
Selama beberapa hari Kyara hanya berbaring diatas ranjang, bukan karena ingin bermalas-malasan, tapi karena ia jatuh sakit karena peristiwa di penjara beberapa hari lalu.
Namun hari ini Kai memanggilnya untuk datang ke kamar. Entah untuk apa yang jelas ia mengharuskan Kyara untuk datang.
Dalam hati Kyara sedikit cemas, ia memang berhasil keluar dari penjara kali ini, namun bagaimana jika lelaki itu berubah pikiran lagi ?.
Begitu keluar dari kamarnya, Kyara dikejutkan dengan keadaan kastil yang tak seperti biasanya.
Kali ini kastil terlihat lebih terang dari biasanya, beberapa jendela terbuka dan membuat sinar matahari pagi yang berwarna keemasan masuk.
"Kai, aku datang," ucap Kyara begitu memasuki kamar Kai.
Kai memandang Kyara dari ujung bawah hingga atas, nampaknya gadis itu sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.
Kai mendekat ke arahnya.
"Aku membawa baju baru, pakailah baju itu untuk bersih-bersih," ucapnya.
Kyara hanya terdiam, ia tak salah dengar kali ini, ia juga tak salah lihat.
Baju itu berada di ranjang Kai, direntangkan dengan sempurna agar ia bisa melihat bagaimana bentuknya.
Baju dengan bahan bulu yang akan membuatnya terus merasa hangat. Tak ada yang salah dengan bajunya.
Namun yang salah adalah Kai. Tak mungkin dia melakukan pekerjaan kasar menggunakan baju itu.
Kalau ia memakainya sudah pasti ia kehilangan banyak cairan, keringatnya akan mengucur dengan deras.
Niat baiknya itu menjadi sia-sia kali ini.
"Terima kasih, aku akan mengenakan pakaian yang lain saja, aku lebih nyaman menggunakan pakaian yang tak terlalu tebal saat bersih-bersih." Jelas Kyara.
Kai hanya mengangguk mengiyakan lalu mempersilahkan Kyara pergi untuk melaksanakan tugasnya.
Seharian Kyara membersihkan lantai 2, meskipun belum benar-benar selesai, kini sudah mulai terlihat bahwa kerja kerasnya tak sia-sia.
Sedangkan Kai sendiri tak pergi kemanapun, sejak tadi ia hanya melihat Kyara yang sedang bertempur menggunakan alat-alat kebersihan.
Sembari membersihkan ruangan, Kyara sempat menerima informasi dari Kai bahwa kastil ini sudah bertahun-tahun tak dibersihkan.
Itu semua juga karena Kai yang tak ingin posisi barang berubah jika dibersihkan.
"Kai...."
"Hmmm...apa ?"
"Aku lapar." Ucap Kyara.
Ya, lelaki itu memang lupa kalau dia hanyalah manusia biasa. Pagi tadi ia belum sarapan dan langsung menemui Kai begitu saja.
Untung saja ia tak pingsan daritadi.
Mereka pun berjalan bersama menuju dapur. Lalu duduk berhadapan di meja makan.
Hanya ada buah-buahan kali ini, tak ada sayuran atau daging apapun.
"Makanlah." Ucap Kai.
Mau tak mau Kyara langsung mengupas dan memakan buah yang tersedia di atas meja.
Di pandanginya Kai yang terus memperhatikan dirinya dengan tatapan yang tak bisa diartikan itu.
"Bisakah kau berhenti memandangku seperti itu ? Aku sedikit tak nyaman."
"Aku sangat penasaran.."
"Penasaran tentang ?"
"Bagaimana bisa kau makan dengan nikmat seperti itu." Jawab Kai.
Di taruhnya garpu yang ia pegang, lalu tersenyum tipis sembari memandang Kai dalam-dalam.
"Sebenarnya makan ini pun aku tak akan kenyang," ucap Kyara.
"Aku tahu kau tak akan kenyang."
Huhh....
Kyara hanya melongo mendengarnya, lelaki itu sudah tahu kalau ia tak akan kenyang, lalu kenapa dia hanya membawa buah saja kali ini ?.
Ahhh...memang dia harus bersyukur karena Kai tetap memberinya makan namun cara Kai menjawab perkataannya itu benar-benar membuat Kyara jengkel.
