Kampung Kembang

Kampung Kembang
Bab 15



Malam hari.


Di hutan.


Sekelompok orang berbaju tentara Belanda sedang berjalan mengendap-endap menelusuri area hutan. Masing-masing di antara mereka membawa senapan.


"Baas, is het waar dat hij dit bos in vluchtte?"


(Bos, apakah benar dia melarikan diri ke hutan ini?)


Tanya salah satu dari mereka yang berdiri di belakangnya yang berbicara menggunakan bahasa Belanda.


"Ik weet het niet. Maar het belangrijkste is dat we ernaar moeten blijven zoeken totdat we het hebben gevonden."


(Aku tidak tahu. Tapi yang terpenting adalah kita harus terus mencarinya sampai kita menemukannya.)


Jawab orang yang berjalan di depannya yang disebut sebagai bos.


Merekapun terus berjalan mengendap-endap menelusuri hutan.


*****


Keesokan harinya.


Di rumah Mawar.


Pemuda itu resmi memiliki nama yaitu Munir. kedua orang tua Mawar terus memanggilnya dengan nama Munir.


.....


Di teras.


Mawar sedang menumbuk kopi. Tak lama Munir keluar menghampirinya.


"Kamu sedang apa?"


"Saya sedang membuat kopi. Akang mau kopi?" Tawar Mawar. Munir mengangguk.


"Tunggu sebentar ya! Kopinya di tumbuk dulu."


"Boleh saya bantu?" Munir menawarkan bantuannya.


"Tidak usah! Akang istirahat saja." Cegah Mawar.


"Kamu ini selalu saja menyuruh saya istirahat. Saya ini sudah sembuh! Kamu jangan khawatir. Cepat berikan tongkatnya!" Ucap Munir memaksa. Mawar langsung menatap kesal Munir sembari menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah nih akang tumbuk! Kalau akang capek, akang istirahat saja."


"Tenang saja! Saya tidak akan capek. Saya ini kuat." Ucap Munir. Mawar membalas perkataan Munir dengan senyuman lalu kembali masuk ke dalam.


Munir langsung menumbuk-numbuk kopi dengan tongkat. Tak lama Mawar keluar sembari menjinjing keranjang yang biasa ia gunakan untuk memetik daun teh.


"Kang Munir, saya mau pergi memetik daun teh dulu ya. Kalau kopinya sudah benar-benar bubuk. Nanti akang susul saya ke kebun yaa."


"Baik!" Ucap Munir. Mawar langsung pergi menuju kebun teh.


*****


Setelah sampai di kebun teh.


Mawar langsung melakukan kegiatan sehari-harinya dengan memetik daun teh. Ketika Mawar sedang sibuk memetik daun teh, Rama datang menghampirinya.


"Mawar!"


"Tuan Rama!"


"Kenapa sendiri? Di mana Dahlia dan Melati?"


"Saya tidak tahu keberadaan mereka berdua tuan." Jawab Mawar.


"Pasti mereka datang terlambat lagi!" Ucap Rama mendengus kesal.


"Mawar, apa orang itu sudah di beri nama?" Lanjutnya bertanya.


"Sudah tuan! Ayah saya yang memberinya nama. Namanya Munir." Jawab Mawar.


"Munir?" Rama langsung mengerutkan keningnya.


"Iya tuan! Tapi saya merasa nama itu tidak cocok dengannya. Tapi ayah dan ibu saya bersikeras ingin menamainya dengan nama itu. Apa tuan punya ide nama yang lebih bagus lagi dan yang cocok untuk pemuda itu." Curhat Mawar dengan nada sedikit kesal sembari meminta saran. Rama langsung terkekeh.


"Menurut saya, nama itu sudah cocok untuk nama warga di kampung ini. Yang penting dia punya nama." Saran Rama. Mawar mengangguk. Tak lama Munir datang.


"Mawar, saya sudah menumbuk kopinya."


Munir terkejut melihat keberadaan Rama sedang bersama Mawar.


"Rama!" Munir menunduk hormat. Mawar langsung menyenggol Munir.


"Tuan Rama!" Ucap Mawar berbisik.


"Ah maaf, tuan Rama!" Ucap Munir membenarkan ucapannya.


"Jadi nama kamu sekarang Munir?" Tanya lagi Rama pada Munir.


"Baiklah, mulai sekarang, Munir sudah menjadi bagian dari warga di kampung ini." Ucap Rama.


"Baik tuan."


