
Mata mereka saling berpandangan, ada begitu banyak pertanyaan dan penjelasan yang sama-sama ingin mereka ungkapkan.
"Ada hubungan apa kau dengan manusia itu ? Sampai-sampai kau menghajar Ratu Isabella, kau tak pernah seperti ini Kai." Ucap Selena.
"Mengapa kau membawa dia kemari tanpa izinku Selena ?" Tanya Kai balik.
Selena terheran, "Dia manusia yang menyusup ke kastil seribu bunga Kai, kalau kau tidak ada, kemana lagi aku harus membawanya ?"
Kai menghela nafas panjang.
Selena sendiri masih mendesak Kai untuk menjelaskan semuanya tentang Kyara.
Pada akhirnya Selena pun tahu kalau Kyara benar-benar manusia yang disangka hilang dan mati di hutan terlarang. Namun ia tak pernah menyangka kalau Kai lah yang akan menyelamatkan dan menyembunyikannya.
Seorang Kai yang saat ini tak pernah menghisap darah manusia justru menahan dan hidup bersama seorang manusia.
Terlebah lagi manusia itu adalah seorang wanita.
"Dia membuat kontrak denganku jadi ia tak bisa dijauhkan dariku begitu saja." Ucap Kai.
Selena melongo, ia terus-terusan mendengar hal mengejutkan tentang Kai dan Kyara. Namun dalam seperkian detik ia tersenyum lebar.
"Kalau begitu benar kau akan segera membunuhnya." Ucap Selena.
Kai menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tak akan membunuhnya, dia adalah orangku, untuk apa juga aku membunuh orangku sendiri ? Membunuhnya hanya akan membuatku kehilangan seorang pendukung."
Kedua alis Selena bertaut.
Kai adalah seorang pangeran vampire, dan Kyara adalah seorang manusia lemah.
Kehilangan pendukung seperti itu tak akan memberi dampak apapun. Yang ada adalah menghilangkan sebuah beban yang akan menghambat tujuan menuju puncak.
"Kau adalah sahabat terbaikku, kesalahan akan menghajar Kyara dan membawanya kesini tentu saja aku memaafkanmu. Kuharap mulai sekarang kau juga akan membantuku menjaga dia." Harap Kai.
Selena tak bisa berkata apapun, ia tak bisa menerima semua yang dikatakan oleh Kai.
Menjadikan manusia sebagai budaknya akan membuat Kai menerima banyak pujian.
Namun karena Kyara ia menghajar Ratu Isabella.
Sekarang saja semua bangsawan sedang heboh dan sedang mendiskusikan hukuman apa yang harus diberikan pada Kai.
"Kai...para bangsawan tak menyukai keberadaan Kyara, akan lebih baik kalau kita memulangkan dia."
"Tidak, karena kau sudah berbicara seperti itu lebih baik aku pergi saja. Aku akan segera pergi dengan Kyara." Ucap Kai lalu pergi memasuki kamar kembali.
Kyara saat ini sudah tertidur pulas, seolah sudah ditinggal terlalu lama.
■■■■□□□□
KEKAISARAN TIMUR
Di tempat lain Liana tengah menikmati secangkir teh dengan Duke dan Duchess Malvi.
Kini ia sudah resmi berstatus sebagai tunangan putra mahkota, dan tak lama lagi ia akan menikah dengan Ragaz.
Tentu hal ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keluarga Malvi.
Setelah kematian putri sulungnya, ternyata putri bungsunya yang akan naik tahta.
"Liana, ibu sangat bahagia akan pertunanganmu. Ibu benar-benar masih tak menyangka kau adalah orang yang disebut oleh oracle." Ucal Duchess Malvi penuh semangat.
Liana pun tersenyum malu.
"Ya ibu, aku juga tak pernah mengira. Aku tak sebaik kakak, namun justru aku yang akan menjadi ratu disini."
Duchess Malvi pun menghela nafas panjang. Ia kembali teringat tentang Kyara.
Kira-kira bagaimana perasaan Kyara di atas saat ini ?.
Pria yang dicintainya akan menikah dengan adiknya sendiri, bahkan posisi yang ia dambakan juga akan diambil alih oleh adiknya sendiri.
