KALA

KALA
BAB 7 : Teman



Seorang gadis cantik dengan rambut panjang berwarna coklat menghampiri Kai yang berada di kamarnya.


Senyumnya langsung merekah begitu mendapati lelaki tengah melamun.


"Kai." Panggilnya lembut.


"Ada apa Selena ?." Jawab Kai singkat.


Wanita itu adalah Selena Davellas, teman masa kecilnya dan juga salah satu anak dari bangsawan tinggi di kekaisaran utara.


Keluarga Davellas tentunya bukan bagian dari bangsawan penjilat. Keluarga dengan sejarah panjang yang membanggakan tak mungkin mau sepenuhnya memberi hormat pada mantan pelayan itu.


Apalagi dengan perilaku buruk Isabella yang semakin membuat keluarga Davellas kesal.


"Kai, selama ini kau berada dimana ? Aku terus mencarimu." Tanya Selena penasaran.


"Aku tak pergi kemana pun, hanya berada di kekaisaran ini sepanjang waktu." Jawab Kai.


Selena mengerutkan dahinya, jawaban Kai terlihat meyakinkan dan tak mungkin juga Kai membohonginya.


Namun beberapa kali ia pergi ke kastil namun ia tak menemukan keberadaan Kai disana.


"Dimana ? Beberapa kali aku mengunjungi kastil, tapi aku tak melihatmu sama sekali, padahal aku sudah menunggu lama." Jawab Selena.


Kai tersenyum, temannya ini memang selalu saja cerewet. Mereka memang sudah lama tak bertemu semenjak Kai fokus merawat Kyara.


Dan tentu saja Selena tak menemukannya, karena ia harus bersembunyi.


"Aku terus-terusan berburu, sepertinya saat aku kembali ke kastil kau sudah pergi." Jelas Kai.


Mendengar hal itu Selena langsung mengerucutkan bibirnya. Ada sedikit rasa sedih dan kecewa yang ia rasakan saat ini.


Harusnya vampire mengkonsumsi darah manusia agar bisa bertahan lebih lama. Namun Kai hanya meminum darah binatang saja.


Andai saja Kai bukan bangsawan pasti dia tak akan bisa bertahan selama ini.


Bahkan Selena sudah mengira kalau Kai sudah lupa akan rasa darah manusia.


Kai menyadari kalau Selena langsung melamun begitu mendengar jawabannya, ia sudah paham apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu saat ini.


"Aku sudah tahu kau akan berkata apa sebentar lagi." Tebak Kai.


Senyum Selena langsung mengembang lagi, Kai memang selalu bisa membaca pikirannya.


"Kalau begitu kenapa kau terus berburu darah hewan ? Kekuatanmu tak akan bertambah Kai." Ucap Selena khawatir.


Kai kembali tersenyum mendengarnya, pasti saat ini Selena tengah memikirkan bagaimana jadinya kalau saudara tirinya itu semakin kuat dan menyingkirkannya dari tahta.


Vampire biasa memang bisa bertahan lebih lama dan bisa bertambah kuat jika meminum darah manusia terus-menerus.


Apalagi saudara tirinya itu juga merupakan setengah bangsawan, pastinya ia bisa semakin kuat.


Namun Kai tak peduli, ia yakin sekuat apapun Isabella dan putranya itu, mereka tak akan bisa mengalahkan Kai.


Dia tak punya kelemahan karena hatinya sudah mati, ditambah ia juga masih punya dukungan dari beberapa bangsawan lain.


"Selena, apa kau lupa siapa ibu dan ayahku ?." Tanya Kai.


Selena langsung menggelengkan kepalanya.


Ia tak mungkin lupa pada kedua orang tua kandung Kai yakni raja Leon dan ratu Violet.


"Ratu Violet, aku tak bisa melupakan kecantikannya itu Kai, dia juga sangat keren." Ucap Selena terkagum-kagum.


Kai tahu kalau Selena sangat menyukai ibunya, saat kecil ia sering datang untuk menemui ibunya.


Namun begitu mendengar ucapan "keren" itu, Kai tersenyum sinis. Ia tahu kalau wanita mudah sekali memuji seseorang.


Namun terkadang pujian itu bukanlah sebuah kebenaran, itu hanya diucapkan untuk merayu dan membuat puas si pendengar.


