
Kai berusaha mengendalikan kegilaannya, ia tak boleh memangsa anak dan pendeta tak bersalah itu.
Meskipun ia sendiri kesal namun karena mereka jugalah ia bisa mendapat sedikit informasi.
Yang dilakukan Bella saat ini pun benar-benar gila. Kalau ia hanya menculik anak kecil saja tak masalah, namun seorang pendeta ?.
"Kai, kau tak perlu khawatir, lagipula beberapa waktu lalu banyak manusia yang memasuki hutan. Mereka juga pantas mendapat balasan ini." Ucap Selena menenangkan.
Kai hanya bisa menghela nafas kasar, dia pun pergi meninggalkan Selena dan kedua orang mati itu.
Ia tak punya nafsu sama sekali untuk menghisap darah mereka.
"Nikmatilah sendiri, aku akan kembali ke kuil untuk berdoa." Ucap Kai sebelum pergi.
Tentu saja Selena mengikuti perkataan Kai, ia menghisap darah kedua manusia itu tanpa sisa.
Nampak sekali kepuasan dari raut wajah Selena. Darah seorang anak dan darah manusia suci, benar-benar beruntung sekali dia saat ini.
Di dalam kuil saat ini, Kai tengah fokus berdoa, dia menutup matanya cukup lama. Sebenarnya ia merasa sedikit bersalah pada dua manusia tadi.
Jadi ia juga meminta ampunan pada dewa Aelius.
Hiksss...hikss
Kai menoleh ke asal suara tangisan tersebut, ia melihat wanita disampingnya itu tengah menangis.
Menenangkan wanita itu bukanlah tugasnya, lagipula ia juga tak mengenalnya.
Namun tiba-tiba saja segerombolan wanita lainnya mendatangi wanita di sampingnya itu.
Mereka memberi pelukan dan terus berusaha menenangkan wanita di sampingnya itu.
Dari segi penampilan, Kai tahu kalau mereka semua adalah seorang bangsawan.
Ia tak menyangka kalau bangsawan di kekaisaran utara ataupun timur mereka sama saja.
Yahh...tak ada yang melarangmu untuk menangis ataupun berteriak ketika berdoa. Namun apa mereka tak punya rasa malu ?.
Di ruangan ini bukan hanya mereka seorang yang tengah berdoa.
Selena sendiri pun akhrinya sudah menyusulnya, namun karena tempat di samping Kai sudah penuh, ia terpaksa duduk di kursi lain.
"Nona Liana, hati anda benar-benar lembut sekali."
"Tenangkan diri anda nona, relakan kepergian nona Kyara."
"Ya, kalau anda tetap seperti ini, nona Kyara pasti sangat sedih."
Deg!!
Kyara ?.
Kai tak salah dengar lagi kali ini, nama yang mereka sebut sama dengan nama wanita di kastilnya.
Ia pun semakin memperhatikan wanita-wanita itu. Ia tak boleh melewatkan informasi apapun.
Tangis wanita yang mereka panggil Liana itupun semakin pecah dan membuat wanita lainnya semakin hanyut dalam kesedihannya.
"K-kalau saja para monster itu tak membunuh kakakku hikss...hikss pasti penobatannya sudah dilaksanakan." Ucap Liana dengan terbata-bata.
"Nona Kyara memang sangat malang, padahal aku yakin dia akan menjadi ratu yang bijaksana." Sahut wanita lainnya.
"Ya..ya..tapi mau bagaimana lagi takdir berkata lain." Sahut yang lainnya.
Selana yang ikut mendengarkan percakapan mereka pun paham siapa yang mereka bicarakan.
Beberapa waktu lalu memang banyak sekali prajurit dari kekaisaran timur pergi ke hutan terlarang dan mereka menemukan apa yang mereka cari.
Dia adalah calon ratu dari kekaisaran timur, yang dikatakan mati karena dibunuh oleh monster dari kekaisaran utara.
Hal itu tentunya juga menjadi pembicaraan para bangsawan di kekaisaran utara.
Sampai-sampai kekaisaran utara sendiri melakukan penyelidikan untuk menemukan kebenarannya.
Namun hasilnya adalah tak ada satupun vampire di kekaisaran utara yang membunuh calon ratu mereka. Bahkan para binatang buaspun juga tak ada yang membunuh Kyara.
