Kampung Kembang

Kampung Kembang
Bab 4



Rama langsung tersadar dari tatapannya lalu membenarkan posisi tubuh Mawar dengan menegakkan tubuhnya


"Sepertinya kaki kamu tidak kuat untuk berjalan, biar saya gendong" saat Rama akan menggendongnya, Mawar langsung mencegahnya


"Tidak usah repot-repot tuan, saya tidak apa-apa, saya bisa berjalan sendiri" tolak Mawar


"Tapi kaki kamu lagi sakit" tegas Rama


"Tidak apa-apa saya akan memaksakan diri untuk berjalan" Mawar tetap bersikeras


"Tidak! Saya tidak akan membiarkan kamu berjalan sendiri nanti lukanya bisa semakin parah. Jadi ijinkanlah saya buat menggendong kamu" ucap Rama, lalu saat akan menggendongnya lagi Mawar terus bersikeras mencegahnya


"Saya mohon tuan, jangan! Saya tidak ingin merepotkan tuan, saya mohon tolong jangan gendong saya!"


"Baiklah, kalau begitu berjanjilah dulu kepada saya untuk tidak mengatakan kejadian ini pada siapapun, termasuk orang tua kamu saya mohon demi kehormatan keluarga saya" ucap Rama memohon. Mawar hanya bisa terdiam sembari menatap kaget Rama yang menyuruhnya tutup mulut atas musibah yang telah dialaminya. Tiba-tiba..


"Tok, tok, tok" ada seseorang yang mengetuk pintu


"Permisi! Permisi tuan! Saya Wahyu, saya ingin menjemput anak saya Mawar. Apa Mawar anak saya masih bekerja?" Ucap pak Wahyu sembari mengetuk pintu dari luar


"Mawar! Nak? Apa kamu masih ada di dalam?" Pak Wahyu mulai memanggil-manggil nama putrinya dan terus mengetuk-ngetuk pintu


"Itu bapak saya" ucap Mawar pada Rama


"Iya saya tau, baiklah kalau begitu ijinkan saya mengantar kamu dan ayah kamu pulang menggunakan mobil saya, karna kalau kamu pulang dengan berjalan kaki kamu tidak akan kuat" ucap Rama, Mawar mengangguk


"Satu lagi, tolong sekali lagi berjanjilah pada saya untuk tidak mengatakan kejadian ini pada ayah dan ibu kamu baik pada keluargamu maupun pada orang lain, tolong rahasiakan kejadian ini untuk selamanya, saya mohon berjanjilah!" ucap Rama sambil mengulurkan tangannya.


Mawar hanya terdiam lalu menatap ke arah pintu, ayahnya masih terus mengetuk pintu sambil terus memanggil-manggil namanya.


Ingin rasanya Mawar berlari menghampiri ayahnya dan memeluknya, Ia ingin memberitahu segalanya tentang kelakuan tuan Arifin yang berani melecehkannya. Tapi, ia tidak bisa berlari karna kakinya yang terluka dan dirinya terus di tahan Rama yang menyuruhnya berjanji untuk tak mengatakan kejadian ini pada siapapun termasuk ayah dan ibunya.


"Mawar! Saya mohon" tuan Rama mulai memohon. Mawar pasrah dan mengangguk menerima uluran tangan Rama, lalu berjalan dituntun Rama.


Rama langsung membuka pintunya, pak Wahyu langsung mendapati putrinya yang sudah berada di depannya bersama tuan Rama yang memegangi bahunya untuk membantunya berjalan, pak Wahyu kaget melihat wajah anaknya lebam-lebam, rambutnya berantakan, dan ada banyak sayatan dan perban yang di tempel di kaki Mawar.


"Mawar! Nak, kamu kenapa?" Tanya pak Wahyu khawatir. Saat Mawar akan menjawab. Rama sudah mendahuluinya menjawab pertanyaan pak Wahyu.


"Ini pak, Mawar tadi terpeleset saat membersihkan kamar mandi, sekarang bapak tidak usah khawatir, Mawar baik-baik saja, saya sudah mengobati lukanya" Rama memberi alasan yang bohong. Mawar hanya bisa diam.


"Oh syukurlah, bapak sangat khawatir sama anak bapak, dari tadi perasaan bapak tidak enak, tapi untungnya ada tuan Rama yang mengobati kamu, terima kasih tuan Rama" ucap pak Wahyu bersyukur sembari berterimakasih kepada Rama.


"Sama-sama pak, sebaiknya bapak sama Mawar pulang naik mobil saya, biar saya yang antar, soalnya kaki Mawar masih sakit dan tidak kuat berjalan" ucap Rama


"Baiklah terimakasih tuan Rama, tuan memang baik" ucap pak Wahyu sembari tersenyum kemudian melihat ke arah Mawar yang masih dengan raut wajahnya yang sedih.


"Bapak" ucap Mawar tiba-tiba mulai menangis.


"Nak, jangan menangis, kamu tenang saja tuan Rama akan mengantarkan kita pulang, jadi kamu tidak perlu berjalan jauh kamu tenang saja" pak Wahyu menenangkan Mawar karna Ia pikir Mawar menangis karena kakinya sedang sakit. Sementara Rama mulai panik karna takut Mawar akan mengatakan segalanya setelah pulang kerumah.


