Kampung Kembang

Kampung Kembang
Bab 11



Siang hari.


Para pekerja sedang bekerja di sawah. Kebetulan rumah Mawar berada disekeliling sawah. Pemuda itu keluar untuk melihat para pekerja yang bekerja.


"Sedang apa pak?" Tanya pemuda itu pada seorang bapak, sebut saja pak Wisman yang sedang menanam benih padi.


"Den ini siapa ya?" Tanya pak Wisman kaget.


"Saya tidak tau pak. Bapak sendiri siapa?" Tanya balik pemuda itu.


"Masa nama sendiri tidak tau?" Pak Wisman berdenyit aneh.


"Kata Mawar. Saya ini orang yang di tolong Mawar dan warga yang waktu itu tergeletak di pinggir sungai."


Pak Wisman langsung berpikir sejenak sembari mengingat-ingat.


"Oh. Saya ingat. Jadi den orang yang waktu itu. Den masih hidup? Syukurlah akhirnya den sadar juga. Saat itu saya juga turut ikut membantu para warga untuk menolong aden. Waktu itu wajah aden berlumuran darah. Jadi susah di kenali. Sekarang wajah aden sudah bersih makanya saya kaget."


"Benarkah? Bapak waktu itu turut andil menolong saya. Kalau begitu terima kasih banyak pak sudah mau menolong saya."


"Alhamdulillah.. Sama-sama den. Aden sekarang sudah sembuh? Waktu itu Aden belum bangun-bangun. Di kira warga, den sudah mati saat di periksa tabib ternyata Aden masih hidup."


Tidak lama kemudian Mawar datang.


"Kang? Akang sedang apa disini?"


"Saya sedang mengobrol dengan bapak ini."


"Neng Mawar! Ini orang itu kan yang waktu itu kita tolong sama-sama?" Tanya pak Wisman pada Mawar.


"Iya pak Wisman. Ini orang yang waktu itu kita tolong. Dia masih belum sembuh pak. Dia hilang ingatan. Tabib menyuruhnya untuk selalu istirahat."


"Apa? Hilang ingatan" Pak Wisman langsung kaget.


"Saya tidak mau istirahat!" Tolak pemuda itu.


"Kenapa kang? Akang kan belum sembuh." Desak Mawar bingung.


"Saya bosan kalau harus berbaring terus di kasur. Saya butuh udara. Disana sesak dan banyak jerami. Gerah lagi. Nanti saya tambah sakit gimana? Saya tidak mau." Keluh pemuda itu sembari mencela rumah Mawar.


"Jangan gitu Den! Aden kan belum sembuh, harus banyak istirahat." Ujar pak Wisman.


"Iya kang, bener kata pak Wisman. Akang harus istirahat biar cepat sembuh."


"Ya sudah kalau begitu. Saya istirahat, tapi saya maunya berdiam diluar saja. Saya tidak mau masuk ke dalam. Saya sesak." Ucap pemuda itu dan tak lupa sembari sedikit mencela rumah Mawar.


Mawar mengangguk sembari menuntunnya dengan raut wajah yang sedikit kesal.


Saat berjalan... Tak lama kemudian Dahlia dan Melati memanggilnya untuk mengajaknya latihan menari.


"Mawar!"


"Melati, Dahlia!"


"Loh akang ganteng ini siapa?" Tanya Melati.


"Ini orang yang waktu itu aku ceritakan ke kalian." Jawab Mawar.


"Oh, ini orang yang di sungai waktu itu kan?" Tanya Dahlia.


"Iya!" Ucap pemuda itu ikut menjawab.


"Eh kang ganteng. Kenalkan aku Melati. Temannya Mawar sejak kecil." Rayu Melati sambil memperkenalkan diri. Pemuda itu menjabat tangan Melati.


"Hai Melati. Kenalkan saya..." Pemuda itu langsung diam saat Ia sadar kalau Ia tidak ingat namanya siapa.


"Akang? Kenapa diam?" Tanya Melati.


"Melati, Dahlia. sebenarnya..." Mawar memperlambat ucapannya.


"Kenapa War?" Tegas Dahlia ingin tahu.


