KALA

KALA
BAB 9 : Pencuri



"Wahh...siapa mereka ? Benar-benar sangat rupawan."


"Apa mereka seorang bangsawan ?."


"Hustt..pelankan suaramu. Nanti mereka mendengarnya."


Beberapa orang terlihat terus membicarakan betapa tak manusiawinya paras Kai dan Selena yang tengah menikmati makanan di restoran biasa.


Selena sendiri terus tersenyum setiap mendengar pujian-pujian yang dilontarkan oleh manusia-manusia itu.


"Kai, jadi orang mana yang akan menjadi buruanmu ?." Tanya Selena penasaran.


"Entahlah, aku belum menemukan seseorang yang menarik." Jawab Kai.


Selena pun mengerti, mungkin saja Kai masih belum tahu bagaimana cara mendapatkan mangsa yang tepat.


Selena sangat menyukai mangsa yang banyak memakan buah, darah mereka terasa lebih manis. Ia juga lebih menyukai darah anak-anak.


Melihat wajah polos mereka saat memohon untuk dilepaskan membuatnya sangat senang.


Ia tak suka menghisap darah dari orang pemabuk. Baginya darah mereka terasa sangat pahit.


Kai pun masih tak bergerak walaupun Selena sudah memberitahukannya pada Kai.


"Akan lebih mudah untuk menemukan anak-anak di taman, ayo kita pergi ke sana." Ajak Selena.


Kai pun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, entah apa alasannya kini Kai mengajaknya untuk pergi ke perbatasan.


"Apa kita tak akan berburu ? Kai, kita sudah pergi sejauh ini, kalau kau masih ragu atau takut, tunggulah disini, aku akan membawakan mangsa untukmu." Ucap Selena lalu berpamitan.


Sayang, Kai langsung menghentikannya, lelaki itupun menunjukkan sebuah kalung padanya.


"Kau mengajakku ke kuil ?." Tanya Selena.


Bebedapa detik kemudian Selena pun tertawa terbahak-bahak.


Kai sangat aneh hari ini, kalau dari awal ia ingin mengajaknya ke kuil, mereka tak perlu sampai ke daerah manusia seperti ini.


"Hanya ingin ke kuil saja kau sampai berbohong." Ucap Selena.


"Lihatlah dengan jelas, aku ingin mencari pemilik kalung ini." Ucap Kai.


Selena pun meraih kalung itu, dia memperhatikan lagi setiap detail ukirannya.


Mata Selena pun membulat, ia tahu kalau simbol ini adalah untuk umat setia dewa Aelius, ia pun juga memilikinya.


Namun ukiran dalam kalung ini sedikit berbeda, bahkan kalung ini sendiri terlihat lebih mewah dan entah mengapa Selena merasa sedikit aneh saat memegangnya.


Kai pun dengan cepat meninggalkan Selena, ia melangkah pergi menuju ke dalam kuil.


"Cukup ramai juga." Gumam Kai.


Tiba-tiba saja seorang anak perempuan berlari ke arah Kai dan menghadangnya.


Dengan tatapan tajam anak itu terus memandangi Kai, kedua tangannya bahkan terlipat didada, seolah Kai harus dimarahi karena berbuat salah.


"Ada apa anak kecil ?." Tanya Kai.


"Dasar anak nakal, beraninya kau menghalangi jalan kami." Ucap Selena yang berada di belakang Kai.


Anak kecil itupun berniat merebut kalung yang ada ditangan Kai. Namun kecepatan tangannya tentu bukan apa-apa bagi Kai.


"Apa kau tahu mencuri itu perbuatan tak benar ? Kau bahkan melakukannya di kuil. Apa kau tak takut mati ?." Tanya Kai dengan tersenyum sinis.


Anak kecil itu merasa sangat kesal, yang dikatakan Kai memang benar.


Tapi baginya Kai jugalah seorang pencuri.


"Kakak juga pencuri, kalung itu punya nona Ara!! Darimana kakak mengambilnya ?." Tanyanya dengan suara tinggi.


Kai pun nampak berpikir sejenak.


"Ara ? Apa kau mengenalnya ?." Tanya Kai.


"Tentu saja, nona Ara adalah kakakku, katakan dimana kau mencurinya ?!." Tanya bocah itu sekali lagi.


"Aku memungutnya." Jawab Kai singkat.


