KALA

KALA
BAB 16 : Keinginan Akan Perubahan



KEKAISARAN TIMUR


Beberapa bangsawan terdengar tengah mendesak kaisar untuk segera mengadakan pemilihan putri mahkota.


Sudah waktunya bagi putra mahkota untuk segera melangsungkan pernikahan.


"Kaisar...sudah waktunya bagi kita untuk mengangkat putri mahkota baru."


"Benar, putra mahkota juga sudah berada di umur untuk menikah bukan ?"


"Sampai kapan kita akan membiarkan posisi penting itu kosong ? Seharusnya putra mahkota juga sudah mempunyai keturunan bukan ?"


Mereka terus saja melontarkan pertanyaan dan jawaban yang intinya sama. Kaisar sendiri sampai muak mendengarnya.


"Apa kalian mendoakanku cepat mati sehingga putra mahkota bisa naik tahta ? Kita masih berduka saat ini. Dan yang kalian pikirkan hanya posisi putri mahkota ?! Kalian pikir aku tak tahu apa yang kalian inginkan ? Rapat hari ini kububarkan, aku tak ingin mendengar apapun lagi!"


Kaisar pun meninggalkan ruangan dengan penuh kekecewaan. Bagaimana pun juga Kyara adalah calon menantunya. Dia juga sudah seperti putrinya sendiri.


Apa mereka tak bisa memaklumi rasa sedihnya ? Bahkan belum setahun sejak kematiannya, dan yang ada dalam pikiran mereka hanya kekuasaan.


Ia juga marah karena putra mahkota masih masih terlarut dalam rasa sedihnya. Jika ia mengganti posisi itu dengan orang baru diwaktu yang masih sebentar ini, akan sedalam apa lagi rasa sakitnya ?.


Biarlah posisi itu kosong untuk beberapa waktu, toh masih banyak wanita yang rela menunggu untuk pemilihan berikutnya.


Di antara banyaknya bangsawan yang ribut tadi, Duke Malvi hanya terdiam seribu bahasa, ia tak bisa mengatakan apapun.


Hatinya juga lebih sakit daripada siapapun. Posisinya juga serba salah, mendukung para bangsawan sudah pasti ia menyakiti mendiang putrinya.


Ya, sejak kecil Kyara memang sudah belajar untuk menjadi ratu karena mimpinya adalah menjadi pemimpin yang bijaksana. Walaupun saat itu ia bahkan belum menjadi putri mahkota.


Namun kalau ia setuju dengan kaisar jugalah salah, memang tak seharusnya posisi putri mahkota kosong begitu lama.


Putra mahkota sudah melaksanakan upacara kedewasaannya, sudah seharusnya ia cepat menikah.


Kalau saja putrinya tak mati di tangan para monster, ia pasti bisa melihat bagaimana cantiknya Kyara dengan balutan baju pengantin sembari tersenyum lebar.


Matanya memanas, ia pun memilih pergi meninggalkan ruangan. Ia tak boleh menangis di hadapan para bangsawan lain.


Para bangsawan lain pun semakin berdecak kesal setelah kepergian Duke Malvi.


Mereka sangatlah kesal karena Kaisar tak mendengarkan mereka sama sekali. Mereka bahkan masih memfitnah Kyara karena sampai sekarang putra mahkota juga tak membuka hatinya.


"Haruskah kita menemui putra mahkota ? Dia pasti berpikiran lebih terbuka daripada kaisar bukan ?"


"*Putra mahkota ? Kalian mengharapkan apa darinya ? Dia saja masih sering datang ke kediaman Duke Malvi untuk mengenang Kyara."


"Ck! Memang gadis itu pasti menggunakan sihir, putriku bahkan lebih cantik dari dia tapi putra mahkota tak pernah melirik putriku itu bahkan setelah ia mati."


"Ya..ya..dia sering pergi ke kuil pasti hanya sebuah kedok belaka. Pasti sebenarnya ia menyembah iblis*!"


■■■■□□□□


KEDIAMAN DUKE MALVI


Liana nampak sangat sedih.


Namun dia harus menjaga ekspresinya saat ini, ia harus tetap terlihat kuat. Kalau ia ikut sedih pasti Ragaz tak akan bisa tersenyum.


"Putra Mahkota." Panggilnya halus sembari menepuk pelan punggung pria itu.


Ragaz menoleh.


