Kampung Kembang

Kampung Kembang
Bab 5



Keesokan paginya.


Rama datang ke rumah Mawar sembari membawa perban.


"Tok, tok, tok"


Pak Wahyu langsung membuka pintu.


"Tuan Rama" ucap pak Wahyu terkejut.


"Pak, saya kesini membawa perban. Boleh saya masuk" ucap Rama sambil memperlihatkan barang bawaannya.


"Iya, ayo silahkan"


Rama langsung masuk setelah dipersilahkan pak Wahyu. pak Wahyu langsung bergegas menyiapkan teh untuk Rama karna Bu Ayu sudah pergi ke ladang untuk bekerja sejak dari pagi.


Setelah masuk. Rama melihat Mawar yang masih terbaring tidur di ranjang. Kemudian Rama menghampirinya, Ia melihat perban yang ada disebelah kaki Mawar yang Ia pasang kemarin sudah kotor. Rama langsung duduk di tepi ranjang berniat mengganti perbannya, Ia mengangkat sebelah kaki Mawar lalu menurunkannya dipahanya secara pelan-pelan supaya tidak menggangu tidurnya. Dengan hati-hati, Rama melepas perbannya perlahan-lahan. Tak lama, Mawar terbangun dari tidurnya, saat membuka mata, Ia langsung beranjak kaget melihat Rama ada dihadapannya.


"Tenang. Jangan bergerak! Perbannya, saya ganti dulu" ucap Rama. Mawar langsung menyandarkan punggungnya di tepi ranjang sambil memperhatikan Rama yang memperbani kakinya.


Setelah selesai memperbani kaki Mawar. Rama langsung duduk disamping Mawar. Lalu membelai rambutnya.


"Masih sakit?" tanya Rama. Mawar hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab. Kemudian Mawar memperhatikan Rama yang berada disampingnya lalu Ia dibuat terkejut saat melihat ada luka yang sedikit besar bernanah di bagian telinga Rama.


"Tuan, saya boleh bertanya sesuatu"


"Apa?"


"Tuan, kenapa telinga tuan terluka?" mendengar pertanyaan Mawar, dengan cepat Rama langsung menyembunyikan luka di bagian kupingnya dengan tangannya.


"Sebenarnya saat saya sedang wisuda. Sekelompok pasukan Belanda masuk ke dalam gedung dan menyerang kami. Mereka langsung menyerang dan masing-masing dari mereka membawa senapan lalu mulai menembaki teman-teman saya satu persatu hingga tewas. Saya merangkak mencoba berusaha kabur dan bersembunyi agar tidak saya tidak ikut tertembak" Rama mulai menceritakan kejadiannya saat dikota.


"pasukan Belanda?" Mawar langsung berdenyit kaget.


"Iya. Pasukan Belanda" ucap Rama meyakinkan.


"Saya berusaha mencoba kabur dan keluar dari gedung. Tapi, apalah daya saya. Mereka sudah mengetahui keberadaan saya dan mulai mencoba menembaki saya. satu persatu satu peluru mulai keluar akan menembak saya. Saya terus berlari menghindari peluru. Hingga pada akhirnya peluru pun berhasil melesat mengenai telinga saya dan kaki saya. Walaupun saya sudah tertembak. Tetap saja saya berusaha berlari hingga akhirnya saya berhasil kabur dengan mobil saya lalu mereka mengejar saya hingga pada akhirnya saya berhasil menghindari mereka. Saya berharap pasukan Belanda itu tidak masuk ke kampung kita dan menyerang kita" lanjutnya terus menceritakan.


Mawar hanya diam membisu setelah mendengar cerita tuan Rama.


1 Minggu kemudian


Kaki Mawar masih belum kunjung sembuh. Ia terus berbaring di ranjang.


Sambil menghilangkan kebosanannya yang seharian berada di rumah terus. Mawar memutuskan untuk membuat topi caping dari anyaman bambu, setelah topi buatannya selesai Mawar berencana akan memakainya untuk memetik daun teh jikalau ia sembuh nanti.


Tak lama kemudian


Seseorang datang mengetuk pintu rumahnya, kebetulan pintu rumahnya terbuka jadi Mawar masih bisa melihat siapa orang yang mengetuk pintunya dan ternyata tuan Rama yang mengetuk pintunya sambil membawa segulung perban. Tujuan Rama datang yaitu untuk mengganti perban Mawar, karna warga disini hanya Rama saja yang memiliki perban.


"Boleh saya masuk" ucap tuan Rama. Mawar langsung membereskan beberapa anyaman bambu, Mawar berniat untuk menyimpannya di lemari saat akan bangkit ia lupa kalau kakinya masih belum sembuh hingga sulit bangkit.


Mawar langsung merintih kesakitan


Rama langsung khawatir melihat Mawar yang kesakitan, Rama langsung masuk ke dalam tanpa ijin Mawar dan langsung menenangkan Mawar.


"Jangan dulu bangkit, kaki kamu masih belum sembuh, ini kenapa kaki kamu besar begini? Kamu sumpal pakai apa?" Tanya Rama berdenyit kaget setelah melihat kaki Mawar yang membesar.


