KALA

KALA
BAB 15 : Luka



Berdiri membelakangi kaca, Kyara memperhatikan luka di punggungnya yang cukup lebar. Tubuhnya terasa hancur berkeping-keping saat ini.


Bajunya robek dan berlumuran darah, ia meringis kesakitan setiap menyentuh lukanya untuk di bersihkan.


"Uhhh.....!!!!!"


Erangan demi erangan terus keluar dari bibirnya, keringat dingin terus bercucuran keluar begitu juga dengan air matanya.


Tangannya semakin bergetar hebat ketika melihat salah satu bagian lukanya yang dalam.


Dan pada akhirnya ia menyerah karena tak sanggup melakukannya.


Perlahan ia memilih untuk merangkak mendekati ranjang tidurnya. Kakinya sudah tak sanggup lagi untuk menopang tubuh kurusnya itu.


Untuk naik ke atas ranjang pun dia harus berusaha mati-matian. Andai saja kamarnya sangat terang pasti sudah terlihat dengan jelas sprei kasurnya yang sudah menjadi warna merah saat ini.


Dalam tangisnya Kyara berpikir dengan dalam, sejujurnya ia tak paham dengan perlakuan Kai.


Ia sangat yakin tak melakukan kesalahan apapun, namun mengapa dia menerima kekerasan fisik seperti ini ?.


Tusukan yang ia terima saat rencana pembunuhan yang ia terima bahkan tak sesakit ini. Mungkin karena Kai adalah vampire dan kekuatan fisiknya lebih hebat dari manusia biasalah yang membuatnya merasakan sakit ribuan kali lipat saat ini.


"Tak ada yang salah dari rasa masakanku, lalu kenapa dia seperti itu ? Dia memang gila." Isak Kyara.


Kali ini Kyara tak lagi berharap hidup, dengan luka separah ini tanpa diobati oleh dokter ia sudah pasti mati.


"Kupikir aku berhasil mengambil hatinya ternyata aku hanya mempercepat kematianku." Gumam Kyara lagi.


Tak lama gadis itu benar-benar kehilangan kesadarannya.


Namun sepertinya Dewa Aelius kembali berpihak padanya, lagi-lagi ia tak mati.


Lukanya memang tak sembuh sempurna namun jika diperhatikan jelas lukanya itu sudah lebih baik daripada sebelumnya.


Ia sempat kebingungan, namun bangun dengan keadaan darah yang mengering sangat tak nyaman.


Kyara pun mencoba menjalani hari seperti biasa. Sebenarnya ia berpikir kalau Kai diam-diam datang dan mengobatinya.


Ya, dia teringat akan Kai yang bisa menyembuhkan telapak tangannya dulu.


Sebuah sihir, pasti dia menggunakan sihir penyembuhan padanya.


"Sepertinya dia akan meminta maaf sebentar lagi, kalau begitu aku harus membuatnya merasa menyesal." Pikirnya.


Sayangnya Kai sama sekali tak menunjukan batang hidungnya hari itu.


Sempat terpikir mungkin ia malu dan bersembunyi dahulu, namun ternyata Kai tak datang selama 3 hari.


Kyara terus saja memikirkan hal-hal buruk.


Luka di tubuhnya belum sembuh dan lelaki itu sampai saat ini belum juga menampakan diri.


"Ragaz....aku takut sekali hikss hikss, aku takut tak akan bisa pulang, aku sangat merindukanmu, ahhh...tubuhku sangat s-sakit hikss hikss." Isak Kyara.


Kyara pun berjalan tertatih-tatih ia mencoba keluar dari kastil. Tapi pintu tetap saja tak bisa dibuka olehnya.


Bukan karena ia terluka, sebelumnya pun ia sudah mencoba keluar namun ia juga tak bisa membukanya.


Bahkan anehnya ia juga tak bisa keluar melalui jendela yang tak ada pembatasnya.


Tubuhnya pun jatuh ke lantai, tangisnya semakin pecah.


"Kai! Kau sangat j-jahat!!!"


Di sisi lain di bawah pohon yang rimbun Kai berbaring dan tengah melamun. Adegan dimana ia menghisap dan melempar Kyara masih terekam jelas dalam memorinya.


Minta maaf ?.


