KALA

KALA
BAB 11 : Salah Paham & Rasa Bersalah



Rasa bosannya saat ini sudah benar-benar hilang, seseorang yang sudah ia tunggu kedatangannya sudah tiba.


Dengan sebuah senyum yang merekah, Kyara menyambut kedatangan Kai.


Begitu mereka berhadapan, Kai langsung mengelus pelan puncak kepala Kyara, namun setelahnya dia langsung menyingkirkan tangannya dengan cepat.


"Walaupun hanya sekedar pelayan, harusnya kau bisa menjaga penampilan." Ucapnya lalu berlalu pergi.


Baru disinilah Kyara tak bisa menjaga penampilannya dengan benar. Dan seharusnya lelaki itu tahu alasannya. Kalau bukan karenanya, pasti dia bisa berpenampilan lebih baik.


Dengan langkah pelan, Kyara mengikuti Kai dari belakang, lelaki itu kini berada di dapur. Sepertinya dia lapar, namun sayang sekali Kyara belum memasak.


"Aku akan memasak." Ucap Kyara.


"Tak perlu, aku tak suka makanan manusia." Jawab Kai.


"Kalau begitu kenapa kau ke dapur ?." Tanya Kyara penasaran.


"Memangnya kenapa ? Ini kan rumahku, terserah aku mau pergi kemana." Jawab Kai.


Hufff...


Kyara harus tetap sabar, jawaban lelaki itu memang tak salah. Tapi jawabannya itu membuat ia kesal.


Padahal selama ini ia dikenal sebagai wanita yang terkenal akan perilaku dan etiket yang nyaris sempurna.


Namun semenjak bertemu dengan Kai, semua julukan itu pasti akan sirna. Lelaki ini sangat-sangat menyebalkan.


Kini Kai pun berjalan pergi meninggalkan dapur, dan Kyara pun masih mengikutinya di belakang.


Ia sangat penasaran dengan hasil yang diperoleh Kai saat mencari tahu soal dirinya melalui kalung itu.


"Jadi bagaimana ? Apa kau sudah bertemu dengan keluargaku ?." Tanya Kyara.


"Tidak, aku tak menemukan apapun tentangmu." Jawab Kai bohong.


Kyara pun berjalan mendahului Kai, ia menghadang Kai dengan tubuh kecilnya itu.


Ia tak percaya kalau Kai tak menemukan apapun, tak mungkin keluarganya tak mencarinya, bahkan ia yakin kalau seluruh kekaisaran timur pasti mencari keberadaannya.


Berkali-kali Kyara menggelengkan kepalanya dihadapan Kai.


"Tak mungkin, kau pasti berbohong. Semua orang pasti mencari keberadaanku. Aku adalah Kyara Agatha Malvi!!." Ucap Kyara dengan penuh amarah.


"Memang tak ada seorangpun yang mencarimu. Dan jangan mengada-ada lagi, jangan memancing emosiku." Ucap Kai.


Mata Kyara pun memerah, ia mencengkram bajunya kuat-kuat.


Lelaki ini pasti mempermainkannya, pasti dia sudah tahu kebenarannya tapi berlagak tak tahu apapun.


Padahal dengan menyebut namanya saja pasti semua orang akan sangat penasaran, apalagi dengan menunjukan kalung itu.


"Awalnya aku berpikir karena kita menyembah dewa yang sama, kau adalah orang yang baik. Namun sepertinya aku salah dalam segala hal. Kau bukan orang yang baik, dan dewa Aeliusku bukanlah dewamu." Ucap Kyara tajam.


Kai yang berniat membalas ucapan Kyara pun langsung teralihkan dengan hal cahaya di belakang Kyara.


Cahaya yang cukup terang di ruangan yang selalu ia kunci.


Tak sembarang orang yang bisa masuk kedalam sana. Apalagi ini adalah seorang manusia yang menghinanya.


Dengan langkah cepat Kai pergi untuk memastikan semuanya.


Dan ternyata semuanya benar, Kyara telah memasuki kamar rahasia milik orang terkasihnya.


Kyara sendiri kini juga berada di belakang Kai, ia berusaha memutar tubuh Kai agar menghadap padanya.


Saat ini ia sedang marah, namun lelaki ini pergi dengan seenaknya. Walaupun dia itu vampire, wujudnya masih manusia kan ? Harusnya ia tahu bahasa manusia.