Duke Malvi pun meletakan secangkir teh yang ia pegang sebelumnya, ditatapnya Liana yang terlihat ketakutan.
"Tak akan putriku, sudah sepatutnya mereka tak menyalahkanmu ataupun keluarga kita. Karena apa yang terjadi ini adalah takdir tuhan." Jelas Duke Malvi.
Tiba-tiba saja seorang pelayan datang dan menyampaikan pesan pada Duke Malvi.
"Yang Mulia Putra Mahkota berada disini Tuan." lapornya.
Mereka pun akhirnya pergi untuk meyambut Ragaz.
Kini mereka tengah berkumpul bersama di ruang keluarga.
Liana duduk bersebelahan dengan Ragaz, wajahnya nampak memerah karena malu.
Jantungnya berdebar dengan sangat cepat saat ini.
"Yang Mulia ada kepentingan apa anda datang kemari ?" Tanya Duke Malvi.
"Duke tak perlu terlalu formal, bagaimanapun juga dari beberapa tahun lalu aku adalah calon menantumu, kita akan segera menjadi keluarga." Jelas putra mahkota.
Duke Malvi pun tersenyum, namun entah mengapa ia meminta Liana dan Duchess Malvi untuk pergi meninggalkan ia dan putra mahkota sendirian.
Hanya tersisa ia dan Ragaz saat ini.
Apa yang dikatakan Duke Malvi saat ini benar-benar membuat putra mahkota tak percaya.
Ternyata Duke Malvi menganggap oracle itu adalah suatu kebohongan yang dibuat oleh Ragaz.
"Duke, mana mungkin aku berbohong seperti itu, apalagi sampai melibatkan Dewa, itu kejahatan besar." Elak Ragaz.
"Yang Mulia, selama ini hamba sangat tahu tentang perasaan anda pada Kyara. Mungkin Liana memang mirip dengan kakaknya itu, tapi dia bukan Kyara yang mulia. Pernikahan karena oracle tipuan itu tak akan membuat anda bahagia." Ucap Duke Malvi.
Ya, dia menganggap Ragaz mengarang soal oracle karena Liana mirip dengan Kyara.
Sebelumnya Liana sama sekali tak boleh bertemu dengan Ragaz karena gossip, bahkan Liana tak akan bisa ikut pemilihan putri mahkota.
Namun disaat para bangsawan bisa bebas mengenalkan putri mereka pada Ragaz, ia justru mengumumkan oracle di waktu yang tak tepat.
"Duke aku sama sekali tak berbohong, bahkan oracle itu sudah turun di waktu Kyara menghilang." Jelas putra mahkota.
"Kalau begitu mengapa anda baru mengungkapkannya sekarang Yang Mulia ?" Tanya Duke Malvi.
Ragaz pun tersenyum kecut, apa Duke itu bodoh ? Apa dia lupa kalau ia terlarut dalam kesedihan selama ini ?.
"Kalau begitu sepertinya kematian putri pertamaku itu sudah takdir Yang Mulia." Ucap Duke Malvi.
Suaranya bergetar saat mengucapkan hal itu.
"Takdir memang kejam, namun bukankah Dewa juga baik Duke ? Dia mengambil nyawa Kyara agar dia tak tahu soal oracle ini, menurutmu bagaimana perasaannya kalau ia masih hidup dan tahu adik kesayangannya harus menikah denganku ?" Tanya Ragaz balik.
Duke pun tersenyum kecil.
Yang dikatakan putra mahkota ada benarnya.
Kalau saja putrinya itu masih hidup dan tahu tentang oracle pasti Kyara itu akan bunuh diri.
Ia sangat mencintai Ragaz, bagaimana bisa dia tahan melihat pria yang ia cintai menikah dengan orang lain meskipun itu adalah adiknya sendiri ?.
"Ya, tapi tetap saja takdir sangat kejam pada putri manisku itu." Ucap Duke Malvi.
"Duke, hatiku memang masih milik Kyara tapi aku berjanji tak akan membuat Liana terluka." Ucap Ragaz.
Duke Malvi pun mengangguk.
Sepertinya dia harus benar-benar melupakan kesedihannya mulai sekarang.
Kalau ia masih membahas soal Kyara dan Ragaz, yang ada Liana lah yang akan tersakiti.