
Kyara menunduk dan menahan senyumnya, ia tak ingin senyum lebarnya itu ketahuan oleh Kai.
Akhirnya ia bisa kembali masuk ke kamar milik mendiang ibu Kai, "Rasa bosanku akan berkurang."
Srekk...srekk
Dengan telaten Kyara membersihkan rak-rak buku. Untungnya rak ini di buat tak terlalu tinggi, jadi cukup mudah baginya untuk membersihkan hingga bagian atas.
Kai sendiri sebenarnya tahu kalau Kyara terus-menerus tersenyum sejak memasuki kamar ini.
Ahh...tentunya gadis itu tak tahu kalau ia diam-diam mengawasinya.
Ia memang mengizinkan Kyara untuk membersihkan dan membaca buku di kamar tapi ia melarang gadis itu untuk membuat kamar menjadi terlalu terang.
Dulu sekali ia selalu melihat pemandangan seperti ini disaat ibunya masih hidup, dan tentunya saat ibunya itu belum kehilangan kewarasannya.
Ia, ayah dan ibunya akan membersihkan dan membaca buku bersama. Lebih tepatnya kedua orang tuanya akan membacakan sebuah cerita untuknya.
Melihat pemandangan seperti ini membuatnya sedikit hidup.
"Ibu...dia mirip denganmu, sebenarnya aku tak suka melihatnya namun aku tak bisa melepasnya." Gumam Kai.
Tanpa disadari sudah dari pagi ia mengawasi Kyara, kini hari sudah mulai sore, gadis itu memang sudah berhenti membersihkan kamar sejak tadi.
Kamar ini tak terlalu kotor karena itu tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan pekerjaan.
Gadis itu tengah membaca buku, entah sudah berapa buku yang ia baca Kai tak menghitungnya.
Sesekali gadis itu akan tersenyum, terlihat kecewa dan memberi ekspresi datar saat membaca halaman yang berbeda.
"Kyara..." Panggil Kai yang berjalan masuk ke arah kamar.
Ya, dia berakting seolah baru saja memasuki kamar.
"Ya..." Jawab Kyara.
"Apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu ?"
"Ya, apa kau menungguku ? Aku membaca buku sejak pekerjaanku selesai."
Tanpa dijelaskan pun ia sudah tahu sejak tadi. Namun sekali lagi ia harus bersandiwara saat ini.
"Makanlah, aku membawakanmu buah pisang hari ini." Ucap Kai.
Hari demi hari hubungan mereka berdua semakin baik dan menjadi sedikit dekat.
Kyara bahkan mulai sedikit berani mengutarakan keinginannya.
"Aku ingin makan ayam.."
"Bisakah kau membawa daging ? Aku sangat bosan makan buah terus-menerus."
Mereka berdua akan banyak bercerita ketika berada diruang makan. Sebenarnya hanya Kyara saja yang banyak bercerita.
Kai akan mendengarkannya dengan serius dan sesekali berbicara untuk memberi tanggapan.
Kyara sendiri juga sempat teringat pada ayahnya, saat dirumahnya dan keluarga Malvi tengah makan bersama sudah pasti ia akan banyak diam.
Berbicara saat sedang makan bukanlah hal yang sopan. Kalau ayahnya tahu putrinya berperilaku seperti ini pasti ia akan sangat marah.
"Kai, kau paling suka makanan apa ?"
"Sudah kubilang tak ada bukan."
"Aku tak percaya, ibumu pasti sering memasak untukmu."
Kyara terus saja mendesak Kai untuk mengatakan makanan favoritnya. Kai yang terus-menerus menerima pertanyaan yang sama setiap hari tentunya sangat muak.
Pada akhirnya ia mengatakan makanan apa yang sering di masak oleh ibunya untuknya.
"Baiklah, besok bawakan aku bahan-bahan ini, aku akan memasak untukmu. Eitsss...aku tak menerima penolakan, memasak untukmu adalah tugasku juga." Ucap Kyara.
Kai sempat tak paham, sebelumnya Kyara sempat merengek karena dia adalah seorang bangsawan yang seharusnya tak melakulan pekerjaan kasar.
Namun sekarang dengan mudahnya dia berkata akan memasak juga untuknya. Baiklah, dia akan menuruti permintaan Kyara saat ini.
