KALA

KALA
BAB 23 : Hubungan Rahasia



Hari ini putra mahkota memanggil Liana ke istananya. Dia berkata ingin menghabiskan waktu bersama Liana sang tunangan barunya.


Mata Liana berbinar melihat raut wajah Ragaz yang cerah.


Sebenarnya Liana sudah terbiasa berada di Istana Ragaz. Setiap kakaknya berkunjung, ia akan ikut menemaninya.


"Salam Yang Mulia." Sapa Liana lembut.


"Duduklah Liana." Jawab Ragaz.


Ragaz pun mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar semua pengawal dan pelayan meninggalkan ia dan Liana.


Begitu semuanya pergi, Liana langsung bangkit dan berlari ke arah pangkuan Ragaz. Senyumnya semakin mengembang begitu Ragaz membalas pelukannya dengan erat.


"Tak perlu berlari, aku tak pergi kemanapun."


Mendengarnya membuat Liana melepas pelukannya dan menunjukan raut wajah kesal.


Dia memang bersemangat tadi, namun itu semua karena selama ini ia harus rela tak bertemu dengan Ragaz.


"Kau tahu aku sangat senang saat kita bertemu di pesta ulang tahun Kaisar setelah sekian lama, namun aku tak bisa berlari kedalam pelukanmu seperti ini. Namun kini kau malah menyakiti perasaanku." Ucap Liana.


Ragaz pun terkekeh pelan, memang benar yang dikatakan oleh Liana.


Sejak gossip tentang mereka tersebar, Liana dihukum tak boleh meninggalkan kediaman Malvi dan tak boleh bertemu dengan Ragaz.


Namun diam-diam ia dan Liana saling berkirim surat.


Dan di hari ulang tahun Kaisar adalah hari pertama kali mereka bertemu. Dan setelah itu mereka tetap tak bisa bertemu dengan bebas karena harus menyiapkan acara pertunangan.


"Kau bisa memeluk bahkan menciumku dengan bebas hari ini." Ucap Ragaz.


Liana pun tersenyum nakal mendengarnya, "Tanpa kau berkata begitu, aku juga akan melakukannya sendiri."


Bukannya perbuatan Ragaz dan Liana ini sangat mengherankan ?.


Mereka baru saja bertunangan, selama ini Ragaz juga dikenal sangat mencintai Kyara. Namun hari ini ia bercumbu ria dengan Liana seolah sudah terbiasa melakukannya.


"Apa kau senang saat ini ?" Tanya Ragaz.


Liana pun mengangguk bersemangat, ia benar-benar senang dan bahagia saat ini.


Bahkan baginya hari ini adalah hari paling bahagia baginya.


Ragaz pun tersenyum lalu mengecup bibir Liana. Perbuatannya itu membuat kedua pipi Liana memerah.


"Aku sangat bahagia Ragaz, akhirnya kita bisa bersama dan bisa bermesraan seperti ini, bahkan kita tak perlu bersembunyi lagi." Ucap Liana.


"Aku juga bahagia." Ucap Ragaz singkat.


Ya, sebenarnya selama bertahun-tahun Ragaz dan Liana menjalin hubungan rahasia.


Bisa disebut Liana adalah kekasih rahasia Ragaz.


Dan perbuatan mereka itu tak pernah diketahui oleh Kyara.


Padahal yang selama ini orang tahu Ragaz sangat mencintai Kyara, bahkan mereka berdua adalah pasangan yang membuat iri banyak orang.


"Pasangan yang ditakdirkan oleh surga."


Naas sekali sebutan itu ternyata tak bisa dilabelkan pada Kyara dan Ragaz.


Liana yang selama ini melihat kemesraan Ragaz dan Kyara tentu saja menyimpan rasa cemburu.


Setiap mereka berkencan, Liana hanya bisa mengikuti dan memperhatikan dari belakang. Sialnya lagi ia bisa saja membawakan beberapa barang milik kakaknya dan juga Ragaz.


Namun tentunya ia tak akan membuat pertemuan mereka sia-sia.


Terkadang kakaknya itu akan sibuk dengan urusan pribadinya saat kencan.


Saat Kyara fokus pada urusannya, ia dan Ragaz akan mencuri-curi waktu untuk bersama dan bercumbu ria.


Melakukan hal itu tentunya tantangan tersendiri baginya dan Ragaz.


Pernah sekali Kyara memergoki mereka tengah berciuman, namun dengan bodohnya Kyara mempercayai sandiwara mereka.


