Kampung Kembang

Kampung Kembang
Bab 9



Keesokan paginya.


Rama datang ke sawah untuk memantau para warga yang bekerja di sawah. Namun betapa terkejutnya saat Ia melihat tidak ada satupun warga yang bekerja.


Setelah itu Rama pergi ke kebun, hutan, dan sungai dan betapa terkejutnya lagi Ia tak mendapati satupun warga yang bekerja. Rama merasa aneh, para warga yang biasanya selalu aktif dalam bekerja kini tak ada satupun yang keluar. Kemudian Ia kembali ke kebun teh, sesampainya disana Ia melihat yang bekerja disana hanya Melati dan Dahlia saja berdua. Rama langsung menghampiri mereka.


"Hanya kalian saja disini yang bekerja? Dimana yang lain? Dimana orang tua kalian?" Tanya Rama.


"Mereka masih tidur tuan" jawab Melati.


"Apa! Masih tidur di saat hari sudah mendekati siang? Biasanya mereka selalu bekerja tepat waktu dan datang lebih pagi kenapa kini mereka kompak tidak bekerja? Dan dimana Mawar? Biasanya dia selalu giat sekali dalam bekerja" Rama mulai bertanya-tanya.


"Kata Ibu saya, kemarin malam ibu saya dan para warga sibuk membantu menyelamatkan seseorang jadi para warga disini tidak tidur" jawab Melati.


"Iya tuan, semalam para warga disini sibuk menyelamatkan nyawa orang itu" Timpal Dahlia ikut menjawab.


"Orang? Memangnya siapa?" Tanya Rama lagi.


"Kami tidak tau tuan, semalam kami tidur, tidak ikut-ikutan" jawab Melati bingung.


"Sekarang dimana orang itu berada? Apa masih ada?" Tanya Rama.


"Ada di rumah Mawar, tuan" jawab Dahlia. Rama langsung bergegas pergi ke rumah Mawar.


...****************...


Sesampainya di rumah Mawar.


Rama langsung mengetuk pintu lalu Ia melihat pintu rumah Mawar tak dikunci, Rama langsung membuka sedikit pintunya dan mengintip dari celah pintu, ia melihat pribumi yang masih terlelap tidur dengan nyenyak tapi mereka tidur di bawah ubin. Kemudian Rama salah fokus saat melihat Mawar yang betapa cantiknya saat Mawar tertidur seperti bayi. Rama sangat terpesona melihat kecantikan gadis yang dijuluki kembang desa itu.


Tak lama tanpa sengaja, mata Rama tertuju pada seorang pemuda dengan perban di kepalanya, tidur di atas ranjang. Rama langsung kaget dan bertanya-tanya dalam batinnya siapa orang itu? Karena seumur-umur Ia belum pernah sekalipun melihat orang itu.


"Siapa dia?" Gumam Rama.


Tiba-tiba Mawar terbangun dari tidurnya dan melihat Rama yang sedang mengintip di balik celah pintu.


"Tuan Rama" ucap Mawar, Rama langsung berbalik, Ia merasa malu karna ketahuan mengintip. Mawar langsung pergi keluar menghampiri Rama.


"Tuan Rama disini?" Tanya Mawar sambil menatap Rama yang menyembunyikan wajahnya.


"Iya, saya kesini karena saya merasa aneh, tak ada yang bekerja hari ini. Di kebun teh hanya ada Melati dan Dahlia saja yang bekerja. Mereka memberitahu saya kalau semalam para warga habis membantu seseorang dan seseorang itu ada di rumah kamu jadi saya kesini. Kalau boleh tahu, siapa dia?" Tanya Rama penasaran.


Mawar langsung menceritakan semuanya pada Rama sambil berjalan menuju kebun teh.


"Saya tidak tahu tuan, saat saya sedang mencari kayu tiba-tiba saja saya melihat orang itu di pinggir sungai dengan berlumuran darah. Saya kira orang itu sudah mati ternyata orang itu masih hidup. Jadi, para warga membawanya kemari dan menyembuhkannya" jawab Mawar.


"Kalau dari yang saya lihat sepertinya orang itu bukan orang sini" ujar Rama sambil melirik Mawar.


"Iya tuan, saya juga baru lihat dan warga sini pun tidak ada yang mengenalnya. Sepertinya orang itu berasal dari kampung sebelah"


"Iya sepertinya. Malang sekali orang itu, kalau dia sudah sembuh, kamu beritahu saya ya biar saya bisa bantu untuk mencari keluarganya" ucap Rama. Mawar mengangguk.


...****************...


Siang hari.


Pemuda itu tersadar, perlahan-lahan ia mulai membuka matanya dan melihat sekeliling rumah.


"Dimana aku?" Gumamnya.


"Aku dimana?" Pemuda itu terus bergumam.


Tak lama kemudian, Bu Ayu datang sambil membawa nampan yang berisi perban. Ia langsung melihat kalau pemuda itu sudah sadar.


"Pak! Bapak! Bapak! Orang itu sudah sadar pak" teriak Bu Ayu memanggil-manggil suaminya.


"Mana?" Pak Wahyu langsung menghampirinya.


"Benar Bu, pria ini sudah sadar, kita harus memanggil tabib untuk memeriksa keadaannya" ucap pak Wahyu lalu bergegas pergi ke rumah tabib sementara pemuda itu kembali menutup matanya lagi.