"Orang ini sedang hilang ingatan!" Ucap Mawar memberitahu.


"Hilang ingatan? Hilang ingatan itu apa?" Melati langsung kaget sebentar kemudian bertanya. Dahlia langsung menepuk kepala Melati.


"Dasar bodoh! Hilang ingatan itu artinya dia gak punya ingatan." Ketus Dahlia.


"Oh gitu. Tapi aku gak ngerti!" Ucap Melati polos. Dahlia menepuk jidatnya. Pemuda itu langsung tertawa kecil.


"Maksudnya orang ini hilang ingatan seperti dia tidak tahu namanya siapa? Dia tinggal dimana? Keluarganya siapa?" Jelas Mawar memberitahu.


"Ohh.. kok bisa begitu ya War? Eh kang ganteng kok akang gak bisa ingat nama akang siapa? Memangnya keluarga akang gak kasih akang nama?" Tanya Melati lagi dengan polosnya. Dahlia langsung kesal menyenggol bahunya.


"Dasar bodoh! Namanya juga hilang ingatan." Ucap Dahlia kesal.


"Sudah dulu ya! Aku mau antar akang ini istirahat dulu. Kalian kalau mau pergi latihan, duluan saja." Ucap Mawar.


"Baiklah.. kita pergi duluan ya!" Pamit Dahlia.


"Kamu saja Dah yang pergi duluan! Aku mau bareng sama Mawar saja." Ucap Melati sembari tersenyum melirik wajah tampan pemuda itu.


Kemudian Dahlia menarik paksa tangan Melati dan membawanya pergi. Setelah berlalu, Mawar membawa pemuda itu kembali berjalan ke rumahnya.


"Teman kamu lucu juga ya War!" Ucap pemuda itu sambil tertawa. Mawar tak menjawab.


Setelah sampai di depan rumah...


"Kalau begitu akang duduk disini saja ya! Jangan banyak jalan! Akang masih sakit. Saya mau pergi dulu."


"Kemana??" Tanya pemuda itu penasaran.


"Kalau begitu saya boleh ikut?" Pinta pemuda itu.


"Tidak boleh! Akang harus istirahat disini. Jangan kemana-mana!" Tegas Mawar lalu pergi.


Pemuda itu langsung cemberut.


Tapi tak lama kemudian, pemuda itu diam-diam mengikutinya menuju Aula yang berada di dekat sungai.


*****


Tengah hari.


Mawar keasikan latihan menari dengan teman-temannya. Ia tak menyadari kalau pemuda itu tengah memperhatikannya dari belakang sambil tersenyum memperhatikan Mawar yang sedang menari.


Tak lama... Ada seseorang yang menepuk bahu Pemuda itu.


Pemuda itu langsung berbalik ke belakang dan melihat seseorang yang menepuk bahunya yaitu Rama dengan tatapannya yang dingin.


Pemuda itu langsung kaget.


"Sedang apa kamu disini?" Tanya Rama penuh curiga.


"Ah saya..." Belum selesai pemuda itu bicara. Rama langsung menyelanya.


"Kamu orang yang disungai itu kan? Yang Mawar ceritakan waktu itu." Tebak Rama.


"I-iyaa!" Jawab pemuda itu gugup.


"Siapa nama kamu?" Tanya Rama yang masih dengan tatapan dinginnya. Pemuda itu langsung menggelengkan kepalanya.


"Saya tidak tau!"


"Apa tidak tau? Kamu jangan bercanda ya!" Bentak Rama sembari menarik kerah bajunya. Pemuda itu langsung takut.


"Benar saya tidak tahu!" Ucapnya sembari ketakutan.


"Bagaimana saya bisa membantu kamu mengantarkan kamu ke keluarga kamu? Kalau kamu sendiri menjawab dengan candaan dan tidak serius begini." Pekik Rama.


Tanpa sengaja saat Mawar tengah menari, Ia melihat pemuda itu disana bersama Rama. Melati dan Dahlia juga melihat Rama dan pemuda itu berbincang. Mawar langsung berhenti menari dan menghampiri mereka berdua yang tengah berada di bawah diikuti Dahlia dan Melati di belakangnya.


