Kampung Kembang

Kampung Kembang
Bab 13



Tuan Arifin terus memperhatikan cara pemuda itu bekerja. Pak Edi yang sudah tak merasakan lagi sakit pinggangnya langsung menghampiri pemuda itu yang kini tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya.


"Sudahlah den! Biar saya lagi yang kerjakan, karna pinggang saya sudah tidak sakit lagi."


"Tidak pak! Bapak harus istirahat! Jangan dulu bekerja." Pemuda itu tetap kekeh sambil tetap fokus mengerjakan pekerjaannya.


"Tapi den, saya ini sudah terbiasa. Jadi Aden tidak perlu khawatir." Ucap pak Edi pada pemuda itu yang walaupun tuan Arifin masih memperhatikan mereka.


Pak Edi langsung mencabuti rumputnya meskipun pemuda itu bersikeras mencegahnya untuk tak bekerja.


"Baik kalau begitu! Jika bapak ingin terus bekerja tidak apa-apa. Tapi izinkan saya turut membantu bapak! Karena niat saya di sini bukan karna saya ingin di gaji juga. Tapi saya dengan tulus hati ingin benar-benar membantu meringankan pekerjaan bapak agar bapak tetap di gaji oleh tuan dan tidak di kurangi. Saya tidak masalah bekerja keras membantu bapak, walaupun saya tidak di gaji juga tidak apa-apa yang penting saya bisa meringankan pekerjaan bapak."


Mendengar kata-kata pemuda itu yang tetap teguh pada pendiriannya dan semangat dalam bekerja. Tuan Arifin mulai yakin bahwa pemuda ini cocok tinggal di kampung ini dan nantinya akan selalu bersemangat bekerja meskipun tak di gaji. Kemudian tuan Arifin mulai berkata.


"Sepertinya kamu punya semangat dalam bekerja."


Pemuda itu hanya bisa menoleh sebentar padanya sembari mengangguk.


"Siapa namamu nak?" Lanjut tuan Arifin bertanya.


"Saya tidak tahu tuan!" Jawab pemuda itu seperti biasa. Tuan Arifin mulai di buat heran.


"Apa kenapa bisa tidak tau? Apa kamu tidak punya nama?"


"Saya sedang mengalami hilang ingatan tuan." Jawabnya.


"Ohh, begitu rupanya!"


Setelah mendapati jawaban pemuda itu. Tuan Arifin beranjak pergi memantau para pertani lainnya. Setelah tuan Arifin pergi, Mawar yang masih berdiam di saung mulai menghampiri mereka.


"Kang, ayo kita ke kota sekarang! Tuan Rama pasti sudah menunggu kita." Ajak Mawar memaksa.


"Tunggu sebentar! Rumputnya masih banyak. Kalau bapak ini yang mengerjakannya sendiri akan sampai kapan selesainya? Tapi kalau kita kerjakan sama-sama, pekerjaan ini pasti akan cepat selesai." Ucap pemuda itu tetap teguh.


"Lagian kalau ini tidak keburu sampai sore, lain kali saja kita ke kotanya. Saya mau membantu dulu paman kamu. Besok saja kita ke kotanya atau lain waktu." Lanjut pemuda itu bersikeras.


Mawar hanya bisa diam dan pasrah akan kata-kata pemuda itu.


*****


Di rumah tuan Arifin.


Rama sedang menunggu Mawar dan pemuda itu tak kunjung datang.


"Dimana Mawar dan orang itu yaa? Katanya dia ingin pergi ke rumah sakit. Giliran mobilnya sudah siap, dia tidak datang." Gumam Rama sedikit kesal. Kemudian ia mengeluarkan mobilnya dari garasi.


Tak lama. Tuan Arifin datang lalu ia melihat putranya sedang mengeluarkan mobil.


"Mau kemana kamu?" Tanya tuan Arifin.


"Rama mau ke kota." Jawab Rama tanpa menatap sang ayah.


"Mau apa pergi ke kota? Di sana sedang berperang!"


"Rama harus mengantar seseorang yang ditolong warga waktu itu ke kota yah. Rama mau membawanya ke rumah sakit dan mencarikan keluarganya." Jawab Rama yang masih tetap fokus memeriksa mesin mobilnya.


