Kampung Kembang

Kampung Kembang
Bab 17.



Malam hari.


Di rumah Mawar.


Mereka berempat sedang makan malam bersama.


"Pak, saya punya sesuatu untuk di makan." Ucap Munir.


"Apa itu?" Tanya bu Ayu dan Mawar.


"Tunggu sebentar!"


Munir langsung keluar, lalu ia mengambil sesuatu yang di bungkus dengan daun pisang yang di hangatkan di atas tungku.


Setelah kembali masuk ke dalam, Munir membuka daun pisang tersebut yang ternyata isinya empat ikan bakar.


"Dari siapa ini?" Tanya pak Wahyu kaget.


"Saya bawa dari rumah tuan Arifin pak." Jawab Munir dengan santainya.


Mereka langsung kaget dengan jawaban dari Munir.


"Apa! Dari rumah tuan Arifin?"


"Iya pak."


"Tuan Arifin yang memberi atau kamu yang ambil sendiri?" Tanya Bu Ayu.


"Saya yang mengambil sendiri Bu. Saat tuan Arifin pergi ke ladang." Jawab Munir.


"Kang Munir! Kenapa kang Munir berani sekali mengambil makanan punya orang lain?" Pekik Mawar.


"Memangnya kenapa? Apa kita akan terus makan ubi, singkong, dan ikan-ikan kecil. Kita juga perlu gizi, seharusnya hasil usaha kita dalam mencari ikan, kita juga berhak mendapat setengahnya." Ujar Munir.


"Seburuk itukah tuan Arifin? Dia itu sudah tua, kita bisa mengalahkannya dengan mudah. Kita jangan mau kalah sama orang serakah seperti itu yang tidak mau berbagi." Ucap Munir dengan entengnya.


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita makan."


"Kami tidak mau memakannya, makan ini sama saja memakan barang haram hasil curian." Tolak pak Wahyu.


Munir hanya bisa menatap cengok, ia merasa tersudutkan dengan perkataan pak Wahyu.


"Ya sudah. Kalau kalian tidak akan makan, saya juga tidak akan makan. Ayo kita makan ubi dan singkong saja." Seru Munir sambil mencomot singkong rebus.


"Besok pagi kamu kembalikan ikan bakarnya ke rumah tuan Arifin."


"Baik pak!"


Sambil melahap ubi dan singkong, Munir terus melirik ikan bakar hasil curiannya dari rumah tuan Arifin.


Ia sangat tergiur melihatnya dan ingin sekali memakannya.


.....


Tengah malam.


Di saat semuanya sudah tertidur, diam-diam Munir berjalan ke dapur. Lalu ia mengambil ikan bakar hasil curiannya. Dengan ekspresi tegang, Munir langsung melahap ikannya, ia menghabiskan ikannya dengan cepat agar tak ketahuan pak Wahyu.


Ia tak peduli meskipun besok pak Wahyu akan menanyakannya, yang penting ia bisa mendapat yang ia inginkan.


...----------------...


...Bersambung....