
Kyara tak tumbuh di kekaisaran utara, ia juga baru menempati kastil ini, sudah sewajarnya kalau ia tak mengetahui ruang dan barang apa saja yang tak boleh ia sentuh.
Kai juga tak menjelaskan apapun padanya, ya mungkin saja ia memang bersalah, namun harusnya Kai tak menyeret dan memenjarakannya dengan kasar seperti ini.
Saat ini ia terduduk diatas lantai sembari menangis, memikirkan bagaimana dan kapan ia bisa keluar dari penjara sialan ini.
Dengan cahaya minim, Kyara memperhatikan perawakan Kai yang terlihat sangat sempurna dan elegan.
Namun siapa sangka di balik kesempurnaan parasnya ia mempunyai sifat yang sangat buruk.
Dengan memainkan sebuah pisau dia menatap Kyara dengan tatapan tajam.
"Apa tahu bukan apa kesalahanmu ?" Tanya Kai singkat.
Dengan perasaan setengah takut dan setengah berani, Kyara menjawab pertanyaan Kai sesuai dengan apa kata hatinya.
Tentu ia tahu kalau ia salah, namun bukan berarti Kai benar.
Kai tetaplah menipu dirinya, dalam hal apapun, kebohongan tetap tak dibenarkan.
"Kai..." Kyara berusaha tak mengalihkan pandangannya pada Kai.
"Sudahlah, kau juga tak akan mengaku kan ? Wanita sombong dan penuh tipu daya sepertimu tak akan pernah mengakui sebuah kesalahan!" Teriak Kai lalu berjalan pergi meninggalkan penjara.
Entah sudah berapa hari ia menghabiskan waktu didalam penjara ini.
Wajah Kyara kini membeku, karena sejak semalam obor mati, ia juga tak menemukan penghangat apapun.
Semalam sebelumnya ia sempat bertengkar dengan Kai lagi. Ia menangis sejadi-jadinya dan meluapkan semua amarahnya.
Sejujurnya meskipun terbiasa melakukan pekerjaan kasar, ia tetaplah seorang bangsawan sejati.
Selama ini ia hidup dengan dilayani oleh pelayan-pelayannya, ia pun menjadi majikan yang baik hati dan penuh pengertian.
Namun kini ia harus melayani majikan yang tak punya hati dan seperti iblis. Tentu saja ia tak tahan.
"Kyara Agatha Malvi, putri tertua Duke Malvi dan calon ratu kekaisaran timur. Sepertinya kau akan benar-benar menghilang dan dilupakan." Gumam Kyara.
Ia sudah menyerah, hawa dingin sudah benar-benar merasuk ke dalam tubuhnya. Bahkan ia sudah tak bisa merasakan tangannya sendiri.
Brukkk....
Perlahan-lahan Kyara membuka matanya. Samar-samar ia melihat Kai tengah mengamati dirinya.
"Minumlah, kau meracau soal teh kemarin, aku membawakannya. Aku tak tahu ini teh apa, yang jelas penjual itu mengatakan wanita pasti menyukainya." Ucap Kai sembari membantu Kyara bangun.
Kyara pun memperhatikan sekelilingnya, dia tak berada di dalam penjara kali ini.
Dia pun meraih teh yang diberikan oleh Kai, dicicipinya sedikit lalu digenggamnya dengan erat teh yang ia taruh dipangkuannya itu.
Tak sadar air matanya kini pun berjatuhan. Perasaanya campur aduk kali ini.
"Teh hitam..." Pikir Kyara.
"Kau menangis hanya karena sebuah teh ?" Tanya Kai yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Kyara terdiam, ia tak tahu alasan tepat mana yang bisa ia sampaikan pada Kai.
Ia tak suka teh hitam, apalagi Kai juga tak bisa menyeduhnya dengan benar, hampir saja ia tersedak karena Kai tak menyaring teh ini terlebih dahulu.
Ia juga sedih karena Kai pasti di tipu oleh penjual teh ini, di kekaisarannya teh hitam lebih disukai oleh kaum pria.
Namun disisi lain ia juga senang karena bisa merasakan teh lagi karena Kai.