Dan lagi apa yang bisa dianggap keren dari seorang wanita yang tak punya harga diri seperti itu ?.


Ahhh....Kai memang sayang pada ibunya, namun ia juga benci.


Apa hanya karena kehilangan salah satu kasih sayang dunia seseorang akan langsung runtuh ? Dan juga akan kehilangan seluruh kasih sayang dari dunia ? Sepertinya tidak.


Buktinya saja ia bisa bertahan sampai sejauh ini.


"Kai, ibumu benar-benar keren. Ia pandai dalam segala hal." Lanjut Selena lagi.


Kai yang tadinya melamun langsung tersadar, "Yang bisa dipuji darinya hanya sebuah kecantikan saja, Selena."


"Jangan berkata begitu Kai. Aku tahu dalam hatimu kau mengakuinya."


Kai tak menjawab perkataan Selena, ia hanya terfokus pada lemari pakaiannya saat ini.


Sudah lama sekali, sempat terpikir bahwa semua pakaiannya akan bau atau dibuang. Namun ternyata semua bajunya masih utuh dan harum.


"Kau mengurus pakaianku rupanya." Ucap Kai sembari membalikan badannya untuk menatap Selena.


"Tentu saja, kalau bukan karena ku pasti mereka akan mengambil alih semuanya." Jawab Selena.


"Terima kasih Selena." Ucap Kai tulus.


Kai pun mengambil salah satu jubah hitamnya dan langsung memakainya.


"Kali ini kau akan tinggal lama kan Kai ? Ehhh...mengapa kau mengambil jubah itu ? Kau akan pergi kemana Kai ?." Tanya Selena.


Yang diambil Kai bukanlah jubah biasanya, Selena tahu betul kalau jubah itu memiliki sihir. Dan Kai hanya akan memakainya disaat-saat genting saja.


Tadi Kai bertengkar dengan Isabella dan putranya, apa dia akan bertarung saat ini ?.


Meskipun Kai kuat, tapi tetap saja mereka punya banyak sekutu saat ini. Akan sangat sulit mengalahkannya tanpa rencana yang matang.


"Tentu saja aku akan pergi berburu." Jawab Kai dengan entengnya.


"Berburu manusia ?." Tanya Selena lagi.


Kai pun mengangguk mengiyakan.


Selena terjekut, ia tak salah dengar bukan ? Kai memang berkata berburu manusia kan ?.


Apa kejadian tadi membuatnya sadar ? Ahhh...masa bodoh apapun alasannya Selena sangat senang saat ini.


"Kalau begitu culiklah manusia sebanyak mungkin, dan minum darah mereka tanpa menyisahkan sedikitpun." Ucap Selena dengan penuh semangat.


Kai pun tersenyum, "Aku tak serakus itu."


Setelah itu Kai pun berpamitan untuk pergi, ia tak ingin terus menunda perjalanannnya.


Namun sayang sekali, Selena memaksa ikut.


Kai sebenarnya ingin berburu sendirian, tanpa membawa beban.


Dengan adanya Selena, ia punya kewajiban untuk menjaganya.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri Kai, lagipula sudah lama sekali kau tak berburu manusia. Aku takut kau terluka karena tak pernah berinteraksi dengan mereka." Jelas Selena.


"Selena, justru aku lebih takut tak bisa menjagamu nanti." Jelas Kai.


Selena tak peduli, ia tetap memaksa ikut, ia tetap berdalih bahwa urusan berburu manusia dialah ahlinya.


Hewan berbeda dengan manusia.


Kai yang selama ini selalu berburu hewan tak akan pernah tahu bagaimana serunya berburu manusia.


Mereka ada yang pintar dan juga bodoh, ada yang kuat dan juga lemah.


"Aku lebih tahu soal dunia manusia Kai, dengan bantuanku akan sangat mudah bagimu mendapatkan banyak mangsa." Jelas Selena panjang lebar.


Akhirnya Kai menyerah, apapun alasan yang ia berikan, Selena tetap akan keras kepala dengan keputusannya.


Padahal berburu kali ini tak seperti apa yang ada dipikirkan Selena.


Kalaupun ia kecewa, itu adalah kesalahannya sendiri.