KALA

KALA
BAB 17 : Larangan



Gossip buruk tentang Liana dan juga Ragaz terus saja beredar di kalangan bangsawan.


Bahkan mereka juga terang-terangan membicarakan hal itu di istana dan juga di depan Duke Malvi.


Mereka terus saja mengecap Liana sebagai wanita murahan. Bahkan mereka juga menganggap keluarga Duke Malvi sebagai penjilat kekuasaan.


Sebelumnya Kyara adalah nona bangsawan paling menonjol, ia cantik, pintar, baik hati dan bijaksana. Namun ia tak memiliki banyak teman dari kalangan bangsawan.


Sedangkan Liana nona yang tak pernah menunjukan prestasi seperti kakaknya. Etiketnya biasa saja, ia pun tak sepandai Kyara.


Namun mereka semua tahu kalau Liana adalah gadis yang ramah dan mudah berteman.


Tapi para bangsawan kini mengetahui kalau putri yang tak menonjol itu mulai menunjukan wajah dan cakar beracunnya.


Ia akan menggoda putra mahkota dan siap menyingkirkan siapapun yang berusaha menarik perhatian Ragaz.


"*Keluarga Malvi memant tak pernah main-main, setelah putri sulung mereka meninggal, kini mereka berniat menggantinya dengan putri bungsu."


"Diantara kita semua, bukankah Duke Malvi yang paling gila kekuasaan ?"


"Dia tak mendukung kita soal pemilihan putri mahkota."


"Ternyata dia sendiri sudah menentukan siapa putri mahkota selanjutnya."


"Mereka itu penjilat kekaisaran, bahkan sepertinya mereka lebih berkuasa daripada raja*."


Hari demi hari gosip itu semakin membesar, kaisar tak bisa menahan amarahnya lagi.


Ia tak bermaksud membela Liana, ia juga tak membenarkan perilaku putranya. Namun yang mereka bicarakan adalah putra mahkota, putra dan juga calon matahari baru kekaisaran timur.


Kaisar pun memerintahkan seluruh bangsawan kekaisaran timur yang berada di ibukota untuk menghadapnya.


Para bangsawan tentunya tahu mengapa mereka dikumpulkan seperti ini.


"Berani sekali kalian bergosip tentang putra mahkota seperti itu! Tidakkah kalian malu ? Kalian menjilatku setiap saat untuk menikahkan putri kalian dengannya tapi kalian semua justru membicarakannya seperti sampah!" Teriak Kaisar.


Para bangsawan hanya terdiam, yang dikatakan Kaisar memang tak salah.


"Cepat katakan apa sebenarnya mau kalian ?" Tanya Kaisar.


Tak ada satupun bangsawan yang berani menjawab pertanyaan kaisar, mereka sangat takut akan kehilangan nyawa jika salah menjawab.


Kaisar pun terlihat semakin murka akan bungkamnya mereka semua.


"Cepat katakan! Apa kalian semua ingin dihukum karena memfitnah putra mahkota ?!!!" Teriaknya lagi.


Duke Malvi pun berusaha menenangkan kaisar yang tengah murka. Sebenarnya ia juga tahu apa yang digossipkan oleh mereka semua.


Namun dengan marahnya kaisar saat ini, ia takut kalau gossip itu menjadi semakin buruk. Apalagi itu juga berhubungan dengan putri bungsunya.


"Kaisar...mohon tenangkan diri anda. Masalah tak akan selesai jika diselesaikan seperti ini." Ucapnya.


"Apa kau akan diam saja Duke Malvi ? Gossip ini juga berhubungan dengan putrimu. Kalaupun gossip keluargamu adalah penjilat benar apakah kau akan mengakuinya begitu saja ?!" Tanya Kaisar.


Duke Malvi pun terdiam, tentunya kalaupun itu benar ia juga tak akan diam saja.


Sebenarnya pun ia juga tak diam selama ini, pikirannya kacau akan meninggalnya Kyara ditambah dengan gossip soal Liana membuat perasaannya semakin tak karuan.


Ingin sekali ia membungkan mulut para bangsawan sialan itu. Namun ia tak bisa gegabah seperti itu.


Menunjukan pengelakan dengan terang-terangan bagi bangsawan seperti mereka sama saja mengakui kalau itu adalah benar.


Lebih baik bergerak dari belakang secara perlahan namun membuat mereka hancur tanpa sisa.