"Buat apa kamu membawanya ke kota? Biarkan saja dia tinggal di desa kita." Ucap tuan Arifin.


"Sungguh mulia sekali hatimu mau membantu seseorang yang tak di kenal mencarikan keluarganya."


Rama langsung di buat bingung dengan perkataan ayahnya.


"Ayah bilang sebaiknya tidak usah! Itu akan sangat merepotkan sekali bagi kamu. Apalagi keadaan di kota saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ayah takut kamu kenapa-napa nak. Mengorbankan diri demi membantu orang lain justru membuat kamu terjerumus akan bahaya. Ayah tidak mau itu terjadi. Sebaiknya biarkan saja dia tinggal di desa ini."


"Kalau dia tetap tinggal di desa ini. Itu akan membuat nyawanya terancam. Kondisinya perlu perawatan dokter. Kalau tidak segera di bawa ke rumah sakit, dia akan terus mengalami hilang ingatan."


"Tidak apa-apa! Coba kamu pikir, kalau kamu membawanya ke kota, bagaimana kamu bisa mencarikan keluarganya di saat negara kita masih sedang di landa perang? Ayah yakin, belum tentu keluarganya selamat dari medan perang tersebut. Sia-sia saja kamu mencarinya dengan keringat basah dan nyawa kamu jadi taruhannya. Dan belum tentu ketemu, apalagi di saat dia sedang hilang ingatan, bagaimana cara mencarinya kalau sendiri tidak tahu wajah keluarganya."


Rama mulai mencerna perkataan ayahnya yang menurutnya ada benarnya juga.


"Sebaiknya dia tinggal di sini saja untuk sementara waktu, sampai negara ini berhenti perang. Tak ada tempat perlindungan lagi selain desa kita ini yang masih belum di ketahui pasukan Belanda. Di sini dia bisa menjadi pekerja tambahan. Bahkan dia sendiri berkata pada ayah kalau ia sanggup bekerja tanpa di gaji."


"Maksud ayah, ayah ingin memperkerjakannya?"


"Iya! Lebih baik memperkerjakannya dari pada repot-repot mengembalikannya ke kota. Belum tentu asal dia itu di mana?"


'Tapi pemuda itu sedang sakit. Lukanya harus segera di obati."


"Kamu tidak perlu khawatir! Di sini kan ada tabib, jadi buat apa kamu repot-repot membawanya ke rumah sakit?"


Rama berusaha mencerna kata-kata ayahnya dan berpikir 2x untuk membantu pemuda itu pergi ke kota.


*****


Di Sawah.


Rama datang menemui Mawar yang sedang menunggu pemuda itu berhenti bekerja.


Rama mulai menjelaskan dengan mengulangi perkataan ayahnya tadi untuk tidak membawanya ke kota di saat kota sedang di landa perang.


Mawar hanya diam tanpa berkutik, ia hanya bisa terdiam mendengarkan saran dari Rama.


"Mawar, lebih baik dia tinggal di desa ini saja, sampai perang selesai, kita bisa membawanya ke kota dan mencarikan keluarganya."


"Baik tuan. Apapun saran tuan, saya mengharapkan yang terbaik untuknya."


"Benar! Dan sebaiknya kamu harus memberinya nama untuk sementara sampai ingatannya pulih agar dia punya nama di desa ini."


"Benar tuan! Mawar tolong beri saya nama agar saya punya nama di desa ini." Timpal pemuda itu tiba-tiba.


"Tunggu sebentar! Beri saya waktu untuk memikirkannya terlebih dahulu. Soalnya saya tidak punya ide untuk memberi nama." Ucap Mawar kebingungan.


"Kalau begitu kamu bicarakan dulu pada ayah dan ibu kamu, agar mereka bisa membantu mencarikan nama untuknya." Saran Rama. Mawar mengangguk iya.


Setelah itu Rama pergi sambil memantau para pekerja lainnya yang bekerja di sawah.


Kemudian Mawar menyuruh pemuda itu untuk istirahat karena ia sudah seharian bekerja tanpa henti, pemuda itu yang sudah kelelahan akhirnya menurut perintah Mawar untuk istirahat.


...*****...


...Bersambung....