Kampung Kembang

Kampung Kembang
Bab 1



20 tahun kemudian


Tahun 1940


Anak dari Bu Ayu, Ina, dan Ririn kini telah tumbuh dewasa dan cantik, 20 tahun berlalu akhirnya yang mereka harapkan benar-benar terjadi, kini sekarang ketiga putri mereka yaitu Mawar, Melati, dan Dahlia dijuluki kembang desa di kampung ini. Hanya saja masing-masing dari mereka memiliki penampilan dan sifat yang berbeda


Mawar, tumbuh menjadi gadis yang cantik, anggun, dan polos. Ia memiliki ciri khas tersendiri yaitu selalu memakai kebaya berwarna merah yang sesuai dengan namanya Mawar. Ia dikenal sebagai gadis yang sangat cantik di desa ini, berhidung mancung dan memiliki tahi lalat di atas bibirnya menambah kesan menarik dan banyak sekali pemuda di desa yang tergila-gila padanya. Hanya saja Mawar tak berpendidikan.


Dahlia, sebagai saudari Mawar dan sahabat dari Melati tumbuh sebagai gadis yang tak kalah cantik dari Mawar, memiliki kulit hitam manis. Ia selalu memakai kebaya berwarna ungu sesuai dengan namanya. Dahlia memiliki sifat yang berbeda dari Mawar. Ia dikenal sombong, angkuh, sok cantik, dan sok pintar. Di kampung ini hanya Dahlia saja yang berpendidikan sampai kelas 3 SD. Karna saat itu Dahlia pernah bersekolah saat ayahnya di tugaskan oleh tuan Arifin untuk berdagang ke kota.


Melati, semakin dewasa kecantikannya tak jauh berbeda dari Mawar dan Dahlia, sifatnya sama seperti Mawar baik, anggun, namun lebih polos dari Mawar. Melati selalu memakai kebaya berwarna putih sesuai namanya Melati. Melati memiliki badan yang sedikit gemuk dan sering memakai make up milik ibunya saat usianya masih 12 tahun, sehingga wajahnya sering berjerawat. Melati sering dijuluki wanita bodoh oleh Dahlia karna sifatnya yang terlalu polos serta tak berpendidikan seperti Mawar.


.....


Di kebun teh.


Mawar, Melati, dan Dahlia sedang memetik daun teh, sembari memetik daun teh mereka saling berbincang satu sama lain.


"Eh, sudah 2 Minggu aku tidak lihat tuan Rama, tuan Rama kemana ya?" Melati menanyakan keberadaan Rama anak dari tuan Arifin


"Waktu itu aku bertemu tuan Rama katanya dia mau pergi ke kota buat menyelesaikan wisudanya." Ujar Dahlia memberitahu.


"Wisuda itu apa?" Tanya Mawar pada Dahlia.


"Masa tidak tau, wisuda itu.... Emm...?" Dahlia berpikir sejenak


"Oh wisuda itu, kalau orang yang selesai sekolah pasti bakal wisuda, tuan Rama kan berpendidikan, aku juga tidak tau wisuda itu apa? Nanti kalau tuan Rama pulang kalian tanyakan saja sendiri." Lanjut Dahlia sembari memetik daun teh.


Tak lama kemudian.


"Eh, keranjangku sudah banyak nih." Ucap Dahlia senang.


"Loh kok sudah lagi?" Melati terkejut.


"Iyalah, aku memetiknya sama batangnya jadi cepat dan banyak, sementara kalian bodoh malah daunnya saja yang di petik. Akan lama penuhnya nanti." Cibir Dahlia.


"Dah, kalau petik daun teh itu daunnya saja jangan sama batangnya, nanti tuan Arifin marah." Mawar memperingatkan Dahlia.


"Tidak akan marah kalau tidak ada yang memberitahu, paling nanti si tuan Arifin itu mikir, kalau ini punya orang lain bukan punya aku, yang petik daun teh disini banyak bukan kita saja, lagian kalau kalian menuruti terus perintah tuan Arifin, sampai kapanpun pekerjaan kalian tidak akan selesai? Ingat! Nanti siang kita harus latihan menari." Ketus Dahlia lalu pergi.