Memang mereka memakan jasad para pelayan dan pengawal. Namun mereka tak memakan Kyara karena memang tak melihat jasad wanita itu.
"Aku selalu berdoa agar para momster itu mendapat hukuman dari dewa Aelius."
"Aku juga, makhluk terkutuk seperti mereka memang seharusnya dihukum."
Wanita-wanita itu terus saja berkata dan berdoa dengan ucapan tercela.
"Terima kasih nona-nona. Aku tak menyangka kalian akan bersikap sebaik ini, kakakku dan keluarga Malvi sangat berterima kasih." Ucap Liana.
Selena pun sangat geram mendengarnya.
Bagaimana bisa dia berterima kasih pada orang yang berdoa dengan penuh kutukan seperti itu ?.
Apalagi orang kekaisaran utara sendiri tak pernah membunuh calon ratu mereka.
"Nona, bukankah kalian sangat keterlaluan ?." Tanya Selena pada mereka.
"Apa maksud perkataan anda itu ?." Tanya Liana balik.
Cihhh...Selena semakin kesal karena wanita itu berlagak tak tahu.
"Apa kalian yakin kalau calon ratu kalian itu dibunuh oleh monster ? Kalian semua seorang bangsawan bukan ? Kemana perginya otak kalian ?!." Tanya Selena dengan penuh amarah.
Liana pun ikut terbawa emosi, dia sedang bersedih karena kakaknya yang baru saja meninggal.
Namun kini seorang wanita yang tak ia kenal justru menghinanya.
"Kami tak mengenal anda, dan ucapan anda itu sangat kasar. Kakakku itu memang mati dibunuh monster kekaisaran utara!." Jawab Liana.
"Apa buktinya ? Kau melihatnya sendiri ? Kalau ia memang dibunuh oleh monster, itu berarti kakakmu bunuh diri. Monster tak akan menyerang kalau dia tak masuk kedalam hutan." Jawab Selena.
Deg!!!
Ucapan Selena benar-benar membuat Liana naik pitam.
Saat ini banyak orang tengah berdoa dikuil, bahkan pertengkaran mereka menjadi pusat perhatian.
Dan wanita itu mengatakan kalau kakaknya bunuh diri ?.
Perbuatan itu sangat memalukan. Keluarganya tak akan punya muka lagi kalau sampai ucapan itu menjadi gossip.
Dan itu semua terjadi karena dirinya yang bertengkar dengan wanita gila ini.
Pasti ayahnya akan memarahinya lagi. Ingin sekali ia menampar wanita gila ini, namun pasti masalah akan menjadi semakin buruk.
Liana pun kembali menitihkan air matanya.
"Kakakku benar-benar malang, bahkan saat ia sudah mati pun masih ada yang berani memfitnahnya. Anda benar-benar kejam nona, keluargaku tak akan tinggal diam atas penghinaan ini hikss hikss." Ucap Liana.
Semua orang yang berada disitu pun tersentuh mendengar ucapan Liana.
Saat hidup Kyara sangat baik hati, hidupnya bahkan sangat sempurna.
Jadi untuk apa ia bunuh diri ? Ini jelas sebuah fitnah yang sangat kejam bagi mendiang calon ratu mereka.
Hukuman mati sangat pantas diterima wanita itu.
"Apa ? Fitnah ?!." Belum sempat Selena menyelesaikan ucapannya Kai pun menyelanya.
Dia meminta maaf pada Liana dan juga semua orang yang berada disitu.
Saat ini posisi mereka sangat terpojok karena semua mendukung Liana.
"Nona mohon maafkan kelancangan temanku. Dia seperti ini karena otaknya sedikit bermasalah. Mohon belas kasih anda." Ucap Kai.
Liana pun tersenyum mendengarnya, "Jadi dia kurang waras ? Pantas saja ucapannya sangat jahat. Kalau begitu baiklah, aku akan menerima permintaan maaf anda, dan kumohon minta maaflah pada mendiang kakakku."
"Ya ?." Tanya Kai kebingungan.
"Dia yang menerima penghinaan terbesar, minta maaflah padanya." Ucap Liana.
Kai pun mengiyakan perkataan Liana, dan dengan segera ia menarik Selena pergi dari dalam kuil.
"Kau sudah gila Selena." Ucap Kai.