
Saat tuan Arifin melayangkan tongkatnya akan memukul Mawar, Mawar langsung menutup wajahnya dengan tangannya sembari menangis dan berdoa meminta perlindungan. Tiba-tiba ada seorang pria tampan mendobrak pintu kamar hingga terbuka dan langsung masuk mencengkram erat tangan tuan Arifin.
Tuan Arifin langsung kaget dan melihat ke arah pria yang telah mencengkram tangannya yang tak lain dan tak bukan adalah anaknya sendiri Rama.
Rama langsung melempar tongkatnya ke berlawanan arah dan seketika langsung menghajar ayahnya. Mawar yang masih ketakutan tak sadar kalau ada Rama di dalam yang sedang menolongnya, Mawar masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya
Sementara Rama masih menghajar terus ayahnya hingga habis-habisan.
"Nak, sudah berhenti! Nak, kenapa kamu bisa ada disini? Bukannya kamu masih dikota? Kenapa tiba-tiba kamu menghajar ayah? Apa salah ayah?" Tanya tuan Arifin kaget sambil memegangi wajahnya yang sudah babak belur akibat di pukuli putranya.
"Harusnya Rama yang bertanya pada ayah, apa yang ayah lakukan? Kenapa ayah membawa Mawar kemari dan berusaha menyakitinya?" pekik Rama emosi.
"Apa? Bukan ayah yang membawa dia kemari, tapi dia sendiri yang datang kemari dan berusaha menggoda ayah. Rama percayalah pada ayah, gadis itu sudah tidak tau diri dan tidak tau malu, dia berusaha memberikan dirinya pada ayah agar dia mendapatkan uang, gadis itu murahan" tuan Arifin mulai membela diri sendiri dengan menyalahkan Mawar.
"Cukup ayah! Jangan berbohong lagi! Rama sudah melihat sendiri, kalau ayah yang memaksa Mawar masuk, ayah mencoba memperkosa Mawar iya kan? Apa lagi ini di kamar Rama, apa ayah mencoba berbuat zina di kamar Rama hah?" Tanya Rama yang masih tersulut emosi.
"Tidak nak. percayalah pada ayah" tuan Arifin masih membela diri, emosi Rama semakin menjadi-jadi.
"Rama tidak menyangka, ayah masih seperti ini, Rama kira semakin tua sifat ayah akan berubah menjadi orang yang baik. Tapi tidak, ternyata ayah masih sama saja seperti dulu" ucap Rama mulai sedih.
"Tidak nak, tolong percayalah pada ayah, gadis itu yang salah nak" tuan Arifin terus mencoba membela diri dengan terus menyalahkan Mawar.
"Sekarang ayah keluar dari sini! Keluarrr!" Usir Rama, tuan Arifin langsung bangkit dan pergi ke kamarnya yang berada di bawah. Setelah tuan Arifin pergi. Rama langsung menghampiri Mawar yang masih ketakutan dan terus saja bergumam.
"Tolong jangan sakiti saya! Saya mohon! Tolong jangan sakiti saya! Saya mohon jangan sakiti saya!" Gumam Mawar yang masih menyembunyikan diri di lipatan tangannya.
"Mawar! Mawar! Mawar!" Panggil tuan Rama pelan sembari menepuk-nepuk bahunya.
"Mawar! Lihat saya, ini saya Rama! Coba lihat saya" ucap Rama mencoba membuka lipatan tangannya, Mawar langsung melihat wajah Rama.
"Tuan Rama" ucap Mawar sambil menangis lalu memeluk Rama.
Rama membalas pelukan Mawar sambil mengelus punggung Mawar mencoba menenangkannya.
"Sudah jangan menangis, yang sabar ya, ada saya disini, orang yang berusaha menyakiti kamu sudah pergi" Rama menenangkan Mawar yang masih terus saja menangis dalam pelukannya.
Setelah itu Rama melepaskan jaketnya lalu memakaikannya pada Mawar. Setelah itu Rama langsung membantu Mawar berdiri dan membopongnya membawanya ke bawah dan mendudukkannya di sofa, Rama langsung mulai mengobati kaki Mawar yang berdarah, walaupun Mawar sudah berhenti menangis tetap saja air mata Mawar terus bercucuran Ia masih merasakan ketakutan yang mendalam.
Saat sedang di obati, Mawar merasakan sakit yang amat dahsyat karna luka yang berada di telapak kaki dan lututnya sangat dalam bahkan belingnya saja sampai masuk kedalam, Rama mencoba mengeluarkan beberapa beling yang berada di lutut dan telapak kaki Mawar menggunakan peniti.
"Awwww, sakit" Mawar merintih kesakitan.
"Sabar, jangan menangis, tahan sebentar, ini pelan kok" Rama menenangkan Mawar.
Kemudian Rama mengolesi lukanya dengan obat merah, setelah itu Rama memasangkan perban di kaki dan lutut Mawar.
"Sudah selesai, kamu ingin pulang?" Tanya Rama. Mawar mengangguk, Rama mencoba tersenyum pada Mawar.
"Kalau begitu ayo berdiri" Rama merangkul tangan Mawar dan menuntunnya berjalan
Namun, baru beberapa langkah Mawar sudah tak kuat lagi untuk berjalan.
"Ayo pelan-pelan" Rama memberi semangat, Mawar mencoba memaksakan diri untuk berjalan. Tak lama kemudian Mawar kehilangan keseimbangannya dan akan terjatuh. Untungnya Rama dengan sigap berhasil menahan tubuh Mawar dengan tangannya. Hingga akhirnya mereka saling bertatapan.