KALA

KALA
BAB 6 : Pangeran Terbuang



Dengan langkah pasti Kai berjalan menyusuri lorong besar dan megah.


Berbeda dengan kastil yang ia tempati, kastil ini tampak lebih ramai. Pengawal yang berjaga dari gerbang, pelayan yang lebih banyak. Dan kastil ini tampak lebih bersih.


"Selamat datang pangeran Kai." Sapa salah seorang pengawal sembari memberi hormat.


Mendengar itu Kai hanya melirik sebentar lalu berjalan kembali.


Sejak ia memasuki gerbang tadi, dengan jelas ia mendengar dan melihat tatapan menjijikan yang ditujukan untuknya.


"Bukankah itu pangeran Kai ?."


"Mengapa dia kembali kesini ?."


"Huhh...dia datang sudah pasti membawa masalah."


"Bukankah dia itu gila ?."


"Dia memang gila, karena itu lah dia dibuang."


"Yahh...aib kekaisaran utara."


Ya, tak salah lagi, kali ini Kai memang berada di istana kekaisaran utara.


Kai memanglah seorang pangeran terbuang dari kekaisaran utara. Itulah kenapa hanya sedikit vampire yang memberi hormat padanya.


Yang lainnya ? Tentu saja tak mempedulikannya, untuk apa memperhatikan pangeran terbuang dengan baik ? Sia-sia saja.


Mendengar dan melihat perbuatan tak mengenakkan itu harusnya Kai marah. Namun Kai justru tak peduli.


Seorang wanita cantik denga bibir hitam dan mengenakan pakaian berwarna senada tersenyum ramah memandang Kai dari atas singgasana.


"Kupikir kau sudah mati Kai, karena sudah lama sekali kau tak pulang ke rumah." Ucapnya dengan begitu santai.


"Sepertinya anda menyesal melihatku kembali ratu Isabella." Jawab Kai sinis.


"Tentu saja, seharusnya kau pulang lebih cepat, dengan begitu aku busa melihat wajah putraku setiap hari. Namun kau sangat jahat, kau terus-terusan membuatku menunggu Kai." Ucap wanita yang dipanggil ratu Isabella itu.


"Aku tak ingin melihat wajah anda karena itulah aku tak pernah pulang." Jawab Kai.


Mendengar itu, bangsawan-bangsawan lain yang juga berada disitu langsung mengocehi Kai.


Bagaimana bisa seorang anak bicara dengan begitu kasarnya pada ibunya sendiri, apalagi ibunya itu adalah seorang ratu.


"Pangeran Kai, jaga ucapan anda."


"Bagaimana bisa anda bicara begitu pada ratu Isabella ? Sangat tak sopan sekali."


"Kau memang seperti ibumu."


"Ratu Isabella, maafkanlah pangeran Kai. Sepertinya dia sedang tak baik-baik saja."


Kai hanya tersenyum tipis, ibunya itu hanyalah berpura-pura baik saja.


Kalau ia tak melawan, pastinya wanita tua itu akan mencari-cari kesalahannya yang lain.


Sedangkan bangsawan yang justru menyalahkannya adalah orang-orang yang berada di kaki ratu.


Mereka adalah para penjilat menjijikan seperti tuannya.


Sedang untuk bangsawan lain yang membelanya ? Sudah pasti mereka adalah bangsawan-bangsawan yang masih memiliki otak, sehingga tau mana yang benar dan mana yang salah.


"Red, aku memang seperti ibuku, kalau tidak maka aku bukanlah putranya." Ucap Kai.


Tiba-tiba saja seorang pria lainnya datang dan berniat menyerang Kai. Namun dengan cepat Kai dapat mengindarinya.


Namun bukannya memarahi pria itu, bangsawan-bangsawan penjilat tadi justru memberi hormat padanya.


"Selamat datang pangeran Elliot." Ucap mereka bersamaan.


Pria yang dipanggil Elliot itu memberi tatapan mengerikan pada Kai.


"Walaupun ibuku bukan bukan ibu kandungmu, seharusnya kau memperlakukan dia dengan hormat Kai, dia adalah ratu di kekaisaran ini." Ucapnya kesal.


Isabella pun tersenyum, namun dengan cepat ia merubah ekspresinya itu menjadi menyedihkan.


"Sudahlah Elliot, kakakmu itu kan memang sedikit gila, jadi ibu memakluminya." Ucapnya.