Akhirnya salah seorang bangsawan lain pun mencoba untuk menjawab perkataan Kaisar tadi.


Kaisar pun tertawa keras mendengar jawaban itu, "Hahaha...akhirnya kalian menjawab, cepat katakan aduan dan rayuan manis kalian itu."


Pada akhirnya mereka semua pun mengatakan apa yang sebenarnya mereka inginkan dan apa yang menjadi masalah saat ini.


Mereka tahu kalau Ragaz mencintai Kyara dengan tulus.


Hal itu tentunya menguntungkan keluarga Malvi, keluarga yang memiliki sejarah panjang kini juga akan menambah sejarah dengan diangkatnya keturunan mereka menjadi ratu yang dicintai oleh rajanya.


Namun disaat penambahan sejarah itu gagal karena kematian Kyara seharusnya Duke Malvi tak menggantikan Kyara dengan putrinya.


Karena seharusnya putri mahkota dipilih melalui sebuah ujian. Kecuali ada sebuah oracle yang turun.


Jika Duke Malvi memili cara licik dengan mendekatkan putra mahkota dengan putrinya, maka para bangsawan juga menuntut hal yang sama dengan putri mereka.


Meskipun keinginan mereka tak tercapai tetap saja para bangsawan itu mendapat jawaban yang memuaskan dari Kaisar.


"Bukankah aku sudah bilang kalau pemilihan putri mahkota tak akan dilakukan terlebih dahulu ? Bukan karena Ragaz dekat dengan nona bungsu keluarga Malvi, namun karena ini adalah masa berkabung." Jelas Kaisar.


"Namun Yang Mulia, sampai berapa lama lagi masa berkabung ini berjalan ? Walaupun bukan nona Liana, putriku atau putri dari kekaisaran ini dan kekaisaran luar tetap saja kita harus segera mencari putri mahkota baru."


"Benar Yang Mulia, kalau anda terus menundunya wajar saja kalau kami curiga anda dipengaruhi dan takut pada keluarga Malvi."


Tatapan Kaisar pun kembali tajam, apakah para bangsawan itu tuli ?.


Mengapa mereka tetap saja menyalahkan keluarga Malvi ?.


"Walaupun putra mahkota jatuh cinta pada nona bungsu Duke Malvi, ia tetap tak akan menjadi putri mahkota begitu saja tanpa melakukan ujian. Dan kupastikan ujian saat pemilihan putri mahkota nanti akan dilakukan secara adil dan ketat." Terang Kaisar.


■■■■□□□□


KEDIAMAN DUKE MALVI


Duke Malvi yang baru saja tiba dari Istana pun langsung menemui Liana yang tengah berada di perpustakaan.


Putri bungsunya itu tengah membaca ditemani dengan ibunya.


"Liana." Panggil Duke Malvi.


Liana pun menoleh lalu menyambut kedatangan ayahnya itu.


"Bagaimana keadaan di Istana saat ini suamiku ?" Tanya Duchess Malvi.


Tak menjawab pertanyaan istrinya, Duke Malvi pun langsung memarahi Liana dan melarang putrinya itu untuk bertemu dengan Ragaz.


"Kau tak kuizinkan untuk bertemu dengan putra mahkota lagi, gossip tak benar itu tetap saja bisa membuat kita hancur Liana." Ucapnya.


Kedua mata Liana pun membulat, ia tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Kenapa ayah ? Lagipula aku juga tak berniat menggantikan posisi kakak, aku tahu dia tak bisa digantikan. Aku dan putra mahkota hanya berteman." Jelas Kyara.


"Benar suamiku, lagipula apa juga kesalahan putri kita ? Kalaupun putra mahkota memang jatuh cinta pada Liana itu juga menjadi berkat bagi keluarga kita." Bela Duchess Malvi.


"Tidak, bagaimana pun Liana adalah seorang gadis, tak baik bagi dia untuk bersama dengan Ragaz tanpa hubungan apapun. Aku juga tak akan mengizinkan dia bersama putra mahkota." Ungkap Duke Malvi.


"Kenapa ayah ?" Tanya Liana.


"Kalau itu terjadi, kakakmu akan sedih Liana. Apa kau tega menyakiti perasaan kakakmu itu ?" Tanya Duke Malvi.


Liana terdiam mendengarnya.


Apakah putri ayahnya itu hanya Kyara saja ?.