Di lihatnya Liana terseyum lebar kearahnya, tangan kiri gadis itu menenteng sebuah kotak kaca.


Liana pun duduk disampingnya.


"Ada apa Liana ?" Tanya Ragaz


Ya, setiap Ragaz datang ke rumahnya, lelaki itu akan datang dengan wajah kusut, mata yang bengkak dengan lingkaran hitam dibawah mata yang terlihat sangat jelas.


Ia tahu kalau lelaki itu kurang tidur selama ini. Hatinya tersayat melihat pemandangan seperti ini setiap hari.


Ragaz sama sekali tak merespon ucapannya, namun tatapan lelaki itu terus saja memandang ke kotak yang ia bawa.


"Sepertinya anda tak suka, aku akan membuangnya saja kalau begitu-"


Ragaz pun mengambil kotak itu dari tangan Liana.


"Terima kasih Liana." Ucapnya sembari tersenyum.


"Hidupkan saat anda akan tidur, apa anda tahu apa rahasiaku saat ini ?" Tanya Liana.


Kedua alis Ragaz pun saling tertaut, ia mengenal Kyara dan Liana cukup lama, mereka sering bertukar cerita.


Ia tahu semua rahasia kakak beradik itu, namun sepertinya saat ini Liana punya rahasia baru yang tak ia ketahui.


"Rahasia apa lagi yang ingin kau beritahukan padaku Liana ? Katakanlah, aku sangat ingin mengetahuinya." Jawab Ragaz.


Tatapan Kyara pun berubah, mata yang tadinya berbinar kini sedikit sendu, senyumnya pun juga berubah.


"Hatiku terluka dan aku sangat sedih saat ini." Jawab Liana singkat.


"Apa ini soal kakakmu ?" Tanya Ragaz penasaran.


"Tidak.." Ucap Liana sembari menggelengkan kepalanya.


"Lalu ?"


Liana pun mengutarakan isi hatinya, yang membuat ia benar-benar sedih saat ini adalah Ragaz.


Ia tak bisa terus-menerus melihat Ragaz seperti ini, jujur ia sangat lelah melihatnya. Ada kalanya ia terlarut dari kesedihannya sendiri ataupun kembali bahagia seperti sebelumnya.


Namun setiap Ragaz datang, kesedihan kembali mendatangi dirinya. Namun ia harus berpura-pura kuat didepan Ragaz, dan itu sangat melelahkan.


"Aku juga sedih akan kematian kakakku, namun haruskah anda terus seperti ini ? Aku sangat ingin ditenangkan tapi aku justru menenangkan anda setiap hari." Ucap Liana sembari menahan tangis.


Di genggamnya kedua tangan Liana dengan erat.


Ia tak sadar akan perilakunya selama ini, dia datang ke kediaman Duke Malvi hanya untuk mengenang Kyara, tunangannya.


Namun ternyata ia justru semakin membawa kesedihan untuk keluarga ini.


Tapi ia tetap tak ingin disalahkan sepenuhnya, memangnya kemana lagi ia bisa berbagi kesedihan selain dengan keluarga Kyara ?.


Dan hanya Liana sajalah yang bisa mendengarkan ceritanya dengan seksama.


"Maafkan aku Liana, kau pasti sangat lelah dan sedih. Kau tak perlu menemaniku setiap hari, kau bisa beristirahat, aku juga tak akan memaksamu." Ucap Ragaz.


Liana pun kembali menggelengkan kepalanya. Jawaban Ragaz seolah tak ingin bertemu dengannya lagi.


Ia hanya ingin Ragaz segera pulih dari sedihnya. Ia sudah kehilangan kakak tersayangnya, haruskah sekarang ia juga kehilangan Ragaz ?.


"Tidak, aku tak ingin sendirian, aku juga tak akan meninggalkan anda sendirian. Aku tak akan membiarkan anda terus seperti ini." Ucap Kyara.


Ragaz pun tersenyum, ia paham apa maksud Liana.


Keesokan harinya pun Ragaz tetap datang dan ditemani oleh Liana seperti biasanya, namun yang berbeda adalah mereka sama-sama berusaha untuk tak terlihat bersedih satu sama lain.


Tanpa disadari karena kedatangan putra mahkota ke kediaman Duke Malvi setiap hari, dan karena ia terus ditemani oleh Liana.


Hal itu menimbulkan gossip buruk tersebar diantara bangsawan lain.