"Saya tidak menyumpalnya, tiba-tiba saja kaki saya sudah membesar begini" jawab Mawar dengan nada malas.


Rama langsung membuka perban yang ada di kaki Mawar, setelah membukanya. Betapa terkejutnya Rama melihat kaki Mawar yang Ia kira sumpalan ternyata benjolan besar di telapak kakinya yang mengeluarkan banyak nanah.


"Kenapa bisa bengkak gini?" Gumam Rama kaget. Mawar hanya diam kalau ia menjawab penyebabnya pasti ia akan dimarahi karna selama 5 hari Mawar yang sering memaksakan diri untuk berjalan sampai kakinya membengkak seperti itu.


Kemudian Rama mengobati kaki Mawar dan mengganti perban nya. Setelah memperbaninya.


"Kenapa gak berbaring di ranjang? Tidak baik kalau terus diam di bawah" ucap Rama.


Kemudian Ia mengangkat Mawar dan membaringkannya di ranjang.


"Kamu berbaring disini saja, jangan dulu turun kebawah! Ingat! Jangan dulu berjalan sampai luka di kaki kamu kering! Mulai sekarang Saya akan kesini setiap minggu untuk mengganti perban dikaki kamu" Nasihat Rama yang dibalas anggukan Mawar.


Rama langsung duduk disampingnya.


"Mawar, kamu tidak membicarakan kejadian kemarin kan pada siapapun termasuk ayah dan ibu kamu?' tanya Rama dengan suara pelan, Mawar menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak.


"Huh baguslah, saya tau kamu ini sahabat saya yang baik, yang suka menepati janji, itu sebabnya saya percaya sama kamu" ucap tuan Rama sambil menggenggam erat tangan kanan Mawar.


Tiba-tiba Melati datang dan masuk ke rumahnya.


"Mawar coba liat aku bawa_"


Melati langsung terkejut melihat Rama yang sudah berada disamping Mawar sembari menggenggam tangannya. Rama langsung melepas genggaman tangannya.


"Tuan Rama" Melati langsung menunduk hormat.


"Kamu ngapain kesini?" Tanya Rama sambil melihat Melati datang membawa perban.


"Oh ini perban tuan, setiap hari saya sering mengganti perban Mawar" jawab Melati.


"Tapi dari mana kamu dapat perban itu? Bukannya warga disini belum ada yang punya perban?" Tanya Rama penasaran.


"Oh, ini dari pak Budi waktu itu kan, pak Budi baru pulang dari kota terus pak Budi beli perban di pasar yang ada di kota, pak Budi belinya banyak sekali untuk jualan disini" jawab Melati sambil tersenyum.


"Oh, saya baru saja sudah mengganti perbannya. Jadi kamu tidak perlu menggantinya lagi" ucap Rama tanpa menatap Melati.


"Kalau begitu saya pulang dulu ya nanti saya kesini lagi" lanjut Rama pamit pada Mawar, Mawar mengangguk.


Setelah Rama pergi, Melati langsung duduk di samping Mawar sembari memanyunkan bibirnya.


"Kamu kenapa ti?" Tanya Mawar.


"Aku cemburu" jawab Melati yang masih cemberut.


"Cemburu kenapa?" Tanya Mawar bingung.


"Cemburu karna tuan Rama sering deketin kamu War, dari kecil sampai sekarang tuan Rama selalu berada disisi kamu terus" rengek Melati, Mawar langsung tertawa kecil.


"Aku sama tuan Rama kan dari dulu hanya sahabat ti, kamu kan tau sendiri. Udah jangan cemberut gitu. Kamu tenang saja. Aku gak akan merebut tuan Rama dari kamu sama Dahlia" Mawar meyakinkan Melati.


"Aku tau, kalian sahabat, tapi aku sama Dahlia juga kan sahabat kamu, apapun yang termasuk sahabat kamu sahabat kita juga, tuan Rama juga sahabat kita tapi kenapa tuan Rama lebih memilih kamu?" Ucap Melati dengan raut wajah yang sedih.


"Dia belum pernah sekalipun mendekati aku sama Dahlia apalagi mengajak kami ngobrol" lanjut Melati masih merengek dibalas kekehan Mawar.


"Kamu tenang saja, nanti aku bujuk tuan Rama supaya dia mau dekat sama kalian" ucap Mawar.


"Beneran?" Tanya Melati kurang yakin.


"Iya" jawab Mawar menjanjikan. Melati langsung senang kemudian memeluk Mawar.


"Ah makasih Mawar. Kamu memang sahabat aku yang paling baik" ucap Melati senang.


"War, aku mau nanya, bukannya dari kemarin kamu dibawah ya? Kok sekarang bisa di atas? Kamu bisa jalan?" Tanya Melati kaget.


"Aku masih belum bisa berjalan. Tadi tuan Rama yang mengangkat aku kesini" jawab Mawar dengan entengnya.


"Oh" Melati langsung kembali cemburu