kesamping.


"Tuan Rama" Mawar terkejut saat melihat orang yang memanggilnya adalah Rama yang mengenakan kaos putih dan topi caping yang sama seperti seorang petani sambil mengangkut keranjang yang biasa di pakai untuk mengumpulkan daun teh.


"Sedang apa tuan Rama disini?" Tanya Mawar.


"Suttt! Pelankan suaranya, saya disini sedang menyamar. Saya kesini hanya untuk menemui kamu saja. Kakimu bagaimana? Sudah sembuh?" Tanya Rama sambil ikut-ikutan memetik daun teh dan memasukannya ke keranjang Mawar.


"Alhamdulillah, saya sudah sembuh tuan, berkat obat merah yang selalu tuan kasih. Saya sekarang sudah sembuh, obat itu sangat manjur luka saya jadi cepat kering kalau pakai obat itu" Ungkap Mawar sambil tetap fokus memetik daun teh.


"Syukurlah" Ucap Rama lega.


"Apa saya boleh bertanya sesuatu hal?" Tanya Rama sambil terus memetik daun teh dan memasukannya ke keranjang Mawar.


"Apa tuan?" Tanya Mawar.


"Apa kamu masih marah pada saya?" Tanya Rama. Mawar langsung berhenti sejenak dan menatap Rama.


"Tidak tuan" Jawab Mawar sambil tersenyum lalu kembali melanjutkan memetik daun teh.


"Soal waktu itu yang ayah saya lakukan pada kamu, sekali lagi saya minta maaf atas kelakuannya. Saya tidak menyangka, ayah saya bisa berbuat serendah itu. Sebagai seorang anak, saya sangat kecewa dan benar-benar malu. Tolong maafkan apa yang telah diperbuat ayah saya. Kamu anggap saja apa yang waktu itu pernah ayah saya lakukan pada kamu itu, anggap saja ayah saya sedang khilaf" Ucap Rama dengan nada pelan.


Ucapan Rama membuat Mawar yang tadinya sudah tak ingin mengingat kejadian itu kini teringat kembali saat Rama mengatakannya lagi, Ia langsung murung dan trauma, hatinya hancur. Hingga tanpa Ia sadari perlahan matanya meneteskan air mata, segera Ia menghapus air matanya saat sudah keluar.


"Tuan Rama tidak perlu minta maaf. Saya sudah memaafkan tuan Arifin meskipun tuan Arifin tidak pernah mengucapkannya. Tapi, saya sudah memaafkannya" Ucap Mawar sembari mencoba tersenyum kembali.


"Terimakasih Mawar, tapi saya masih merasa permintaan maaf saya ini masih belum cukup atas kejadian yang menimpa kamu. Tapi, saya masih bersyukur kamu menepati janji kamu untuk tidak menceritakan kejadian ini pada siapapun. Saya harap kejadian yang pernah kamu alami, kamu jadikan ini rahasia sampai kapanpun. Saya pastikan kejadian yang waktu itu tidak akan terulangi lagi selamanya, hingga waktu berikutnya saya janjikan itu. Saya akan selalu menjaga kamu dan melindungi kamu dari hal-hal yang buruk. Ini janji saya, asalkan kamu masih setia menyimpan rahasia ini sampai kapanpun" Ucap Rama pada Mawar sembari menatap tajam.


Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak menghampiri mereka.


"Eh neng bunga Mawar yang cantik! Merah merona seperti orangnya" Goda bapak-bapak itu yang bernama pak Darma.


Mawar dan Rama langsung terkejut, Rama berusaha menutupi wajahnya dengan topi capingnya.


"Neng bagaimana? Sudah sembuh?" Tanya pak Darma.


"Alhamdulillah sudah pak" Jawab Mawar sopan.


"Alhamdulillah, eh keranjang teh nya sudah penuh belum?" Tanya pak Darma.


"Sebentar lagi pak" Jawab Mawar.


"Kata tuan Arifin setelah ini kumpulkan ranting kayu ya dan kirimkan ke rumahnya" Ucap pak Darma mengirim pesan dari tuan Arifin.


"Baik pak Darma" Ucap Mawar anggun.


Kemudian pak Darma langsung melirik orang yang berada disamping Mawar yang merupakan Rama.


"Loh, orang ini siapa ya?" Pak Darma menunduk berusaha melihat wajah orang yang di tutupi topi caping itu. Dengan cepat Rama langsung kabur agar tidak ketahuan, pak Darma langsung kaget melihatnya yang tiba-tiba berlari begitu saja. Padahal Ia belum sempat melihat wajahnya.