"Sepertinya, Mawar masih trauma saat tadi jatuh di kamar mandi" ujar Rama yang masih terus memberi pernyataan bohong.


"Kalau begitu ayo naik mobil saya, mobil saya ada di depan" lanjut Rama membantu Mawar berjalan menuju mobilnya diikuti pak Wahyu berjalan dibelakang.


Di perjalanan


"Baik tuan, terimakasih tuan, tapi gajinya tidak akan dikurangi kan tuan" tanya Pak Wahyu khawatir.


"Tenang saja pak, saya akan tetap menggaji Mawar meskipun Mawar libur lebih dari beberapa hari. Tidak masalah. Sampai kaki Mawar sembuh" jawab Rama sembari tersenyum. Pak Wahyu terus menganggukkan kepalanya berterima kasih.


Sesampainya di rumah


Rama membantu Mawar berjalan dengan membopongnya masuk ke rumahnya, Bu Ayu yang sedang menantikan mereka langsung keluar dan kaget sekaligus khawatir melihat keadaan putrinya yang wajahnya penuh dengan lebam dan kakinya yang penuh perban.


"Mawar kamu kenapa?"


"Ini Bu, tadi Mawar jatuh di kamar mandi rumah tuan Arifin" ucap Pak Wahyu. Kemudian Bu Ayu mengajak suaminya dan Rama masuk.


"Terimakasih, tuan Rama sudah mengantar Mawar dan suami saya pulang, saya sangat cemas memikirkan anak saya dan suami saya yang belum kunjung pulang" ucap Bu Ayu bersyukur.


"Tidak apa-apa Bu, saya dengar dari pak Wahyu, ibu sedang sakit, semoga ibu cepat lekas sembuh ya" ucap Rama mendoakan.


"Terimakasih tuan" ucap Bu Ayu.


"Sebaiknya ibu sama Mawar libur kerja dulu untuk sementara sampai kalian pulih, soal gaji? kalian tetap akan saya gaji meskipun kalian tidak bekerja" ucap Rama. Bu Ayu dan pak Wahyu langsung senang, sementara Mawar hanya diam dengan tatapannya yang dingin pada Rama.


"Mau minum dulu tuan? Biar ibu buatkan" tawar Bu Ayu.


"Tidak usah repot-repot Bu. terimakasih, saya pulang dulu ya pak, ibu, Mawar" Rama pamit pada mereka, pak Wahyu dan Bu Ayu langsung menganggukan kepala mereka kecuali Mawar yang dari tadi terus menatap Rama dengan dingin.


Setelah Rama pulang dengan mobilnya. Di dalam rumah. Pak Wahyu, Bu Ayu, dan Mawar sedang makan bersama, Bu Ayu terus memperhatikan penampilan Mawar yang dari tadi mengenakan jaket Rama dengan penampilannya yang masih kusut.


"Nak, ini jaketnya tuan Rama?" Tanya Bu Ayu.


"Iya Bu" jawab singkat Mawar sambil memasukan makanannya ke mulutnya sedikit-sedikit.


"Kenapa kamu mengenakan jaket tuan Rama?" tanya Bu Ayu.


"Dipinjamkan tuan Rama, biar gak kedinginan" jawab Mawar bohong.


"Kenapa kamu tidak mengembalikannya? Tuh kan jaket tuan Rama jadi ketinggalan disini. Ayo cepat lepas jaketnya, biar besok bapak kamu yang kembalikan" Bu Ayu mencoba melepaskan jaketnya.


"Jangan Bu, nanti saja" tolak Mawar.


"Eh, cepat lepas jaketnya, nanti kelupaan di lepas terus di bawa tidur, bisa kusut nanti jaketnya, nanti tuan Rama marah! Ayo lepaskan jaketnya"


Bu Ayu bersikeras melepaskan jaketnya, setelah jaketnya terlepas betapa terkejutnya ia melihat kebaya yang di kenakan putrinya robek-robek.


"Nak, kenapa kebaya kamu robek-robek begini?" Tanya Bu Ayu kaget. Mawar langsung teringat saat tuan Arifin merobek-robek pakaiannya dan mendekapnya. Mawar langsung kembali menangis.


"Nak, jangan menangis, kenapa kamu menangis terus dari tadi sejak kamu pulang sampai sekarang kamu terus saja menangis. Ada apa nak?" Tanya Bu Ayu sambil menenangkan putrinya.


"Bu, sudahlah jangan ditanya terus dari tadi! Kata tuan Rama, sepertinya Mawar trauma karna terpeleset dari kamar mandi" ucap pak Wahyu.


"Tidak mungkin pak, kalau terpeleset bajunya tidak mungkin sampai robek-robek begini dan kepangan rambutnya terbuka berantakan. Pasti ada sesuatu yang mencurigakan. Ayo ceritakan pada ibu apa yang sebenarnya terjadi di rumah tuan Arifin?" Bu Ayu mulai curiga.


"Ya namanya juga jatuh Bu, sepertinya Mawar jatuh nya parah, mungkin kebayanya menyangkut saat jatuh jadi sobek. Makanya jadi seperti itu, sudahlah Bu jangan curiga begitu. Yang jelas Mawar beneran jatuh kok kata tuan Rama"


Ucapan pak Wahyu tetap saja membuat Bu Ayu semakin curiga pada anak semata wayangnya