
Malam hari.
Setelah selesai latihan menari. Di perjalanan pulang, pemuda itu mengajak ngobrol Mawar untuk menghilangkan keheningan yang ada.
"Mawar tadi kamu menari bagus sekali." Puji pemuda itu.
"Benarkah? Tapi Bu Nari masih memprotesku karna cara menariku masih tidak bagus."
"Setiap hari kamu latihan?"
"Iya!"
"Tapi buat apa setiap siang kamu latihan menari terus sampai malam? Apa kamu tidak lelah setelah bekerja seharian?"
"Iya aku harus di wajibkan latihan menari setiap tahun, karna sebentar lagi ulang tahun tuan Rama. Setiap tahun, tuan Rama selalu merayakan hari ulang tahunnya dengan mengadakan tarian."
"Wah, harus semewah itu kah merayakan ulang tahunnya? Memangnya Rama di sini siapa? Kenapa para warga di sini menurut sekali pada perintahnya dan begitu memujanya?"
"Tuan Rama itu anak Tuan Arifin kepala desa di sini sekaligus orang terkaya di desa ini. Tuan Arifin sudah memberi para warga pekerjaan. Jadi para warga di sini sangat menghormatinya."
"Oh begitu!"
*****
Setelah sampai di rumah.
Mawar, kedua orang tuanya, dan pemuda itu sedang makan malam bersama.
"Ayo tambah lagi nak ikannya." Tawar pak Wahyu pada pemuda itu.
"Pak, apa di sini tidak ada daging? Dari kemarin makannya ikan dan sayur terus." Keluh pemuda itu.
"Tidak ada nak, karna kami makan seadanya saja. Tidak ada uang untuk membeli daging." ucap Bu Ayu.
"Nak, beginilah kehidupan kami. Makan seadanya, namanya juga keluarga miskin ya beginilah. Kalau kamu mau makan daging nanti saya akan berusaha untuk membelikannya kalau ada uang." Ucap pak Wahyu sambil tersenyum letih.
"Tidak apa-apa pak. Saya tidak keberatan kok makan seadanya." Ucap pemuda itu dengan lesu.
"Pak, tadi kata tuan Rama. Akang ini harus punya nama di desa kita. Kita harus memberinya nama sementara sampai ingatannya kembali pulih. Agar dia punya nama di sini." Saran Mawar.
"Iya yah, kamu benar juga." Ucap pak Wahyu baru kepikiran.
"Bayu bagaimana?" Ide Mawar.
"Bayu anaknya pak Wisman. Kita harus mencari nama yang lain yang tidak sama dengan nama warga di sini." Ucap pak Wahyu. Lalu mereka mulai kembali berpikir.
"Asep saja bagaimana? Nak Asep kan tahun kemarin sudah meninggal. Jadi belum ada nama Asep lagi di kampung kita." Ide Bu Ayu.
"Jangan Bu, sepertinya itu tidak cocok sama akang! Akang ini penampilannya seperti orang kota jadi kita harus memberi nama yang bagus untuknya." Tukas Mawar.
"Ah, kalian beri saya nama apa saja. Saya tidak keberatan kok, yang penting saya punya nama di desa ini." Ujar pemuda itu.
"Wahyu saja bagaimana?" Ide Mawar.
"Wahyu kan nama bapak kamu!" Tegas Bu Ayu sambil mengerucutkan bibirnya. Pemuda itu langsung tertawa.
"Munir saja bagaimana?" Ide pak Wahyu.
"Munir?" Bu Ayu dan Mawar kebingungan.
"Begini saja kita menemukannya saat di sungai. Saat itu sungai sedang deras-derasnya. Bagaimana kalau kita menamainya Munir? Munir belakangnya 'ir' yang di ambil dari kata mengalir." Jelas pak Wahyu.
"Benar pak, ibu setuju!"
"Sepertinya Mawar masih kurang setuju Bu, karna pemuda ini berasal dari kota jadi namanya harus bagus seperti orang kota juga." Bantah Mawar.
"Ihh... Kamu ini belum tentu dia berasal dari kota! Yang penting dia punya nama di desa ini. Apalagi sepertinya namanya sudah sesuai dengan desa ini." Ucap Bu Ayu.
"Iya, saya sangat setuju dengan nama itu! Saya tidak keberatan. Saya suka nama itu yang terkesan bagus untuk saya." Ucap pemuda itu setuju.
"Tuh kan lihat! Dia saja suka dengan namanya. Mulai sekarang nama kamu Munir ya." Ucap Bu Ayu.
"Baik Bu." Ucap pemuda itu mengangguk senang yang kini sudah mempunyai nama yaitu Munir.
"Pokoknya Mawar tidak setuju! Besok Mawar akan carikan nama yang lebih bagus untuknya." Ucap Mawar kekeh lalu pergi.
...*****...
...Bersambung....