Kampung Kembang

Kampung Kembang
Prolog



Pada tahun 1920.


Di sebuah kampung yang bernama Kampung Kembang yang terletak di pedalaman hutan.


Ketiga sahabat yang bernama Ayu, Ina, dan Ririn kini tengah berusaha melahirkan bayi mereka masing-masing di rumah tabib yang sama, mereka di bantu oleh tiga tabib sekaligus.


"AAAKKKHHHH..." Jeritan mereka bertiga.


"Ayo Bu terus! Tarik nafas! Bayinya sebentar lagi akan keluar!" Tabib memberi aba-aba.


Diketahui Ayu, Ina, dan Ririn adalah sahabat sedari kecil di kampung tersebut sampai mereka dewasa, saking kuatnya persahabatan mereka yang terjalin, mereka menikah saja di waktu yang sama dan hamil di hari yang sama dan melahirkan di hari yang sama juga.


Sementara para suami mereka tengah menunggu di luar diantaranya pak Wahyu suami dari Bu Ayu, pak Edi suami dari Bu Ina sekaligus adik Bu Ayu, dan suami Bu Ririn adalah seorang tentara.


Tak lama kemudian...


"Eaaa..."


..."Eaaa..."...


^^^"Eaaa..."^^^


Suara tangisan bayi terdengar pertanda bayi sudah lahir, tabib pun keluar memberitahu suami mereka bahwa bayi mereka sudah lahir dalam keadaan sehat bersama ibunya, suami mereka langsung bahagia dan bersyukur mendengar kabar bahagia tersebut.


Beberapa hari kemudian, ketiga sahabat pun merayakan kelahiran bayi mereka masing-masing, perayaan itu pun di sambut hangat oleh para warga desa yang turut berbahagia juga.


Bagaimana tidak? Ini adalah momen yang langka, pertama kali ada ketiga sahabat sedari kecil yang hamil dan melahirkan secara bersamaan.


Ayu, Ina, dan Ririn sudah merencanakan nama anak mereka ketika mereka sedang hamil.


Anak Ayu di beri nama Mawar, anak Bu Ina di beri nama Dahlia, dan anak Ririn di beri nama Melati. Nama anak mereka terinspirasi dari nama bunga, mereka sudah menyiapkan nama-nama tersebut dari jauh tempo hari sebelum mereka melahirkan.


Alasan mereka menamai anak mereka dari nama-nama bunga yaitu karena mereka berharap suatu saat nanti ketika mereka kelak dewasa, anak mereka bisa menjadi kembang desa dikampung ini dan dihargai semua orang.


Suatu Hari.


Ada seorang pendatang baru yang kaya raya yang berasal dari kota bernama Arifin, ia membawa istrinya beserta putra kecil sematawayangnya yang berumur 5 tahun bernama Rama. Pak Arifin dikenal sebagai pria yang baik dan dermawan yang selalu memberi bantuan pada para warga Kampung Kembang.


Hingga satu tahun kemudian.


Pak Arifin diangkat sebagai kepala desa di kampung kembang dan semua warga mulai menyebutnya dengan sebutan tuan Arifin. Mereka sangat menghormati tuan Arifin yang selalu baik pada mereka dan memberi pekerjaan pada semua warga Kampung Kembang.


6 Tahun kemudian.


Tuan Arifin masih menjadi kepala desa di kampung itu. Para warga sangat begitu menghormatinya sehingga mereka selalu bersedia menjadi budaknya dalam bekerja.


Istri tuan Arifin baru saja tiada akibat kanker. Rama yang menjadi anak yatim tanpa kehadiran ibu diusianya yang baru saja menginjak 11 tahun, hanya bisa terdiam lesu merindukan sang ibu sembari melukis pemandangan alam luar dari balik jendela kamarnya.


Tak lama, muncullah seorang anak perempuan berkebaya merah berlarian di sekitar teras rumahnya.


"Siapa itu?" Rama langsung keluar dan mengejar anak perempuan tersebut.


"Tungguuu!!! Berhenti..."


Seketika anak perempuan tersebut langsung terjatuh akibat kaget mendengar teriakkan Rama.


"Siapa kamu?" Tanya Rama dengan nada membentak.


Tiba-tiba anak perempuan tersebut menangis histeris karena di Bentak Rama.


"Sudah jangan menangis! Kalau sampai ayahku dengar, dia bisa memarahiku." Ucap Rama mencoba menenangkannya sembari menepuk-nepuk bahunya. Seketika anak perempuan tersebut langsung berhenti menangis.