●● FLASHBACK ON ○○


Taman


Pada hari itu Ragaz secara khusus menyewa sebuah taman dan tempat pacuan kuda yang memang berdekatan.


Di saat mereka tengah berkuda di dekat kolam tiba-tiba saja seorang pelayan Kyara mendatangi mereka.


"Nona ada kuda gila sedang mengamuk, berhati-hatilah, aku takut dia menerobos kemari." Ucap pelayan itu khawatir.


Kyara yang mendengar hal tersebut bukannya ketakutan malah berniat mendatangi kuda itu untuk menenangkannya.


"Kak jangan pergi berbahaya." Ucap Liana.


"Benar Kyara, aku melarangmu, aku akan mengutus pengawalku saja untuk menangkap kuda itu." Cegah putra mahkota.


Namun Kyara tak peduli, jika Ragaz mengutus pengawalnya sudah dipastikan kuda itu akan mati.


Akhirnya dia tetap bersikeras untuk pergi, ia meminta Ragaz untuk menjaga Liana.


Karena sebenarnya Liana tak begitu mahir dalam menunggang kuda.


Saat Kyara pergi Liana pun langsung turun dari kudanya dan meminta Ragaz untuk melakukan hal yang sama.


"Ini bukan ulahmu kan ?" Tanya Ragaz.


Liana pun menggeleng, ia tak sekeji itu.


Namun ternyata Dewa Aelius berada dipihaknya. Kini Kyara sudah pergi dan ia bisa menghabiskan waktu berduaan dengan Ragaz.


Mereka pun bercanda bersama, bermain air bak anak kecil.


Kyara pergi cukup lama sampai-sampai ia dan Ragaz sampai kelelahan bermain. Mereka berdua kini berbaring diatas rumput dalam keadaan pakaian basah.


Seolah terbawa suasana Ragaz bangkit dan menindih tubuh Liana. Mereka saling berciuman dengan panas.


"Aku sangat yakin ini ulahmu" Ucap Ragaz pelan.


Tiba-tiba saja Kyara datang dan mengejutkan mereka.


"Apa yang kau lakukan Ragaz ?!" Teriak Kyara.


Ragaz tak hilang akal, dia mengatakan Liana tenggelam karena kuda yang ia tunggangi mengamuk.


Ia sedang memberi pertolongan pada Liana sejak tadi. Kyara tentunya langsung panik mendengar ucapan Ragaz.


Liana sendiri juga mengikuti sandiwara yang dibuat oleh Ragaz. Dan sandiwara mereka itu berhasil menipu Kyara.


■■■ Flashback Off □□□


Ia dan Ragaz kini tengah berjalan-jalan di taman bunga kerajaan.


Namun Liana menunjukan raut wajah tak senang dan membuat Ragaz bertanya-tanya.


Ia tak membuat kesalahan hari ini, bahkan ia menuruti semua permintaan Liana. Tapi gadis itu justru terlihat tak senang.


"Kenapa wajahmu kusut begitu ?" Tanya Ragaz.


Liana menoleh.


"Tiba-tiba aku teringat akan kegilaanmu saat kakakku mati." Ucap Liana.


Ia memang adik yang durhaka karena berselingkuh dengan tunangan kakaknya. Namun ia tetap sedih akan kejadian yang menimpa kakaknya itu.


Tapi ia lebih terluka lagi karena Ragaz.


Lelaki itu seolah kehilangan dunianya dan melupakan ia sejenak.


"Kau kan tahu kakakmu itu sangat baik, wajar saja kalau aku sedih." Bela Ragaz.


Liana pun mendengus kesal mendengarnya, tetap saja ia punya perasaan.


"Tapi kan kini kau pemenangnya, aku sudah menjadi milikmu seutuhnya, begitu juga sebaliknya. Jadi jangan cemberut seperti itu terus." Pinta Ragaz.


"Apa kau akan membuatku sedih ?" Tanyanya lagi.


Liana pun tersenyum.


Yang dikatakan Ragaz ada benarnya, sekarang dialah satu-satunya wanita di hidup Ragaz. Dan dalam waktu dekat mereka akan menikah.


Ia tak perlu mengkhawatirkan apapun, orang yang membuatnya cemburu sudah mati saat ini.


"Kakakku itu benar-benar malang." Ucap Liana.


"Ya, takdir yang ia terima memang kejam" Sahut Ragaz.