Setelah Dahlia berlalu pergi, Melati mulai membicarakan Dahlia pada Mawar.


"Si Dahlia licik banget ya. Bagaimana tidak penuh coba, kalau petiknya sama batangnya juga."


"Kamu kayak yang tidak tau saja sifat Dahlia kayak gimana, Dahlia kan memang begitu, sudah cepat! Jangan banyak bicara lagi, kita harus memetik daun teh ini sampai penuh, biar kita tidak ketinggalan latihan." Ucap Mawar buru-buru sambil melanjutkan memetik daun teh.


*****


Pukul 2 siang.


Para gadis di desa sedang latihan menari, mereka di ajari oleh guru senior mereka yaitu sebut saja bu Nari.


Saat menari, Dahlia memperhatikan Mawar yang berada di posisi depan di barisan ketiga sementara Dahlia berada di barisan keempat posisi tengah, Dahlia terus memperhatikan cara Mawar menari.


"Sutt, Mawar!" Panggil Dahlia, Mawar langsung berbalik ke belakang.


"Bukan begitu caranya, kakinya lebih diangkat ke atas kayak gini." Sewot Dahlia sambil memperlihatkan cara menarinya.


Mawar mengangguk dan ia kembali menari mengikuti arahan dari Dahlia.


"Dasar bodoh! Masih salah, kakinya lebih di angkat lagi ke atas." Sewot Dahlia, Mawar terus menari mengikuti aba-aba Dahlia.


Tiba-tiba Bu Nari melihat Dahlia yang dari tadi terus mengajak ngobrol Mawar yang sedang menari.


"Dahlia, bukannya menari malah ngobrol, cepat menari!" Tegur bu Nari.


"I-iya bu." Dahlia langsung menari di depan Bu Nari.


"Bukan begitu caranya! Kakinya jangan terlalu diangkat ke atas! Kamu mau menari atau mau silat? Cepat yang benar latihannya! Jangan dulu mengajari orang lain kalau diri sendiri saja masih tidak becus!" Bentak Bu Nari, semua orang disana langsung menertawakannya termasuk Mawar, Dahlia langsung melototi Mawar.


*****


Malam hari.


hujan turun dengan deras diiringi suara petir yang menggema. Setelah selesai menari Mawar pulang ke rumahnya sembari hujan-hujanan.


"Bu, ibu mau kemana?" Tanya Mawar sambil menahan tangan ibunya.


"A-air!" Pinta Bu Ayu dengan nada lemas.


Mawar langsung keluar mengambilkan air yang berada di dalam kendi di atas terumbu kayu.


"Ini bu airnya."


Bu Ayu langsung meneguk airnya dengan cepat.


"Nak, bapak kamu belum pulang?" Tanya Bu Ayu dengan nada lemas.


"Sepertinya belum bu, bapak masih bekerja di rumah tuan Arifin." Jawab Mawar.


"Kalau begitu cepat susul bapak kamu, ibu sangat khawatir sekali sama bapak kamu." Pinta bu Ayu.


"Tapi bu, kalau Mawar menyusul bapak, ibu bagaimana?" Tanya Mawar khawatir.


"Ibu disini baik-baik saja nak, kamu tenang saja. Jangan khawatirkan ibu! Ibu tidak apa-apa, ibu mohon nak, tolong susul bapak kamu, ibu sangat khawatir, ibu mohon." Bu Ayu terus memohon.


Mawar menuruti permintaan ibunya dan langsung pergi menuju rumah tuan Arifin sambil hujan-hujanan, sembari memegangi daun pisang sebagai alas kepalanya.


*****


Setelah sampai di rumah tuan Arifin.


Mawar melihat beberapa pria yang masih bekerja di rumah tuan Arifin, kemudian Ia melihat ayahnya, pak Wahyu sedang mengangkut beberapa jerami dan memasukannya ke kandang sapi. Mawar langsung menghampirinya.


"Pak, bapak sedang apa?" Tanya Mawar.


"Nak, kamu disini? Kamu ke sini sama siapa nak? Kamu hujan-hujanan?" Tanya pak Wahyu khawatir.