"Oh iya, kebetulan ayah saya sedang membutuhkan bantuan kamu untuk membersihkan halaman. Munir, apa kamu bisa ke rumah saya sekarang?"


"Bisa tuan! Tapi saya tidak tahu rumah tuan di mana?"


"Oh iya, sepertinya kamu belum pernah ke rumah saya. Kalau begitu ayo ikut saya." Ucap Rama bergegas pergi.


"Baik!" Pungkas Munir. Lalu ia pergi bersama Rama. Sebelum pergi, Munir menatap dulu Mawar sekejap lalu pergi.


Setelah mereka berlalu pergi, Mawar kembali melanjutkan kegiatannya memetik daun teh. Tak lama Dahlia dan Melati datang menghampirinya sambil menepuk bahunya.


"Mawarrr!!!" Mereka mengagetkan Mawar dari belakang sembari tertawa.


"Kalian ini, mengagetkanku saja."


"Kami kira kamu tidak akan datang." Ucap Melati.


"Aku pasti datang. Kata siapa aku tidak akan datang? Dan kalian, apa kalian baru datang?" Tanya balik Mawar.


"Kami sudah di sini sejak jam 6 pagi!" Ucap Dahlia.


"Dari pagi? Tapi kenapa aku baru melihat kalian sekarang?"


"Iya itu karena kamu datang terlambat. Jadi kamu baru melihat kami. Dan kami juga baru melihat kamu." Sergah Dahlia.


"Lalu tadi kalian habis dari mana saja?"


"Kami tadi di suruh tuan Arifin untuk memanen padi terlebih dahulu." Jawab lagi Dahlia.


"Setelah selesai, kami kembali lagi ke sini." Timpal Melati.


"oh begitu."


"Kenapa kamu datang terlambat Mawar? Biasanya kamu tidak datang seterlambat itu." Tanya lagi Dahlia mulai mengintrogasinya.


"Tadi pagi, aku mencari kayu bakar dan biji kopi dulu, setelah pulang aku menumbuk dulu biji kopinya."


"oh, pantas saja terlambat." Celetuk Dahlia dengan mata sinisnya.


"Lainkali kamu tidak boleh datang terlambat lagi. Kalau ketahuan tuan Rama, kamu akan di marahi." Tegur Dahlia, Mawar langsung terkekeh.


"Tidak akan!"


"Eh War, pemuda itu kemana?" Tanya Melati dengan bola matanya yang mencari-cari.


"Dia sedang ke rumah tuan Arifin bersama tuan Rama." Jawab Mawar.


"Oh ya, mulai sekarang pemuda itu sudah punya nama." Lanjutnya memberitahu.


"Siapa namanya?" Tanya Dahlia dan Melati bersamaan.


"Namanya Munir."


"Munirr??" Dahlia dan Melati saling menatap kaget satu sama lain.


*****


Sesampainya di rumah tuan Arifin.


Tuan Arifin keluar dengan bantuan tongkatnya, ia berjalan menghampiri Munir yang sudah sampai di depan rumahnya.


Di rasa sudah mengantarkan Munir pada ayahnya. Rama langsung bergegas kembali pergi menemui Mawar lagi dan menyelesaikan tugasnya dalam menangani para petani.


"Nak, tolong kamu cabut semua rumput yang ada di halaman ini. Rumputnya sangat panjang sekali, saya tidak mau ada ular masuk ke dalam halaman saya." Ucap tuan Arifin memerintah.


"Baik tuan!" Munir bergegas mencabuti rumput liar yang berada di halaman rumah tuan Arifin dengan koret.


Beberapa saat kemudian, datang lah beberapa pria yang merupakan warga sekitar ke rumah tuan Arifin.


Mereka datang dengan membawa ratusan ikan yang di bawa menggunakan gerobak.


"Apa ini? Kenapa kalian membawa kembali ikannya?" Tanya tuan Arifin terkejut.


"Maaf tuan! Kami tidak bisa lagi berjualan di kota, karena di kota saat ini sedang tidak aman tuan."


"Tidak aman kenapa?"


"Saat ini sedang terjadi pembantaian di kota. Kami di sini sedang berusaha kabur menghindari pembantaian tersebut. Kalau kami terus di sana, kami tidak akan selamat."


"Apa, pembantaian?" Tuan Arifin langsung syok mendengarnya.


Munir yang mendengar percakapan antara tuan Arifin dan para pekerjanya langsung syok mendengarnya, bahkan ia sampai berhenti terlebih dahulu mencabuti rumput.


...*****...


...Bersambung....