Namun tatapan Kai padanya kini berubah, ia tak seperti lelaki yang ia marahi tadi.


Tatapannya sangat tajam dan mengerikan.


"Apa kau masuk ke kamar ini ?." Tanya Kai.


"Kau bilang kau adalah calon ratu bukan ? Kalau begitu harusnya kau juga bukan rakyat biasa, tapi kenapa kau tak punya sopan santun sama sekali ? Siapa yang memberimu izin untuk memasuki kamar ini hahh ?! Katakan Kyara!!!!." Teriak Kai.


Kyara sendiri kebingungan harus menjawab pertanyaan mana terlebih dahulu.


Yang jelas apa yang dikatakan oleh Kai tidak benar 100%.


Ia tak tahu kalau kamar ini tak boleh dimasuki, ia juga tak membobol kamar ini, karena pintu kamar ini sudah terbuka saat ia datang.


Namun sayang, Kai sama sekali tak mempercayai ucapannya.


"Beraninya kau mengobrak-abrik kamar ibuku!!." Teriak Kai lagi.


Kali ini Kai benar-benar gila, ia terus saja memojokan Kyara.


"B-bagaimana bisa aku t-tahu kalau ini kamar ibumu ? Aku tak membuat kekacauan dikamar ini, justru aku membersihkannya." Jelas Kyara.


Penjelasan yang diberikan Kyara lagi-lagi tak berguna, Kai sama sekali tak mau menerima alasan klasiknya itu.


Hanya orang-orang tertentu sajalah yang bisa memasukinya, karena kamar ini dilindungi oleh sihir.


Jadi orang yang tak tahu kunci dan cara melepaskan sihir pelindung tak akan bisa masuk sembarangan.


Apalagi manusia lemah seperti Kyara, jelas tak mungkin.


Namun yang membuat ia semakin marah adalah Kyara merubah hampir seluruh tatanan kamar ini.


Bahkan ia juga mengganti alas kasur milik ibunya.


"Itu kotor, jadi aku mencucinya, ibumu juga pasti senang karena kamar ini menjadi bersih kembali." Jelas Kyara.


Greppp...


Kai mencengkram wajah mungil Kyara, kini gadis itu sudah tak bisa berbicara lagi.


"Senang ? Ibuku itu sudah mati, karena itu aku menjaga kamar ini sesuai dengan tatanannya, tapi kau dengan lancang mengubahnya!!!." Teriak Kai kesal.


Deggg....


Kini Kyara paham mengapa Kai sangat marah, ia pun juga tak akan suka jika seseorang menyentuh barang milik ibunya dengan sembarangan.


Bahkan sampai saat inipun ia masih tak bisa menerima ibu tirinya. Baginya posisi ibunya itu tak bisa digantikan oleh siapapun.


Di rumah pun ia selalu menjaga kamar ibunya dan barang-barang peninggalan ibunya tak tersentuh oleh Duchess baru itu.


"M-maafkan aku Kai, aku tak tahu." Ucap Kyara tulus.


Kai tek memperdulikan permintaan maaf itu, dengan kasar ia menyeret Kyara ke ruang bawah tanah.


Tempat dimana ia memenjarakan Kyara sebelumnya.


Air matanya itu tak bisa lagi ia bendung, namun haruskah ia diperlakukan seperti ini ?.


Ia benar-benar tak tahu kalau ia dilarang masuk, ia tahu kalau ia bersalah, namun sekali lagi tuduhan Kai tidak semuanya benar.


"Lepaskan aku Kai, kumohon." Pinta Kyara.


"Seharusnya kau tak bersikap lancang Kyara! Kau mungkin memang tak mencuri perhiasan berharga, namun kau membaca buku-buku itu bukan ? Itu adalah harta berharga milik ibuku." Jelas Kai.


Kyara semakin tak habis pikir dengan ucapan Kai.


Apakah membaca buku saja salah ? Bukannya dengan membaca buku kita menambah dan memperluas pengetahuan.


Namun sudahlah, lelaki ini tak akan mendengar dengan baik penjelasannya.


Ia masih dipenuhi amarah, percuma saja berdebat.


Walaupun menyesakkan, untuk sementara ia akan terima dipenjarakan seperti ini.


Toh ia juga merasa bersalah padanya.