"Tuan? Akang? Kalian disini?" Tanya Mawar mengagetkan mereka.


"Mawar.." Belum selesai pemuda itu bicara Mawar langsung memotongnya.


"Akang ngapain disini? Sudah saya bilang akang harus istirahat? Kenapa akang mengikuti saya kemari!" Gertak Mawar dengan nada kesal.


"Saya bosan di rumah terus! Itu sebabnya saya mengikuti kamu!" Jawab pemuda itu dengan nada kesal juga.


"Mawar, siapa orang ini? Tadi saya menanyakan namanya tapi dia malah mengajak saya bercanda!" Tanya Rama dengan nada kesal.


"Maaf tuan. Sebenarnya orang ini sedang hilang ingatan. Dia tidak tau namanya siapa?" Jelas Mawar.


"Apa? Hilang ingatan?" Rama kaget.


"Benar tuan!" Melati angkat bicara.


"Iya tuan!" timpal Dahlia ikut nimbrung.


"Maafkan saya! Saya kira kamu tadi mengajak saya bercanda." Ucap Rama dengan raut wajah menyesal pada pemuda itu.


Pemuda itu mengangguk sambil tersenyum.


"Tidak apa-apa!"


"Kalau begitu, kenapa dia tidak di bawa ke rumah sakit? Dia harus mendapat perawatan medis di kondisinya yang seperti ini." Tanya Rama pada Mawar.


"Bagaimana cara membawa orang ini ke rumah sakit tuan? Karena jarak dari desa ke rumah sakit itu jauh tuan. Butuh waktu 15 hari untuk jalan kaki agar bisa sampai kesana." Ujar Dahlia mewakili Mawar.


"Kamu benar juga memang jarak dari sini ke rumah sakit memang jauh. Tapi kalau pakai mobil Jeep saya pasti 4 hari saja sudah sampai." Ucap Rama membuat pemuda itu langsung menunjukan raut wajah yang mulai senang.


"Kalau begitu tolong antar saya ke rumah sakit pakai mobil kamu. Saya ingin sembuh. Saya ingin ingatan saya segera kembali. Agar saya bisa kembali ke keluarga saya." Pinta pemuda itu memohon.


"Iya, saya mohon tuan tolong antarkan orang ini ke rumah sakit." Pinta Mawar memohon juga dengan wajah memelas.


Rama hanya menatap Mawar penuh kasihan. Kemudian ia kembali menatap tajam pemuda itu sembari berkata...


"Baiklah... Saya akan mengantar kamu ke rumah sakit, tapi mulai besok bagaimana? Agar saya bisa menyiapkan mobil Jeep saya. Kalau menggunakan mobil yang satu lagi mesinnya tidak bisa dibawa jauh."


"Tidak apa-apa tuan. Yang penting kita bisa membawanya ke rumah sakit." Ucap Dahlia yang di ikuti anggukan Melati.


"Mawar. Besok kamu ikut ya temani saya mengantarkannya." Pinta Rama.


"Saya ikut tuan!" Pinta Melati pada Rama.


"Saya juga tuan!" Timpal Dahlia ingin ikut juga.


"Tidak bisa! Kalian berdua besok harus tetap bekerja. Biar saya saja dan Mawar yang pergi kesana." Tolak Rama.


"Saya mohon tuan! Tidak apa-apa Dahlia saja yang disini. Tapi izinkan saya ikut menemani Mawar. Dahlia sudah pernah ke kota. Sementara saya belum pernah sama sekali. Saya ingin tau kota itu bentuknya seperti apa? Apa disana juga ada kerbau dan selokan juga." Rengek Melati memohon dengan wajah memelas.


"Kamu pikir kita ini pergi ke kota hanya untuk jalan-jalan hah??" Rama mulai emosi. Mawar mencoba melerainya.


"Ah tuan. Maaf tolong izinkan teman-teman saya untuk ikut juga. Semakin banyak yang ikut semakin aman untuk kita pergi ke kota." Pinta Mawar.


Rama tidak bisa berkata apa-apa lagi Ia tidak bisa menolak permintaan Mawar. Rama langsung menyetujuinya


...*****...