"Siapa orang itu neng?" Tanya pak Darma pada Mawar.


"Sepertinya salah satu anak warga disini pak" Jawab Mawar bohong.


"Oh kok dia kabur ya?" Gumam pak Darma.


Tidak lama kemudian. Tuan Arifin datang dengan menggunakan tongkatnya, para pekerja yang sedang berleha-leha langsung panik dan berlarian kesana-kemari.


"Sudah selesai pekerjaannya?" Tanya tuan Arifin dengan nada tinggi.


"Sebentar lagi tuan" Jawab salah satu pekerja.


"Sudah berapa banyak daun teh yang sudah di kumpulkan?" Tanya tuan Arifin pada salah satu pegawai.


"40 kg tuan" Jawab seorang pekerja yang lain.


"Apa 40 kg? Kerja dari pagi sampai sekarang baru 40 kg daun yang kalian kumpulkan? Sejak pagi sampai sekarang kalian kemana saja? Sampai mengumpulkan daun baru 40 kg?" Tuan Arifin langsung naik pitam. Para pekerja hanya bisa tertunduk diam.


"Kalian tahu kan, target mengumpulkan daun teh perhari itu 100 kg dan kalian dari pagi sampai menjelang sore baru mengumpulkan 40 kg? Ingat! Jangan berhenti sampai memenuhi target 100 kg! Meskipun sampai tengah malam! Kalau masih belum memenuhi target? Gaji kalian semua akan saya kurangi!" Perintah tuan Arifin sambil mengancam. Semua pekerja langsung bekerja dengan gesit.


Kemudian Tuan Arifin kembali berjalan melihat para pekerja yang tengah bekerja setelah itu Ia melihat Mawar dan menghampirinya.


"Apa kamu dengar apa yang tadi saya katakan? Kamu mengerti?" Tanya Tuan Arifin pada Mawar. Mawar tidak menjawab, Ia hanya menganggukan kepalanya pelan tanpa melihatnya.


"Setelah ini nanti kamu pergi ke hutan dan kumpulkan ranting dan kirimkan ke rumah saya" perintah tuan Arifin. Mawar hanya masih menjawabnya dengan gaya yang sama.


Tuan Arifin langsung kesal karna menurutnya sikap Mawar tak sopan yang menjawabnya dengan sekedar anggukan.


"Setidaknya jawablah dengan mulut kamu dan tatap mata saya! Jangan menunduk terus!" Bentak tuan Arifin.


"Mengerti tidak?" Tanya lagi tuan Arifin dengan nada keras sambil memukul keranjang Mawar dengan tongkatnya.


"Mengerti tuan" Jawab Mawar gemetar.


"Bagus" Tuan Arifin langsung pergi dengan puas, sementara Mawar hanya bisa menangis karna setiap melihat wajah tuan Arifin pasti Ia akan teringat kejadian malam itu yang membuatnya trauma.


...


Di Hutan.


Mawar akan mengumpulkan ranting kayu, saat akan bekerja, Mawar kaget melihat Rama sudah ada di depannya sambil membawa setumpuk Ranting.


"Ini, saya sudah mengumpulkannya tadi saat kamu masih memetik daun teh. Jadi, sekarang kamu tidak perlu repot-repot lagi mencari ranting kayu" Ucap Rama sambil memberikan ranting yang sudah Ia kumpulkan pada Mawar.


"Tuan, kenapa tuan repot-repot? Ini pekerjaan saya, kalau tuan Arifin tau pasti tuan Arifin akan marah besar" Ucap Mawar keberatan.


"Tidak akan, saya kan hanya membantu kamu saja. Kamu kan baru sembuh tidak baik kalau banyak bekerja, nanti kamu antarkan ranting kayu ini. Kamu jangan beritahu siapapun kalau saya membantu kamu termasuk ayah saya. Kalau ada yang bertanya, beritahu saja kalau kamu yang mengumpulkan ranting kayu ini" Ucap Rama.


"Terimakasih tuan" Mawar terharu.


"Sama-sama, sekarang sana antarkan ranting nya, sesampainya di sana kamu simpan rantingnya di dekat jerami. Setelah itu kamu pulang dan istirahat yang banyak" Ucap Rama sambil tersenyum.


"Tuan tidak pulang?" Tanya Mawar penasaran.


"Saya mau mengawasi dulu para pekerja disini, setelah selesai baru saya pulang" Jawab Rama. Mawar mengangguk kemudian pergi.


...


Malam hari.


Setelah selesai mengantarkan ranting, Mawar langsung pulang ke rumahnya, sebelum masuk Ia mencuci kaki dan sepatunya terlebih dahulu di luar, karna saat di hutan tanah disana basah akibat hujan kemarin, sehingga sepatu boots yang dikenakan Mawar dipenuhi dengan lumpur.