Anak kecil itu menggeleng tak percaya, tak mungkin Kai memungutnya.


"Tak mungkin, dia tak pernah melepasnya, kau pasti mencurinya, lihat saja aku akan melaporkanmu pada pengawal!!!." Teriak anak itu.


Selena pun mencengkram tangan anak kecil itu saat ia hendak berlari. Cengkramannya cukup kuat hingga membuat anak kecil itu meringis kesakitan.


"Lepaskan dia Selena." Ucap Kai.


"Anak nakal ini sangat cocok dijadikan santapan." Jawab Selena yang tak berniat menuruti ucapan Kai.


"Lepaskan, aku ingin menggali informasi darinya." Pinta Kai sekali lagi.


"Ada apa ini ?." Ucap seseorang yang baru saja tiba.


Dari penampilannya sudah terlihat jelas kalau ia adalah salah satu pendeta muda.


Ia menatap tak suka ke arah Kai dan juga Selena.


"Nona sepertinya anda berlaku sangat kasar, di kuil ini tak boleh melakukan tindak kekasaran seperti ini." Ucapnya.


"Anak inilah yang mengganggu kami berdua." Jawab Selena.


Biarpun begitu, Selena akhirnya melepaskan cengkramannya, dan anak kecil itupun berlari ke arah pendeta.


Dengan mulut mungilnya ia mengadu bahwa Kai telah mencuri kalung milik Kyara.


Pendeta muda itu langsung membulatkan matanya tak percaya.


"Maaf tuan, apa yang dikatakan anak ini benar ?." tanyanya pada Kai.


"Sudah kubilang aku memungutnya." Jawab Kai tak suka.


Untuk apa juga dia mencuri kalung ini ?.


Meskipun dia diabaikan oleh kekaisaran utara, ia tetap mempunyai banyak harta. Bahkan ia yakin kalau perhiasan peninggalan ibunya lebih mahal daripada kalung ini.


Pendeta itu pun kembali menatap ke arah bocah perempuan tadi.


"Aku tak berbohong pendeta, kalung itu memang milik nona Ara. Aku bersumpah." Ucapnya dengan berani.


"Maaf tuan, bolehkah aku melihat kalung itu ?." Tanya pendeta.


Cihhhh....


Selena benar-benar tak menyukainya, bagaimana bisa pendeta muda ini sangat tak sopan.


Kai pun menunjukkan kalung di tangannya itu, dan lagi-lagi pendeta muda itu kembali terkejut dibuatnya.


Ternyata memang benar yang diucapakan anak itu.


Walaupun terlihat seperti perhiasan biasa, namun ia sebagai seorang pendeta bisa merasakan kekuatan magis di kalung itu.


Kalung itu memanglah pemberian dewa Aelius untuk keluarga Malvi.


Dia pun sempat berinteraksi dan melihat langsung kalung itu sewaktu Kyara masih hidup, jadi tak mungkin ia salah.


"Tuan, dimana anda memungutnya ? Kalung ini adalah milik keluarga Duke Malvi. Kalung ini begitu berharga." Ucap Pendeta itu.


Kai pun mengernyitkan dahinya, apa benar kalau Kyara berkata jujur ?.


Namun anak kecil itu tadi berkata kalau Kyara adalah kakaknya, jadi mana yang benar ?.


"Untuk apa anda tahu dimana aku memungutnya pendeta ?." Tanya Kai balik.


"Maaf tuan, seperti yang kukatakan kalau kalung itu sangat berharga. Beberapa waktu lalu kalung ini memang hilang dari pemiliknya. Apa benar anda bukan pencuri ?." Tanya pendeta itu meyakinkan.


Kai nampak semakin kesal, begitu juga dengan Selena.


Kedua mata Selena pun dengan cepat memperhatikan keadaan sekitar. Mengetahui keadaan sekitar begitu sepi karena mereka berada di taman belakang.


Selena pun mencengkram kuat dan membawa pergi pendeta dan anak kecil itu kedalam hutan dengan cepat.


"K-kau monster." Ucap pendeta itu terbata-bata.


"Monster ? Pencuri ? Apa mulutmu itu hanya digunakan untuk memfitnah dan menghina ?." Ucap Selena.


Dengan kasar Selena pun menjatuhkan dan menghajar kedua orang itu.


"Kai, hisaplah darah mereka." Ucap Selena sembari tersenyum riang.