Lagipula dia juga sedikit penasaran akan masakan Kyara nantinya, gadis itu terlihat sangat bersemangat dan percaya diri. Kalau saja makanannya tak enak sudah pasti dia akan menghina Kyara habis-habisan.
"Baiklah, aku akan membawanya besok."
"Kai..." Panggil Kyara lembut.
"Ya ?"
Kyara kembali ke dalam kamar dengan senyum yang terus terukir di bibirnya. Akhirnya rencana-rencananya bisa berjalan dengan baik.
Ya, sebelumnya Kai tak pernah menikmati makanan yang ia buat walaupun itu hanya sebuah buah yang ia kupas.
Namun hari demi hari saat hubungan mereka mulai dekat dan Kyara bisa mengambil hati Kai, ia mulai menjalankan rencanya satu-persatu.
Kali ini ia ingin meracuni Kai dengan masakan yang ia buat.
Bukan meracuni dengan maksud membunuh Kai, ia sadar tak akan bisa membunuh seorang vampire. Meracuni yang dimaksud adalah membuat lelaki itu semakin tunduk padanya.
Keesokan paginya Kai sudah membawakan bahan-bahan yang Kyara butuhkan.
Tak sulit baginya membuat banyak masakan, dengan kemahirannya dan buku resep yang ditinggalkan, sudah pasti tak butuh waktu lama untuk membuat banyak masakan.
Di atas meja saat ini sudah tertata rapi berbagai macam masakan yang terlihat sangat menggoda.
"Makanlah Kai." Ucap Kyara percaya diri.
Ia mengambil beberapa lauk dan menaruhnya diatas piring milik Kai.
Dengan hati-hati Kai mencoba masakan yang dibuat oleh Kyara.
Ia tertegun saat mencobanya, sesuap demi sesuap lauk yang ia ambil membuatnya sedikit sesak.
Pranggg....pranggg
Tiba-tiba saja Kai membanting semua masakan yang dibuat oleh Kyara.
Kyara tentunya terkejut, apa ia berbuat salah ? Tapi Kai makan dengan lahap sebelumnya.
Lalu kenapa ia membuang masakan yang ia buat ?.
"Kai...kau kenapa ?" Tanya Kyara dengan suara bergetar.
"Berani sekali kau membuat masakan dengan rasa yang menjijikan seperti itu ? Katakan, apa yang kau masukan ke dalam masakanmu itu ?!" Teriak Kai.
"Apa maksudmu ? Aku tak memasukan apapun." Jawab Kyara.
"Jangan berbohong Kyara! Tak mungkin rasanya seperti itu kalau kau tak mencampurkan sesuatu." Elak Kai.
Kyara sebenarnya tak paham yang di ucapkan oleh Kai, rasa seperti apa yang ia maksud ?.
Ia juga ikut makan barusan, dan lidahnya tak mengecap rasa yang aneh sedikitpun.
"Arghhhh!!!!" Teriak Kyara.
Tiba-tiba saja Kai menghisap darah dijarinya.
Ya, sebenarnya jarinya itu terluka karena terkena pecahahan piring.
Hanya satu hal yang ia pikirkan saat ini, ia pasti akan mati di tangan Kai saat ini juga.
Kali ini insting vampire Kai pasti bangkit sepenuhnya, lelaki itu sudah menghisap banyak darahnya.
Mata Kai memerah dan dia terlihat sangat menakutkan kali ini.
Kyara tak bisa melakukan apapun, ia sangat-sangat takut, tubuhnya bergetar hebat, kulitnya bahkan menjadi pucat.
Kesadaran Kai langsung kembali begitu mendengar suara isak tangis Kyara.
Sial.
Dia benar-benar menjadi monster sekarang.
Sialnya lagi ia tak suka akan tatapan yang diberikan Kyara padanya.
Entah mengapa dadanya jadi semakin sesak karena tatapan itu.
Apa ia sangat menakutkan dan menjijikan saat ini ?.
Brakkk
Kai mendorong Kyara dengan sangat keras. Andai saja tak ada tembok yang menghalanginya, entah seberapa jauh tubuh Kyara akan terlempar.
"Ahhhhh...." Teriak Kyara kesakitan.
Seolah tak terjadi apa-apa, Kai meninggalkan ruang makan begitu saja.
Meninggalkan Kyara yang tengah kesakitan karena perlakuannya.