Setelah tabib datang, tabib langsung memeriksa keadaan pemuda itu.


"Bu, tadi saya lihat kalau orang ini sudah membuka matanya" ucap Bu Ayu khawatir karna pria itu sudah menutup matanya lagi.


...****************...


Sementara di kebun teh.


Mawar sedang memetik teh bersama kedua sahabatnya dan para warga mulai berdatangan ke kebun, walaupun mereka sudah kesiangan tapi mereka tetap datang dan bekerja. Tiba-tiba seorang pria datang.


"Neng Mawar, neng Dahlia, dan neng Melati. kalian di panggil tuan Arifin ke rumahnya" ucap pria itu memberi pesan.


Mawar, Melati, dan Dahlia langsung pergi ke rumah tuan Arifin.


...****************...


Sesampainya di depan rumah tuan Arifin.


Dahlia dan Melati berdiri di depan pintu sambil mengetuk pintunya. Sementara Mawar menunggu di bawah karna ia masih trauma atas kejadian waktu itu, jika melihat wajah tuan Arifin.


Tuan Arifin langsung membukanya sambil memberikan banyak cucian dan menyuruh mereka untuk mencuci semua pakaiannya


Mawar, Melati, dan Dahlia langsung pergi ke sungai dan mencuci pakaian disana. Dahlia mencuci sambil terus menggerutu.


"Aku pikir kita di panggil untuk dikasih makanan atau memandikan tuan Rama ternyata kita disuruh mencuci pakaiannya! Menyusahkan sekali"


"Sudahlah Dah. Namanya juga bekerja, kalau kita tidak bekerja, kita tidak akan mendapat uang" ucap Mawar menenangkan.


"Ya kalau mencuci pakaian tuan Rama aku mau, tidak masalah buat aku. Tapi, kalau mencuci pakaian tuan Arifin aku tidak sudi, aku tidak suka bau pakaiannya! Pakaiannya bau kamper" ketus Dahlia kesal sambil melempar pakaian yang di sikat ke arah Mawar dan Melati.


"Nih kalian saja yang cuci! Aku tidak mau mencuci pakaian tuan Arifin yang bau itu! Harusnya wanita yang berpendidikan sampai kelas 3 SD sepertiku menjadi nyonya saja di rumah besar bukan jadi babu seperti ini" ucap Dahlia lalu bangkit.


"Heh masa kita berdua yang mencuci! Kalau kamu bagaimana?" Tanya Melati mulai emosi.


"Ya kalau aku diam aja, tapi kalian jangan bilang-bilang, kalau aku tidak ikut membantu kalian" ucap Dahlia sambil duduk cantik di atas batu.


"Dasar licik!" Ucap Mawar kesal sementara Dahlia hanya duduk sambil memperhatikan mereka.


Saat tengah mencuci, mereka kehabisan sabun.


"Sabun sudah habis, Dahlia? Tolong kamu ambilkan sabun di rumah tuan Arifin" perintah Mawar.


"Apa? Kenapa harus aku yang kamu suruh? Kamu saja sendiri aku tidak mau!" Tolak Dahlia.


"Kenapa kamu tidak mau? Sejak dari tadi kamu hanya diam saja tidak membantu! Kalau tidak mencuci setidaknya tolong ambilkan sabun" pekik Mawar emosi.


"Sudah aku bilang! Aku tidak mau! Kenapa kamu memaksa? Kamu tau, aku ini orangnya berpendidikan. Seharusnya orang berpendidikan seperti aku diam dan menjadi pesuruh buat kalian, bukan bekerja sebagai babu seperti kalian! Kalian tidak berhak menyuruh-nyuruhky" Ketus Dahlia lalu pergi. Setelah Dahlia berlalu.


"Ti, kamu tunggu disini ya, biar aku yang ambil sabunnya" ucap Mawar yang di balas anggukan Melati. Mawar langsung pergi mengambil sabun di rumah tuan Arifin.


Saat berjalan, bebatuan di sungai sangat licin, sehingga Mawar kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh kebelakang. Untungnya Rama datang dengan sigap memeluk Mawar dengan merangkul pinggangnya dengan erat, agar tak jatuh ke belakang, yang di belakang ada aliran sungai yang sangat deras. Mereka pun saling bertatapan.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Rama khawatir.


"Tidak apa-apa tuan" jawab Mawar. Rama langsung melepas pelukannya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Rama.


"Saya mau ke rumah tuan buat ambil sabun" jawab Mawar.


"Sabun? Buat apa?" Tanya Rama.


"Buat mencuci pakaian tuan" jawab Mawar yang dijawab anggukan Rama. Baru beberapa langkah Mawar berjalan, Rama memanggilnya.


"Mawar"


"Iya tuan"


"Sebaiknya, kamu cuci saja pakaiannya di belakang rumah saya. Jangan di sungai! Saat ini sungai sedang deras. Sangat bahaya kalau mencuci pakaian disini. Sebaiknya kamu bawa semua pakaiannya ke rumah saya. Kita akan mencucinya disana"


"Baik tuan" Mawar mengangguk.


Kemudian Mawar dan Melati langsung membawa semua pakaiannya ke rumah tuan Arifin. Sesampainya, Rama membawa mereka ke belakang rumahnya di saat tuan Arifin sudah pergi mengawasi para pekerja di ladang.