
Keesokan paginya.
Pemuda itu sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Sementara Mawar sedang sibuk menyiapkan bekalnya.
Tidak lama kemudian pak Wahyu dan Bu Ayu menghampiri pemuda itu.
"Semoga selamat ya di perjalanan. Semoga luka yang ada di kepala kamu bisa cepat sembuh dan semoga kamu bisa bertemu kembali dengan keluarga kamu." ucap pak Wahyu memberi doa.
"Terima kasih pak." ucap pemuda itu sambil mengangguk.
"Ini ibu buatkan bekal untuk kamu buat di perjalanan nanti. Ibu tidak tau setelah pergi ke kota kamu akan pulang ke desa lagi atau tidak. Tapi ibu berharap, luka di kepala kamu bisa secepatnya sembuh agar kamu bisa mengingat kembali dimana keberadaan keluarga kamu." Ucap Bu Ayu memberi doa sembari bersedih.
"Saya juga berharap begitu. Tapi walaupun saya sudah bertemu keluarga saya. Saya tetap tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian yang sudah menolong saya." Ucap pemuda itu.
Bu Ayu langsung menangis dan memeluk pemuda itu.
Setelah itu pemuda itu dan Mawar pamit pergi.
*****
Di Ladang.
Tuan Arifin sedang memantau para pekerja yang sedang mencabut rumput.
"Kerja yang benar! Cepaaaattttt!!!!" Tegas tuan Arifin sambil melayangkan tongkatnya pada bokong salah satu pekerja.
Di Perjalanan...
Sembari berjalan menuju rumah tuan Arifin. Pemuda itu dan Mawar berjalan sambil berbincang-bincang.
"Terimakasih ya atas kebaikan kamu menolong saya." Ucap pemuda itu.
"Akang ini dari tadi terus-terusan berterima kasih." Celetuk Mawar sembari cengengesan.
"Ya kalau saya sudah bertemu keluarga saya, kapan lagi saya bisa mengucapkan banyak terima kasih pada kamu. Mengucapkan hanya satu kali saja itu masih tidak cukup untuk membalas semua kebaikan yang telah kamu dan orang tua kamu beserta orang-orang di kampung ini lakukan pada saya."
Tidak lama kemudian pemuda itu tanpa sengaja melihat pak Edi ayahnya Dahlia, suaminya Bu Ina sekaligus adik dari Bu Ayu sedang kesulitan mencabut rumput.
Tidak lama kemudian.
"CKACKKK!!! AAAKKKHHHH!!!!"
Teriak pak Edi kesakitan karna punggungnya keseleo. Mawar dan pemuda itu dengan sigap langsung berlari menghampiri pak Edi untuk menolongnya.
"Kenapa pak?"
"Punggung saya sakit den!"
Mawar dan pemuda itu membantu pak Edi berjalan dan duduk di saung.
"Bapak istirahat dulu ya disini!"
"Tidak den, saya harus tetap bekerja. Disini ada tuan Arifin, kalau dia melihat saya istirahat. Saya bisa di marahi"
"Tidak pak, bapak tidak akan di marahi. Tuan Arifin pasti akan memaklumi bapak kalau bapak sedang sakit" Ucap pemuda itu bersitegas.
"Tidak den. Tuan Arifin akan selalu memarahi orang yang istirahat walaupun orang itu sedang sakit. Tuan Arifin tidak akan peduli, dia akan terus memaksa kami untuk tetap bekerja walaupun dalam keadaan apapun." Jelas pak Edi sembari meringis kesakitan.
"Bisa-bisa gaji saya di potong. Saya tidak mau itu sampai terjadi" Lanjut pak Edi sembari masih meringis kesakitan.
"Bagaimana pun bapak tetap harus istirahat disini. Saya pastikan gaji bapak tidak akan di potong! Biar saya yang mewakilkan pekerjaan bapak." Ucap pemuda itu.
Dengan sigap, ia langsung mencabuti rumput yang harusnya itu pekerjaan pak Edi yang harus dikerjakan sendiri.
"Kang, apa yang akang lakukan? Akang kan belum sembuh! Kita harus secepatnya pergi ke kota. Tuan Rama sudah menunggu kita." Ucap Mawar mencoba mencegah pemuda itu mengerjakan pekerjaan pak Edi.
"Kamu ini tega sekali! Apa kamu tidak punya rasa kemanusiaan sedikitpun? Paman kamu sedang sakit. Harusnya kamu menolongnya dan membantunya! Bukan pergi meninggalkannya." Pemuda itu balik membentak.
Mawar hanya bisa terdiam kaku tak membalas bentakan pemuda itu.
"Sebaiknya kamu urus paman kamu. Biar saya saja yang mengerjakan tugasnya. Agar gajinya tidak dikurangi." Ucap pemuda itu lalu kembali mencabuti rumput yang panjang dengan sekuat tenaga.
Mawar kembali mengurus pamannya yang sedang sakit dengan memberinya minum dan pijatan dipunggungnya.
Hingga beberapa saat kemudian...
Tuan Arifin datang dan melihat pak Edi yang sedang beristirahat di saung sementara pekerjaannya dikerjakan pemuda itu. Tuan Arifin langsung menghampiri pemuda itu yang tengah bekerja.
"Sedang apa kamu?" Tanya tuan Arifin sembari mengejutkan pemuda itu, dengan tiba-tiba memegang pundaknya dengan keras.
"Saya sedang mencabut rumput pak." Jawab pemuda itu.
"Ini kan pekerjaan dia. Kenapa kamu yang kerjakan?" Tanya lagi tuan Arifin.
"Bapak itu sedang sakit tuan. Tadinya bapak itu bersikeras memaksakan diri untuk tetap bekerja. Tapi, saya tidak tega melihat bapak itu terus bekerja di kondisinya yang seperti itu. Jadi saya yang menggantikan bapak itu untuk mengerjakan pekerjaan ini. Saya harap bapak mengizinkan saya untuk mewakilinya bekerja dan tidak mengurangi gaji bapak itu." Ucap pemuda itu memohon.
"Baiklah... Tapi kamu tidak akan saya gaji yaa! Hanya dia saja yang saya gaji." Ucap tuan Arifin.
"Tidak apa-apa pak, saya tidak keberatan. Terima kasih banyak pak." Ucap pemuda itu sumringah sembari mengelap keringat yang bercucuran dari keningnya dan kembali mencabuti rumput.
Tuan Arifin terus memantau pemuda itu yang kini tengah berusaha mencabuti beberapa rumput dengan sekuat tenaga.