
KEKAISARAN UTARA
Kyara memandangi tubuh telanjangnya dari kaca. Lukanya masih belum juga sembuh. Tak ada obat di kastil ini, jadi ia hanya bisa membersihkan lukanya dengan air setiap pagi dan malam.
Jika hitungannya benar maka ini sudah tepat seminggu Kai tak kembali ke kastil.
Tatapannya kini kosong, banyak sekali hal yang ia pikirkan saat ini, namun semua hanya berhubungan dengan kematian.
Akankah dia mati sebentar lagi ? Dengan cara apa ? Mati karena kesepian ? Mati karena kelaparan ? Mati karena infeksi luka ? Atau karena hal lain ?.
"Memang apa salahku padamu Kai ? Sejak awal aku tak pernah berbuat salah padamu. Kau lau yang menyelamatkanku, aku sangat berterima kasih. Namun kau justru mengurungku dan kini kau membiarkanku sendirian." Gumam Kyara.
Padahal selama ini ia sangat takut akan kegelapan dan kesepian.
Namun sejak berada disini ia sama sekali tak pernah takut walaupun tanpa penerangan sekali pun.
Ia tahu Kai akan selalu datang menemaninya, namun sekarang lelaki itu tak pernah menunjukan batang hidungnya lagi.
Kalau ia tak ingin melihat Kyara lagi, harusnya dia membebaskannya saja, bukannya mengurunynya seperti ini.
Buliran air mata pun jatuh dari kedua mata Kyara. Ia sangat frustasi akan keadaan saat ini.
"Kau berada dimana Kai hikss hikss"
"Ayah...aku merindukanmu."
"Ragaz...aku sangat merindukanmu, kumohon datang dan selamatkanlah aku hikss hikss."
Merasa sangat lelah menangis, Kyara pun mengusap air matanya dan memakai kembali pakaiannya dengan benar.
Di temani dengan setengah batang lilin di tangannya ia pun keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga menuju ke dapur.
Tap...tap..tap
Ia merasa sangat-sangat lapar saat ini. Dia pun kembali membuka lemari penyimpanan untuk mencari makanan, namun ia tak menemukan apapun.
Ia pun berjalan ke arah gudang makanan, namun lagi-lagi hasilnya nihil. Tak ada makanan yang tersisa saat ini.
Bahkan segelas air pun sudah tak ada saat ini padahal tenggorokannya juga kering saat ini.
"Jangan salahkan aku Kai, aku akan mencari cara apapun agar bisa keluar dari kastil ini!" Gumam Kyara.
Memany Kyara mengucapkannya dengan penuh percaya diri tapi ia tak menemukan cara apapun.
Pintu tak bisa dibuka, jendela tanpa pembatas pun tak bisa ia lewati. Setiap dia mencoba melompat keluar, jendela itu seolah mengeluarkan dinding pembatas transparan.
Pada akhirnya Kyara hanya bisa berbaring di atas ranjang milik mendiang ibu Kai.
■■■■□□□□
KEDIAMAN DAVELLAS
Selena terlihat menikmati secangkir darah yang berada ditangannya.
Seorang wanita dengan rambut sebahu mendatanginya dengan membawa sebuah mantel bulu berawarna hitam.
Di berikannya mantel itu pada Selena.
"Kau mau pergi kemana lagi putriku ?" Tanya wanita itu.
"Aku akan menemui Kai, sudah lama aku tak melihatnya." Jawab Selena.
Wanita itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, putrinya itu selalu saja hanya memikirkan Kai.
Iri, cemburu, kesal dan sedih menjadi satu dalam dirinya. Padahal dia ibunya, namun putrinya itu selalu saja memprioritaskan Kai.
Mungkin dia hanya seorang ibu rumah tangga saat ini, namun tentunya bangsawan vampire sepertinya tetap tahu apa yang terjadi di luar sana.
Namun dirinya berpikiran berbeda sejak melihat kebodohan Kai. Pangeran terbuang itu sama sekali tak berniat mempertahankan ataupun merebut kembali haknya.
Padahal masih ada bangsawan yang mendukungnya, semua usaha keluarga Davellas dan bangsawan lain yang mendukungnya tentu menjadi sia-sia.
