Kampung Kembang

Kampung Kembang
Bab 6



Di perjalanan pulang, Rama berpapasan dengan Dahlia.


"Tuan Rama" Sapa Dahlia.


"Ada apa?" Tanya Rama dingin.


"Tuan Rama sudah pulang?" Tanya Dahlia ceria.


"Apa urusanmu?" Tanya balik Rama dengan wajah malas.


"Saya cuman bertanya saja" Jawab Dahlia cengengesan.


"Kerja yang benar kalau tidak? Gaji kamu saya kurangi" Ancam Rama lalu pergi melewati Dahlia.


"Jangan tuan! Saya bekerja dengan benar kok! Tuan Rama saya belum selesai bicara! Tuan Rama!" Teriak Dahlia, Rama terus berjalan tak peduli kalau Dahlia terus berteriak padanya. Dahlia langsung mendengus kesal.


Minggu berikutnya.


Seperti biasa, setiap minggu Rama selalu datang ke rumah Mawar untuk mengganti perbannya, Rama selalu perhatian pada Mawar dan selalu mengajak ngobrol Mawar sampai-sampai Rama memutuskan untuk ke rumah Mawar setiap hari, bahkan seperti biasa kebersamaan mereka sering dipergoki Melati yang selalu datang setiap hari sembari membawa perban untuk mengganti perban Mawar, namun sayangnya Rama selalu mendahuluinya bahkan kedatangan Melati membuat Rama merasa terganggu begitupun juga Melati yang beberapa kali sering cemburu melihat kebersamaan Mawar dan Rama. Rama merasa keberatan ketika Melati sering memperhatikan dirinya dan Mawar.


Hingga minggu-minggu berikutnya. Rama masih sering mengunjungi Mawar dan selalu melihat keadaan Mawar, Rama selalu memantau perkembangan kondisi Mawar yang mulai agak pulih, bahkan Rama mengajari Mawar berjalan setiap kali mengunjunginya. Walaupun Mawar masih belum benar dalam berjalan, tapi Rama tak berhenti untuk mengajarinya meskipun Mawar beberapa kali jatuh tapi Rama selalu sigap menahannya agar tak jatuh. Kadang Rama menemani Mawar hingga larut malam sampai kedua orangtuanya kembali pulang dari pekerjaannya.


Kebersamaan mereka dan perhatian Rama pada Mawar membuat Bu Ayu dan pak Wahyu terharu melihatnya dan bahagia, bahkan pak Wahyu dan Bu Ayu sudah mulai menyayangi Rama. Hingga mereka sampai mengajak Rama untuk makan malam bersama.


Minggu berikutnya.


Seperti biasa Melati datang ke rumah Mawar sembari membawa perban, saat akan masuk Rama yang sudah datang terlebih dulu dan langsung menghalangi jalannya saat akan masuk.


"Permisi tuan" Ucap Melati tapi Rama tetap menghalanginya. Melati tak mengerti kalau sebenarnya Rama mencoba mencegahnya untuk masuk.


"Mawar sudah saya kasih perban. Jadi, kamu tidak perlu menggantinya lagi, sebaiknya kamu pulang saja dan jangan datang lagi besok. Karna saya yang setiap hari mengurus kondisi Mawar dan mengatur segalanya" Usir Rama secara halus.


"Oh, kalau begitu ijinkan saya tuan, untuk masuk melihat Mawar dan mengajak ngobrol" Pinta Melati mencoba masuk namun Rama terus menghalanginya.


"Sekarang Mawar sedang istirahat, dia tidak ingin di ganggu, sebaiknya kamu pulang saja, lagian kamu sudah setiap hari sering bertemu dan mengobrol sama Mawar. Jadi, hari ini setidaknya biarkan dia istirahat, dia masih belum sembuh" Tegas Rama.


"Baiklah tuan" Melati langsung berbalik dengan raut wajah kesal dan akan beranjak pergi.


"Tunggu" Cegah Rama, Melati langsung senang dan berbalik.


"Sebaiknya kamu fokus saja bekerja. Jangan datang lagi kesini dan jangan mencemaskan Mawar. Saya pastikan Mawar akan baik-baik saja selama saya yang mengurusnya. Lebih baik kamu kerja saja yang benar agar saya tidak memotong gaji kamu lagi" Perintah Rama.


"Baik tuan" Melati langsung lesu dan pergi. Rama langsung kembali ke dalam menemani Mawar.


...


Beberapa Minggu kemudian.