Tak ingin terus-terusan menghadapi orang-orang gila ini, Kai memilih untuk pergi.


"Kau akan kemana Kai ?." Tanya Isabella.


Namun Kai tak menjawabnya dan pergi dengan cepat.


Semua orang hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tingkah Kai.


Apa yang diharapkan dari Kai ? Dia adalah aib dari keluarga Xavier dan kekaisaran utara.


Kalau bukan karena Isabella mengasihinya, pasti dia benar-benar dilupakan dari kekaisaran ini. Namun justru Kai bertindak semena-mena dan tak tahu terima kasih.


Itulah yang selama ini diketahui oleh bangsawan-bangsawan ataupun rakyat kekaisaran utara yang sudah di manipulasi pikirannya.


Kai kini sudah berada di taman, dia terseyum tipis sembari merebahkan tubuhnya diatas rerumputan.


"Ibu dan anak yang semakin gila." Gumam Kai.


Isabella memang seperti ibu tiri didalam buku. Ia adalah ibu tiri yang jahat namun selalu berpura-pura baik dan peduli.


Kalau saja ayahnya tidak tergila-gila pada wanita itu, pasti tak akan ada yang berani merendahkan ibunya.


Awalnya Isabella hanyalah seorang upeti yang akan dijadikan sebagai seorang pelayan, namun karena kecantikannya ia dijadikan sebagai selir, namun kecantikannya tetap tak bisa mengalahkan kecantikan ibu Kai.


Namun tiba-tiba saja ibu Kai sakit-sakitan, tubuh dan wajahnya menjadi keriput dalam sekejap.


Isabella yang dulu tak dianggap mencari kesempatan untuk mendekati kaisar.


Dan tentu saja rencananya itu berhasil, dan karena itu keadaan ibu Kai yakni ratu Violet menjadi semakin memburuk karena rasa cemburu.


Suami yang dulunya perhatian dan penuh kasih sayang, kini sudah tak peduli dan melupakannya perlahan.


Wanita yang selalu menggantungkan hidupnya pada pria, bagaimana bisa bertahan merasakan penderitaan itu ?.


Sudah puluhan tahun ibunya meninggal, Kai tak akan pernah bisa melupakan kematian ibunya itu.


Di hari kematian ibunya, ayahnya itu langsung mengangkat Isabella sebagai ratu.


Benar-benar tak berperasaan.


Sejak saat itulah kekejaman Isabella pada Kai dimulai.


Kai Xavier yang tadinya dilimpahi kasih sayang, diperlakukan bak pelayan oleh Isabella dengan dalih sebuah ajaran kehidupan.


Ayahnya yang sudah buta tentu saja menganggap semua kelakuan Isabella sebagai kebenaran.


Sebelum kematian ayahnya, Kai meminta hak atas kastil ibunya yang dinamakan kastil seribu bunga.


Dan ayahanya itu mengabulkan permintaan Kai, tentunya Isabella tak senang karena ia sangat menginginkan kastil mewah itu.


"Sayang, kastil itu terlalu feminim untuk Kai." Ucap Isabella saat itu.


"Aku tahu kau menginginkannya tapi kastil itu milik Violet, sudah wajar kalau Kai mewarisinya." Jawab ayah Kai.


Kai sendiri sebenarnya tak menyangka ayahnya itu akan mengabulkan permintaannya, namun mungkin saja ayahnya merasa berdosa atas perlakuan buruknya selama ini jadi memberikan kastil itu sebagai bentuk penebusan.


Sejak itu Kai memilih pindah ke kastil seribu bunga meninggalkan istana utama.


Isabella juga semakin menyimpan dendam pada Kai.


Aneh bukan ?.


Harusnya Kai lah yang menyimpan dendam mendalam padanya. Kai hanya merebut sebuah kastil.


Namun Isabella merebut rumahnya, sesuatu yang lebih berharga nilainya dari kastil seribu bunga.


Tiba-tiba saja Kai tersenyum lebar teringat Kyara yang kini berada di kastil seribu bunga sendirian.


"Sayang sekali aku tak bisa menunjukkan Kyara padanya, kalau saja ia tahu pasti kedua bola matanya itu akan terlepas." Gumam Kai.


Kai pun langsung bangkit dan berjalan menuju kamarnya karena teringat akan Kyara.


Banyak jawaban yang harus ia dapatkan karena wanita itu.