Tentu ia tahu kalau harus meminta maaf, yang ia lakukan memang sangat keterlaluan. Namun saat ini ia masih terlalu malu untuk menemui Kyara.


Perasaannya juga terluka seperti Kyara. Tak ada yang salah dari masakan Kyara, ia juga tahu Kyara tak memasukan apapun dalam masakannya.


Ia mengakui kalau memfitnah gadis itu.


Ya, dia marah karena masakan yang dibuat Kyara seperti buatan ibunya. Harusnya makanan yang dibuat oleh orang berbeda memiliki sedikit perbedaan rasa.


Namun ini tak ada sama sekali.


Kai terlarut dalam kesedihan akan kerinduannya pada mendiang ibunya, karena tak ingin Kyara melihatnya ia justru marah-marah.


Namun hal selanjutnya yang tak ia sangka adalah menghisap darah Kyara.


Tak bisa dipungkiri kalau darah Kyara terasa sangat enak. Ia bahkan tak bisa melupakan rasanya sampai saat ini.


Ia sudah sangat malu karena hal itu namun melihat Kyara yang ketakutan membuat ia lebih terluka lagi.


Ia memang mengurung Kyara, namun jujur ia tak ingin dianggap monster mengerikan oleh gadis itu.


Kini semua sudah terlambat, Kyara sudah benar-benar melihat jati dirinya.


"Aib kekaisaran utara."


"Pangeran terbuang..."


"Pembawa sial."


Semua julukan buruk itu selama ini tak menyakitinya, namun mengapa julukan monster yang ia terima dari Kyara sangat menyakitkan ?.


"Sebenarnya aku tak berniat untuk melukaimu Kyara, darahmu membuatku kehilangan akal sehat, aku tak bermaksud mendorongmu sekeras itu, aku sangat menyesal." Gumam Kai.


Tanpa disadari sudah 3 hari Kai tak kembali ke kastil.


Ia tahu kalau harus segera kembali, ia teringat akan luka Kyara.


Karena darahnya lukanya pasti akan sedikit membaik, namun dia harus segera kembali untuk membacakan mantra dan memberikan darahnya lagi agar luka-luka itu sembuh dengan sempurna.


Namun hal menyakitkan yang kembali ia rasakan adalah saat mendengar Kyara menyebutnya jahat.


Dari balik pintu ia mendengar dengan sangat jelas teriakan gadis itu.


Hatinya kembali terluka memikirkan gadis itu tak akan bisa memaafkan dirinya.


Kyara memang memperlakukan dirinya dengan baik selama ini, namun bukankah dia juga memperlakukan Kyara dengan baik ?.


Memberinya makan, mengizinkan dia menyentuh barang-barang mendiang ibunya, menemani dan mendengarkan semua ceritanya.


Bukankah dia penculik yang baik hati ?.


Rupanya kebaikannya itu langsung sirna begitu saja hanya karena satu kesalahan.


Tak ingin kembali menyakiti Kyara karena terbawa emosi, Kai pun kembali meninggalkan kastil tanpa Kyara tahu.


Sebelumnya ia sudah membawakan stok makanan untuk Kyara, jadi gadis itu akan kelaparan untuk beberapa waktu.


Soal lukanya ia tahu Kyara tak akan mati.


Kontrak yang ia buat dengan Kyara memang dapat mengetahui apakah gadis itu masih hidup atau sudah mati.


Langkahnya melambat saat meninggalkan kastil. Memikirkan betapa malangnya nasib Kyara membuatnya agak sedih.


Namun dia harus menahan diri, ia harus membuat perasaan gadis itu membaik terlebih dahulu.


Ia pun harus kembali menata perasaannya, dengan begitu saat bertemu kembali mereka bisa berbicara baik-baik.


Ya, itu adalah pilihan yang tepat.


Berbicara dengan emosi dan perasaan yang tak baik tak akan menyelesaikan masalah, yang ada justru menambah masalah mereka.


Setelah yakin pilihannya tepat, Kai pun meninggalkan kastil dengan sangat cepat.


"Sampai jumpa nanti Kyara." Gumam Kai.


Tanpa disadari itu adalah kebodohan selanjutnya yang dilakukan oleh Kai.


Kebodohannya itu lagi-lagi membuat Kyara terluka lebih dalam lagi.