Mawar sudah sembuh, kini Mawar sudah bisa melakukan pekerjaannya lagi seperti memetik daun teh, mengumpulkan telur ayam, memeras susu sapi, membersihkan kandang, dan mengumpulkan ranting kayu.


Di kebun teh


Semakin lanjut usia, Bu Ayu yang sedang bekerja memetik daun teh bersama kedua sahabatnya Bu Ina dan Bu Ririn sudah tidak kuat dalam melakukan pekerjaan mereka.


"Iya yu, sama aku juga, kepalaku pusing dan pinggangku selalu sakit kalau ngambil ranting" Balas Bu Ina sambil berkeluh kesah.


"Bukan kalian saja, kakiku juga sudah tidak kuat lagi berdiri, makanya aku sering menyuruh Melati buat menggantikan pekerjaanku" Bu Ririn ikut berkeluh kesah juga.


"Waktu dulu saat kita masih muda paling senang dalam bekerja, pagi sudah pergi ke sawah dan malam mencari ranting kayu tapi sekarang melakukan itu sudah tidak bisa karna tidak kuat malah sekarang lebih sering sakit-sakitan" Bu Ayu bernostalgia sembari curhat akan dirinya sendiri.


"Iya namanya juga sudah lanjut usia, penyakit baru pasti selalu datang" Sahut Bu Ina.


"Iya seharusnya diusia seperti ini kita sudah istirahat, biarkan putri kita yang sudah dewasa yang bekerja menggantikan kita" Saran Bu Ayu.


"Iya Yu, kamu benar, di usia yang sudah hampir tua begini lebih pantas banyak istirahat dan diam di rumah" Ujar Bu Ririn.


"Ya udah yuk mending kita pulang saja, biar anak kita yang menggantikan pekerjaan kita" Usul Bu Ina.


"Iya betul ayo" Seru Bu Ayu dan Bu Ririn.


Lalu mereka menyuruh anak-anak mereka yang sama-sama semata wayang untuk bekerja menggantikan mereka. Ketiga putri mereka langsung menurut.


Bu Ayu, Bu Ina, dan Bu Ririn langsung pulang ke rumah mereka masing-masing dan menikmati masa tua mereka.


Mawar, Melati, dan Dahlia sedang memetik daun teh. Seperti biasa Dahlia selalu selesai terlebih dulu.


"Eh, daun teh ku sudah banyak aku mau ganti keranjang dulu ya" Ucap Dahlia lalu pergi.


Kini tinggal Mawar dan Melati yang berdua.


"War, kaki kamu sudah sembuh?" Tanya Melati.


"Alhamdulillah, udah Ti, makanya aku udah bisa bekerja lagi" Jawab Mawar senang.


"Oh baguslah.. Sekarang tuan Rama sering ke rumah kamu lagi gak War?" Tanya Melati penasaran.


"Akhir-akhir ini setelah aku sembuh sudah enggak Ti. Tapi kok kamu nanya gitu sih Ti?" Tanya Mawar kaget.


"Ya aku nanya aja, soalnya tuan Rama perhatian banget sama kamu, sampai waktu itu aja dia ngusir aku gara-gara aku sering ke rumah kamu, katanya aku ini sering mengganggu kamu War, padahal sebenarnya selama ini aku selalu nemenin kamu biar kamu gak sendiri di rumah" Jawab Melati kesal.


"Pantas aja, akhir-akhir ini kamu enggak ke rumah aku lagi Ti. Kok bisa-bisanya tuan Rama berpikir begitu? Kamu ini sahabat aku Ti, ya udah sewajarnya kalau kamu datang ke rumah aku setiap hari" Mawar mulai kesal.


"Aku gatau War, sepertinya tuan Rama gak mau di ganggu kalau aku ada di antara kalian sepertinya tuan Rama lebih suka sama kamu War" Celetuk Melati membuat Mawar terkejut.


"Kok kamu bisa-bisanya ngomong gitu Ti, jangan ngomong kaya gitu lagi ah, kalau kedengeran orang lain gimana? Apalagi kalau sampai kedengaran Dahlia, dia pasti bakal marah Ti" Tukas Mawar.


"Biarkan saja, lagian apa yang aku katakan memang ada benarnya" Ucap Melati lalu pergi pindah menjauhi Mawar.


"Melati" panggil Mawar tapi Melati menghiraukannya.


Mawar langsung sedih sambil memetik daun teh. Tak lama kemudian ada seseorang yang memanggilnya.


"Mawar"