"Mawar ke sini sendiri pak, ibu menyuruh Mawar menyusul bapak. Pak kenapa bapak tidak pulang? Ibu sangat khawatir sama bapak." Ucap Mawar Khawatir.


"Bapak, lagi memasukan jerami nak ke kandang agar tidak kehujanan, kalau semuanya sudah beres di masukan, nanti bapak pulang." Ucap pak Wahyu sambil mengusap keringatnya.


"Kalau begitu biar Mawar bantu." Ucap Mawar sembari mengangkat jerami.


"Tidak usah nak, disini banyak yang membantu bapak, kamu tidak perlu ikut-ikutan membantu bapak, ini tugas lelaki nak, ini berat." Cegah pak Wahyu.


"Tidak apa-apa pak, Mawar sudah biasa mengangkat yang berat-berat, semakin banyak yang membantu maka pekerjaan akan semakin cepat beres." Ucap Mawar kekeh sambil mengangkat jerami dan memasukkannya ke kandang sapi.


Hingga beberapa saat kemudian...


"Sudah nak, jangan lakukan lagi, ini berat nak! Sebaiknya kamu pulang, jaga saja ibu kamu yang sedang sakit." Ucap pak Wahyu menyuruhnya untuk pulang karna khawatir pada anaknya yang dari tadi membantunya terus bolak balik mengangkat jerami.


Tidak lama kemudian, datanglah tuan Arifin bersama anak buahnya masuk ke kandang sapi sambil berjalan menggunakan tongkatnya, tuan Arifin melihat Mawar ada disana bersama ayahnya.


"Ada apa ini? Kenapa kamu ada disini? Ini pekerjaan pria, tidak boleh ada wanita disini!" Tanya tuan Arifin sambil marah-marah dan melihat penampilan Mawar yang habis kehujanan dan kebaya yang Ia kenakan terawang karna kehujanan hingga mengekspos lekuk tubuhnya.


Saat Mawar akan menjawab, pak Wahyu sudah membantunya menjawab


"Ini tuan, anak saya ingin membantu saya bekerja agar pekerjaan ini cepat selesai."


"Membantu? Kamu tau sendiri kan ini pekerjaan pria bukan wanita. Seharusnya kamu cegah anak kamu!" Tegur tuan Arifin.


"Maaf tuan!" pak Wahyu meminta maaf, Mawar tidak tega melihat ayahnya ditegur seperti itu.


"Mulai hari ini gaji kamu saya kurangi." Ancam tuan Arifin


"Jangan tuan! Saya mohon." Pak Wahyu memohon. Mawar langsung angkat bicara.


"Jangan tuan saya mohon, disini saya yang salah bukan ayah saya! Saya menyusul ayah saya karna ibu saya sedang sakit, ibu saya sangat khawatir dan meminta saya untuk menyusul dan melihat keadaan ayah saya. Setelah saya kesini ada banyak sekali jerami yang masih bertumpuk, saya berniat untuk membantu ayah saya agar pekerjaannya cepat selesai. Ayah saya memang tidak menyuruh saya, melainkan mencegah saya untuk tidak membantunya, tapi saya tetap memaksa agar pekerjaan ayah saya bisa cepat selesai, jadi saya mohon jangan kurangi gaji ayah saya, kalau mau tuan bisa kurangi gaji saya saja, tapi jangan ayah saya, karna disini saya yang bersalah, saya mohon." Mawar memohon sembari menangis


"Baiklah, kalau begitu sebagai hukumannya saya tidak akan mengurangi gaji kamu, tapi saya akan memberi kamu pekerjaan, ayo ikut saya!" Perintah tuan Arifin sambil berjalan pergi.


Mawar langsung melihat ke arah ayahnya. Pak Wahyu memberi kode untuk menuruti tuan Arifin. Mawar langsung mengikuti tuan Arifin dari belakang.


Tuan Arifin membawa Mawar ke rumahnya, Mawar penasaran kenapa Tuan Arifin mengajaknya ke rumahnya? Pekerjaan apa yang akan diberikan padanya? Apalagi dihari yang sudah mendekati tengah malam.


...----------------...


...bersambung....