"Benarkah ?" Tanya Kai tak percaya.
"Mana mungkin aku berbohong Kai, menikmati kudapan sembari membaca buku itu sangat menyenangkan.
Kai terdiam dan teringat tentang ibunya, dulu ibunya juga melakukan hal seperti ini.
Setiap hari para pelayan akan membawa banyak kudapan saat ia mulai membaca buku.
"Apa kau punya makanan lain atau makanan favorit selain darah manusia ?"
"Tak ada.."
"Kau pasti bohong, saat masuk kamar mendiang ibumu aku melihat banyak buku resep masakan."
Upsss...kali ini Kyara tak bisa menjaga lisannya, mengatakan hal itu sama saja dengan membuka kotak amarah Kai.
Kai mendengus mendengarnya.
Bukan karena marah namun karena Kyara jadi sok tahu karena membaca buku-buku di kamar mendiang ibunya.
"Sudah kubilang tak ada." Jawab Kai sekali lagi.
Kyara menurunkan matanya setelah mendengar jawaban Kai. Wajahnya menjadi sedikit muram dan hal itu membuat Kai gusar.
Apa ada yang salah dari jawabannya ?.
Seharusnya tak ada karena memang jawabannya juga tak asal. Ia sudah lama tak menikmati makanan lezat.
Hanya darah rusa atau kelinci tak akan bisa memuaskan dirinya.
"Mengapa wajahmu seperti itu ?" Tanya Kai penasaran.
Kyara pun mengatakan segalanya yang membuat wajahnya menjadi suram itu.
Entah bagaimana ia berpikir kalau buku-buku resep itu pasti juga ditinggalkan untuk Kai.
Lelaki ini sangat cuek, dingin dan tak pernah bisa mengutarakan isi hatinya dengan benar. Mengatakan dengan jujur soal buku itu juga akan menodai harga diri Kai yang tinggi.
"Aku iri karena ibumu meninggalkan banyak kenangan. Aku dan ibuku tak punya banyak kenangan." Jawab Kyara.
Saat itu lah Kai mendengarkan Kyara dengan seksama.
Gadis itu mengatakan kalau ibunya sudah meninggal sejak ia masih kecil. Ia tak pernah tahu jika ibunya sakit-sakitan.
Saat itu tiba-tiba saja ia terbangun dan mendengar semua orang dirumah tengah menangis sembari memanggil nama ibunya.
"Jadi aku memahami mengapa kau tak ingin siapapun menyentuh barang-barang ibumu." Jelas Kyara.
Kai menjadi sedikit tersentuh oleh cerita Kyara.
"Aku merindukan ibuku Kai, sangat merindukannya...aku juga merindukan keluargaku hikss hiks." Tangis Kyara langsung pecah begitu saja.
Kyara menangis untuk beberapa saat. Dan Kai hanya diam tak berkutik.
Ia sadar kalau hanya bisa mengatakan hal-hal jahat saja, jadi diam adalah hal yang tepat.
"Bersihkan lah kamar ibuku." Ucap Kai.
Kyara menyembunyikan senyuman tipis saat mendengarnya.
Lalu ia berlagak kebingungan dan membanjiri Kai dengan pertanyaan-pertanyaan.
Sebelumnya ia melarang dan marah padanya namun sekarang ia mengizinkan hal itu.
"Bukannya kau melarangku memasuki kamar itu ?"
"Aku tak mau kenangan ibuku rusak karena tak terawat, jadi bersihkan dengan benar. Kalau kau ingin membaca pastikan dan merusak buku yang kau baca." Jelas Kai.
Yup..
Tipu muslihat Kyara berhasil kali ini.
Tangisnya mungkin memang benar-benar dari hati, namun sebenarnya tangisnya itu adalah hal yang direncanakan.
Baginya kamar mendiang ibu Kai adalah surga di kastil yang suram ini. Tak mungkin ia memilih untuk mati kebosanan di kastil ini.
"Benarkah ? Kalau benar, aku pasti akan merawat kamar ibumu, ahhh...dan kau tak bisa menarik ucapanmu itu." Ucap Kyara dengan semangat.
"Sebelum masuk kau harus izin dulu padaku." Titah Kai.