Saat masuk, Mawar mendapati ibunya sedang berbaring di ranjang sambil batuk-batuk.


"Ibu? Ibu kenapa?" Tanya Mawar khawatir, karna baru saja tadi siang Ia melihat ibunya sehat-sehat saja.


"Penyakit ibu kambuh lagi nak" Jawab Bu Ayu.


"Ibu sudah minum obat?" Tanya Mawar sambil memberikan secangkir air. Ibunya hanya menjawab dengan menggelengkan kepala sambil terus batuk-batuk.


"Kalau begitu ibu makan dulu, setelah itu ibu minum obat" Saran Mawar, sambil mencari makanan di dapur.


"Nak, tidak ada makanan, sejak tadi siang ibu tidak masak apa-apa karna persediaan kayu bakar yang kita punya sudah habis" ucap Bu Ayu.


"Apa? Persediaan kayu bakar kita sudah habis" Mawar kaget dan langsung melihat keluar dan ternyata benar tidak ada satupun kayu bakar yang tersisa. Mawar kembali masuk ke dalam rumah.


"Kalau begitu, Mawar mau mencari kayu bakar dulu ya Bu ke hutan" ucap Mawar sambil mengambil samping untuk mengangkut kayu.


"Jangan nak, ini sudah malam sebaiknya kamu cari kayu bakar nya besok saja" Cegah Bu Ayu.


"Tidak apa-apa Bu, Mawar akan mencarinya sekarang agar besok kita tidak perlu mencarinya mendadak" Ucap Mawar. Bu Ayu hanya bisa diam sambil batuk-batuk. Mau bagaimana lagi, bagaimanapun menurutnya perkataan mawar memang selalu benar. Mawar langsung pergi ke hutan.


...


Sesampainya di hutan, Mawar langsung mencari ranting kayu, saat mencari, Ia kesulitan mencari ranting kayu yang kering karna hampir semua ranting kayu basah karna kehujanan kemarin.


Setelah berjam-jam mencari ranting, akhirnya Mawar berhasil mengumpulkan ranting kayu yang banyak meskipun sebagiannya ada yang sedikit basah akibat lumpur. Ia mengikat kuat tumpukan rantingnya dengan sampingnya dan bersiap untuk pulang, saat akan pulang. Tanpa sengaja Ia melihat ada seorang pemuda berbaring di pinggir sungai.


Mawar merasa aneh. Ia mulai berpikir kenapa ada orang yang tidur di pinggir sungai apalagi di tengah malam begini. Mawar langsung menghampiri pemuda itu dan berniat akan membangunkannya. Perlahan-lahan Mawar berjalan mengendap-endap layaknya seorang pencuri yang akan mencuri ikan.


Sesampainya disana, Mawar penasaran dengan pria itu karna pria itu berbaring dengan posisi miring menghadap ke sungai.


"Permisi, kang? Akang sedang tidur?" Celetuk Mawar bertanya.


"Akang jangan tidur disini! Tidak baik tidur di pinggir sungai, banyak nyamuk! Bahaya!" Mawar berusaha membangunkannya tapi orang itu tidak merespon.


"Kang? Akang? Akang bangun!" Panggil Mawar sambil menepuk-nepuk bahunya.


"Ini siapa ya? Kok gak bangun-bangun? Apa dia warga disini? Tapi siapa ya?" Gumam Mawar sambil menengok ke kanan dan ke kiri memastikan apakah masih ada orang lain lagi yang bersamanya atau tidak? Ternyata tidak ada lagi orang satupun di hutan selain dirinya dan pemuda yang sedang berbaring ini.


Karna hari sudah tengah malam siapapun tidak ada yang berani masuk ke dalam hutan ditengah malam begini selain Mawar yang memiliki nyali yang kuat.


"Kang! Akang! Akang bangun!" Mawar terus memanggil-manggilnya namun orang itu masih saja tidak meresponnya.


"Kok tidak bangun-bangun ya? Kenapa ya?Jangan-jangan orang ini sudah meninggal" Mawar langsung ketakutan saat Ia berpikir seperti itu. Mawar langsung menutup mulutnya dengan tangannya karna kaget dengan ucapannya sendiri. Lalu Ia berjalan mundur pelan-pelan.


"Tidaakk! Aku tidak boleh takut! Aku harus melihat wajahnya! Siapa tau aku kenal, agar aku bisa memberitahu warga" Gumam Mawar berusaha memberanikan diri untuk melihat wajah orang itu.