Apalagi ratu saat ini juga semakin menancapkan taringnya. Saat ini siapa yang kuat dan siapa yang mau berjuang adalah pemenangnya.
Sudah beberapa kali ia berusaha membujuk Selena untuk meninggalkan Kai, namun putrinya itu sama sekali tak mendengarnya.
"Putriku Selena, bersama Kai tak akan membantu keluarga kita. Lupakanlah dia nak, jangan menyiksa diri seperti ini." Ucapnya.
"Lebih baik ibu diam, jika ibu tetap berkata seperti itu aku tak akan mau bicara denganmu lagi." Jawabnya.
Ia hanya bisa menghela nafas, rupanya putri kesayangannya itu sudah dibutakan oleh cinta.
"Aku akan pergi sekarang." Pamit Selena.
Selena pun langsung bergerak cepat menuju ke kastil seribu bunga.
Tentunya sulit bagi vampire lain untuk memasuki kastil itu. Namun tidak baginya, diam-diam Kai mengajarinya untuk memecah pembatas, jadi ia bisa keluar masuk kastil dengan bebas.
Tapi tetap saja Selena harus memecah pembatas di tempat paling tersembunyi, ia tak ingin ada penyusup yang menyakiti ataupun merusak hal berharga milik Kai.
Kini Selena sudah tiba di tempat tersembunyi itu, pupil matanya kini berubah warna menjadi merah darah, kedua taringnya pun terlihat dengan jelas.
Ia pun membaca sebuah mantra dengan fokus, dan dalam sekejap pembatas itu sudah menghilang.
Selena pun berhasil memasuki kastil, ia pun melangkah pelan dengan maksud untuk mengagetkan Kai nantinya.
Di sisi lain untuk menghilangkan rasa bosan dan rasa sakitnya karena kelaparan Kyara pun memilih untuk membaca sebuah buku.
"Dewa Aelius tak akan pernah meninggalkan pengikut setianya, selalu ada cahaya mereka yang berada dalam kegelapan."
Kyara tersenyum saat membacanya, akankah ada cara baginya untuk meninggalkan kastil ini ?.
Apakah Dewa Aelius tetap bersamanya ? Sekarang ia sedikit ragu, entah mengapa ia yakin kalau Dewa Aelius sudah meninggalkannya.
"Apa kau marah karena aku percaya kalau kau adalah Dewa Iblis itu ? Sepertinya begitu, maafkan aku yang telah berdosa ini." Gumam Kyara.
Brakkk...
Tiba-tiba saja pintu terbuka dan Kyara langsung menoleh dengan cepat.
Sejak berada di lantai 2, Selena merasa ada yang aneh, ia mencium bau yang sangat familiar. Bukan Kai, lebih tepatnya ini bau darah manusia.
Dan sekarang didepannya pintu kamar rahasia yang tak pernah bisa ia masuki sedikit terbuka. Bau itu berasal dari ruangan ini.
Saat ia membuka pintu kamar dengan lebar, ia melihat seorang manusia wanita tengah duduk dengan santai sembari membaca buku.
"Manusia ? Siapa kau ? Mengapa kau berada disini ?!" Tanya Selena.
Kyara tentunya terkejut, dalam sekejap ia tahu kalau wanita didepannya ini bukanlah seorang manusia.
"Vampire." Gumam Kyara.
Kyara pun bangun, ia memilih mundur, vampire wanita itu terlihat sangat agresif saat ini.
Dan benar saja dalam sekejap tanpa mau mendengar jawaban Kyara terlebih dahulu, dia terbang ke arah Kyara dan mencekik leher Kyara.
Dengan satu tangannya ia mengangkat tubuh Kyara ke udara.
Namun saat itu Selena menyadari bahwa kalung yang dipakai oleh Kyara adalah kalung yang pernah diperlihatkan Kai padanya.
"Beraninya manusia sepertimu mencuri dan berada di kastil ini!!" Teriak Selena.
Lagi-lagi tubuh Kyara dilemparkan dengan keras ke lantai. Ia pun langsung kehilangan kesadarannya.