"Siapa nama kamu?" Tanya Rama.


"Mawar!" Jawab anak tersebut yang ternyata anak dari Bu Ayu dan pak Wahyu.


Tiba-tiba Rama langsung terpesona melihat wajah manis dan imut Mawar yang usianya kini sudah menginjak 7 tahun.


"Mawar, nama kamu bagus sekali! Kenalin namaku Rama." Ucap Rama memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya. Mawar menerima uluran tangan Rama lalu mencoba berdiri kemudian bersalaman.


Rama langsung tersenyum senang ketika Mawar menjabat tangannya.


"Mawar, kamu sangat cantik sekali! Mau aku lukis wajah kamu?" Tawar Rama.


Mawar tidak tahu artinya melukis itu apa? Sebagai anak kecil yang masih polos, Mawar hanya mengangguk dan menurut saja.


Rama langsung mengajak Mawar ke kamarnya.


"Ayo duduklah di depan! Biar aku lukis wajah cantik kamu."


Mawar mengangguk dan duduk. Dengan cepat Rama langsung melukis Mawar hingga berjam-jam lamanya.


Saat itulah Rama dan Mawar resmi menjadi sahabat dan selalu bermain bersama.


Sedari kecil, Mawar sudah di pekerjakan untuk membantu orang tuanya dalam bekerja. Saat Mawar bekerja, Rama selalu ada membantunya seperti mencabut rumput, menanam padi, mencari ranting, mencabut daun teh, memancing, dan lain-lain. Rama selalu ada membantu Mawar.


Ketika sedang memancing berdua di sungai, Rama mengatakan sesuatu pada Mawar.


"Mawar!"


"Iya?"


"Kamu itu masih kecil, tapi kenapa wajah kamu sangat cantik?" Tanya Rama merayunya.


"Kata ibuku, aku cantik karna ibuku juga cantik." Ucap Mawar dengan senyuman manisnya.


"Aku juga ganteng, berarti aku ganteng karena ayahku juga ganteng yaa?"


"Tuan Arifin itu jelek tidak ganteng! Tak ada mirip-miripnya sama kamu! Kata ibuku kalau ada anak yang tidak mirip sama bapaknya, berarti anak itu bukan anaknya." Ucap Mawar dengan polosnya.


"Beneran?"


"Iya!"


"Kalau aku tidak mirip ayahku, berarti aku mirip ibuku."


"Mirip ibu kamu? Berarti kamu itu perempuan bukan laki-laki." Ucap Mawar yang lagi-lagi dengan polosnya. Rama langsung tertawa terbahak-bahak.


"Kamu juga gak mirip orang tua kamu, wajah kamu beda. Jangan-jangan kamu juga bukan anak ayah dan ibu kamu."


"Benarkah? Kalau aku bukan anak mereka kenapa mereka mengurusku dari bayi?" Rengek Mawar.


"Sepertinya kita berdua sama-sama bukan anak ayah dan ibu kita." Celetuk Rama membuat candaan.


"Lalu kita anak siapa?"


"Tidak tahu, kita harus mencari orang tua kita."


Sebagai anak kecil, Mawar mempercayai begitu saja dengan ucapan Rama yang bercanda.


"Kalau begitu aku mau minta izin dulu ke ibuku buat mencari." Celetuk Mawar.


"Sebaiknya tidak usah dicari! Lebih baik kita buat keluarga sendiri."


"Buat keluarga sendiri?" Mawar di buat bingung.


"Iya, aku dan kamu!"


"Memangnya bisa?"


"Bisa!"


"Caranya?" Mawar menatap bingung Rama.


"Caranya, kita harus menikah biar bisa jadi keluarga." Jelas Rama.


"Tapi kan menikah itu cuman buat orang yang sudah dewasa saja. Anak kecil tidak boleh menikah."


"Ya sudah kita menikahnya saat sudah dewasa saja bagaimana?" Ucap Rama serius. Mawar tersenyum sembari berkata...


"Ayoo!!!"


Rama langsung tersenyum senang dengan ucapan yang di lontarkan Mawar dengan penuh senyuman merekahnya.


"Aku suka sama kamu Mawar!" Celetuk Rama tiba-tiba.


"Aku juga suka sama kamu! Kamu baik!" Balas Mawar.


Mereka pun saling bertatapan di depan sungai yang menjadi saksi percakapan mereka.


...----------------...


...Bersambung....