Kampung Kembang

Kampung Kembang
Bab 10



Keesokan harinya.


Pria itu perlahan-lahan membuka matanya kembali.


"Dimana aku?"


"Aku dimana?"


Gumam pria itu sambil terus berusaha membuka matanya.


"Tolong"


"Tolong"


"Tolong"


Kemudian pria itu terus bergumam meminta tolong dengan suara pelan. Tiba-tiba bayangan muncul dalam benaknya yang memperlihatkan dirinya jatuh dari jurang. Pria itu langsung bangun dan duduk tegak dengan nafas terengah-engah.


Kemudian pria itu melihat sekitar ruangan.


"Aku dimana?" Ucap pria itu sambil memegang kepalanya yang di perban.


Tak lama.. Mawar masuk, Ia langsung tercengang melihat pria itu yang sudah bangun begitupun juga pria itu yang tercengang juga melihat kedatangan Mawar. Mawar menghampirinya.


"Alhamdulillah.. Akang sudah sadar" ucap Mawar bersyukur.


"Kamu siapa?" Tanya pemuda itu.


"Saya yang waktu itu menolong akang di pinggir sungai"


"Benarkah?" pemuda itu berdenyit heran.


"Iyaa. Bukan hanya saya saja. Tapi, semua warga disini juga menolong akang dan menyembuhkan kepala akang" terang Mawar.


"Memangnya kepala saya kenapa?" Pemuda itu mulai kaget.


"Waktu itu saya menemukan akang pingsan, dengan darah yang banyak di kepala akang" jelas Mawar.


"Apa benarkah? Tapi bagaimana bisa?" Tanya lagi pemuda itu tak percaya.


"Saya tidak tahu. Sepertinya akang terjatuh"


Pemuda itu mencoba mengingat namun kepalanya langsung sakit.


"Kepala akang masih sakit ya? Sebaiknya akang berbaring" ucap Mawar sambil membantu pemuda itu membaringkan tubuhnya"


"Siapa namamu?" Tanya pemuda itu.


"Saya Mawar"


"Mawar, kamu cantik sekali" ucap pemuda itu yang tiba-tiba memuji, Mawar langsung tersenyum.


Kemudian Mawar memanggil ayah dan ibunya. Orangtua Mawar menghampirinya dan langsung senang melihat pemuda itu yang sudah sadar.


"Syukurlah dia sudah sadar" ucap syukur Bu Ayu.


"Nak bagaimana keadaan kamu?" Tanya pak Wahyu.


"Kepala saya masih sakit pak"


"Siapa nama kamu dan dimana kamu tinggal?" Tanya Bu Ayu. Pemuda itu berpikir sejenak.


"Saya tidak tahu"


"Apa?" Bu Ayu dan Mawar langsung kaget.


"Saya tidak tahu, saya siapa dan dimana Saya tinggal, saya tidak ingat"


Mendengar perkataan pemuda itu. Mereka segera memanggil Tabib dan pemuda itu kembali diperiksa.


"Bagaimana keadaan kamu?" Tanya Tabib.


"Masih sakit"


"Nak, apa kamu ingat kamu tinggal dimana? Biar kami bisa antar kamu menemui keluarga kamu" tanya Tabib.


"Bukan hanya tempat tinggal saya saja yang tidak ingat. Tapi nama saya pun, saya tidak ingat nama saya siapa? Bagaimana saya bisa ingat? Dimana tempat saya tinggal? Kalau saya berusaha mengingat kepala saya akan sangat sakit" ucap pemuda itu dengan nada sedikit tinggi.


"Sepertinya orang ini sedang mengalami hilang ingatan" ujar Tabib.


"Hilang ingatan?" Mawar dan Bu Ayu langsung syok.


"Iya. Luka di kepalanya sangat dalam. Sangat sulit untuk diobati. Butuh waktu lama agar luka di dalam kepalanya bisa sembuh. Itulah sebabnya dia kehilangan ingatannya" ujar Tabib.


"Sebaiknya orang ini harus lebih banyak istirahat. Dan jangan banyak bertanya, agar dia tidak stress" lanjut tabib sambil memberikan obat racikannya. Setelah itu pergi.


Siang hari.


Mawar membawa nampan berisi sepiring nasi dan secangkir air.


"Permisi kang. Ayo dimakan dulu. Setelah makan nanti minum obat, biar akang bisa cepat pulih"


"Mawar" panggil pemuda itu.


"Iya kang?"


"Nama kamu Mawar kan?" Tanya pemuda itu sekali lagi.


"Iya kang"


"Kalau nama kamu Mawar. Nama saya siapa?" Ucap pemuda itu bersedih.


"Saya tidak tau kang. Ini di makan dulu" ucap Mawar sembari menyodorkan sepiring nasi.


"Apa selama ini saya tidak memiliki nama. Kenapa saya bisa tidak ingat?"


Mawar hanya diam tak bisa menjawab pertanyaannya.


"Sudah berapa lama saya disini" tanya pemuda itu.


"Sebulan kang"


"Apa sebulan? Jadi saya koma selama sebulan? Tapi saya baru bangun kemarin dan baru tahu kamu"


"Iya karna akang pingsan terus, jadi baru bangun kemarin" jawab Mawar. Pemuda itu menghela nafas.


"Kalau begitu dimakan dulu kang" ucap Mawar.


"Apa itu?" Tanya pemuda itu sembari melirik makanan yang Mawar bawa.


"Nasi dan ikan nila bakar"


"Kenapa ikannya kecil sekali? Saya tidak akan kenyang kalau makan ikan sekecil itu" keluh pemuda itu sedikit kesal.


"Hanya ada segini kang ukurannya. Kalau kurang bisa di tambah lagi"


"Apa tidak ada daging sapi atau ayam?" tanya pemuda itu banyak menawar.


"Sapi sama ayam ada kang. Tapi belum disembelih"


"Kalau begitu besok sapi atau ayam harus disembelih, soalnya saya ingin makan daging" pinta pemuda itu.


"Baik kang" ucap Mawar.


"Kalau begitu suapi saya. Tangan saya masih lemas setelah mendengar pernyataan bahwa saya sedang hilang ingatan" pinta pemuda itu mencoba memanjakan dirinya.


"Baik tuan" ucap Mawar menurut lalu mulai menyuapinya.


"Mawar" panggil pemuda itu sembari mengunyah makanannya.


"Iya kang"


"Minum nya"


"Iya kang" Mawar langsung menyuapi segelas air pada pemuda itu. Pemuda itu langsung meneguk cepat airnya.


"Mawar" panggil lagi pemuda itu.


"Iya kang"


"Sesuai seperti nama kamu Mawar. Kamu sangat cantik" pria itu mulai memujinya lagi.


"Terima kasih kang" ucap Mawar sembari tersenyum malu-malu.