"Apa kau tak bisa berbicara lagi ?" Tanya Kai memastikan.
Kini ia sudah menyadari satu hal yakni Kai tak akan membunuhnya.
Vampire didepannya ini selalu berperilaku aneh dan tak wajar.
Kyara adalah seorang pelayan dan tahanan saat ini, namun kalau dipikir-pikir Kai selalu memperlakukan ia dengan baik.
Saat ia dipenjara karena memasuki kamar pun, Kai akan mendatanginya ke penjara untuk mengantar makanan dan pakaian baru.
Meskipun makanan dan pakaian itu tak bagus, namun setidaknya itu layak untuk dikonsumsi dan dikenakan.
Saat ia tertidur di lantai karena kelelahan menangis, Kai akan menggendongnya ke kamar.
Bahkan ia kini berada di kamar, sudah pasti ia pingsan karena kedinginan saat berada di dalam penjara.
Sepertinya Kai sangat lemah pada tak keberdayaannya disini.
"Kai, apa kau mau mendengar ceritaku ?" Tanya Kyara.
Kai pun merasa heran dengan perilaku Kyara, beberapa menit yang lalu wanita ini menangis hanya karena meminum teh.
Namun kini ia terlihat baik-baik saja.
"Cerita apa ?" Tanya Kai penasaran.
"Duduklah," jawab Kyara.
Kyara pun mulai bercerita pada Kai soal dirinya dan kehidupannya saat di kekaisaran timur.
Kali ini Kai sama sekali tak memotong cerita dari Kyara, ia berpikir kalau Kyara pasti sangat kesepian selama ini.
"Saat di kekaisaran timur aku tak punya banyak teman karena statusku. Namun aku punya seorang sahabat, dia sudah menikah jadi aku jarang bertemu dengannya. Teman bicara setiaku hanyalah adikku Liana..."
Wajah Kyara tampak sedih saat menyebutkan nama adiknya itu.
"Selama ini aku diperlakukan dengan baik dan terhormat oleh siapapun. Apa yang kuinginkan pasti akan terkabul. Meskipun hal-hal yang kulakukan tak boleh bertentangan dengan kitab dan etiket bangsawan, aku tak pernah merasa terbebani." Kali ini Kyara kembali menatap kedua bola mata Kai.
Ia ingin pria itu fokus dan terhanyut dalam ceritanya.
"Bermain, berjalan-jalan, membaca buku, meminum teh, terkadang aku bosan saat melakukannya. Namun....sekarang aku merasa sangat kosong dan merindukan itu semua." Ucap Kyara lemah.
Kai tetap terdiam, ternyata pikirannya benar. Gadis didepannya ini sangat kesepian.
Ia memang marah karena Kyara memasuki kamar ibunya, namun seharusnya ia tak memenjarakan Kyara lebih dalam lagi.
Berada di kastil sendirian tanpa hiburan apapun pasti sangat memuakan. Namun ia justru memasukan Kyara ke tempat yang lebih kecil lagi.
"Namun bagimu aku hanya seorang pelayan bukan ? Seorang pelayanmu tak bisa melakukan hal-hal itu, aku hanya bisa patuh pada semua perintahmu. Kalau tidak, kau pasti akan memenjarakan ahhh tidak, kau akan membunuhku." Ucap Kyara.
"Sudahlah, aku tahu kalau ujungnya kau akan berkata bahwa aku sangat kejam." Potong Kai.
Kyara pun menggelengkan kepalanya, "Tidak, kalau aku mengenalmu dan tahu ceritamu, pasti aku tak akan bisa berpikir begitu"
"Bebaskan aku Kai, aku ingin tahu tentang dirimu. Aku tak ingin melakukan kesalahan dan mati membusuk didalam penjara." Ucap Kyara.
Dengan berani Kyara memegang tangan Kai yang sangat dingin.
Kini tatapan lelaki itu terlihat lebih hangat dari sebelumnya. Ia tahu kalau ia dan Kai sama-sama kesepian.
Tak ingin barang peninggalan ibunya disentuh juga sudah pasti Kai adalah orang yang penuh kasih sayang.
Ia tahu bagaimana cara mengambil hati lelaki ini sekarang.