
KEKAISARAN TIMUR
Sudah 3 bulan berlalu sejak kematian Kyara, namun sampai detik ini juga masa berkabung masih belum berakhir.
Para bangsawan semakin resah, mau sampai kapan lagi hal ini terus berlangsung ?.
Apalagi Kaisar sempat menolak juga akan diadakannya pesta perayaan ulang tahunnya. Dengan alasan yang sama ia mengatakan tak ingin melakukan pesta di masa berkabung.
Duke Malvi sendiri juga merasa tak enak pada bangsawan dan para rakyak kekaisaran timur.
Karena semenjak masa berkabung ini tak pernah ada perayaan apapun.
Duke Malvi pun akhirnya menemui Kaisar sendirian dengan maksud untuk membujuknya.
"Yang Mulia sudah 3 bulan berlalu sejak kematian putriku, kurasa sudah cukup sampai disini masa berkabung ini." Ungkapnya.
"Apa kau berkata begitu karena desakan para bangsawan ?." Tanya Kaisar.
Dengan cepat Duke Malvi mengelak, ia melakukan hal ini atas kemauannya sendiri.
"Tidak Yang Mulia, hanya saja aku tak ingin masa sedih ini berlangsung terlalu lama. Aku tak ingin putriku menjadi sedih melihat keterpurukanku." Ucap Duke Malvi.
Huhhh...
"Sebenarnya aku merasa bersalah atas kematian putrimu. Dia anak yang cantik, pintar dan baik hati, bagiku dia adalah calon terbaik putra mahkota. Karena itu aku memperlakukannya dengan baik dan selalu menyanjungnya. Aku takut para bangsawan menjadi iri karena hal itu dan menyelakai Kyara." Ucap Kaisar dengan tatapan sendu.
Duke Malvi tersenyum, ia tak menyangka Kaisar bisa berpikir seperti itu dan mengatakan padanya secara langsung.
Sedikitpun ia tak merasakan ada kebohongan dari ucapannya.
Pada akhirnya Duke Malvi pun berhasil membujuk Kaisar untuk memberhentikan masa berkabung.
"Tapi ingatlah Malvi, soal pemilihan putri mahkota aku tetap akan menundanya."
Para bangsawan lain yang mengetahui berakhirnya masa berkabung pun menjadi sangat senang.
Sebenarnya Kaisar sendiri masih tak berniat untuk merayakan hari ulang tahunnya, namun para bangsawan lain menolak dan memaksa Kaisar untuk merayakannya.
Tak butuh waktu lama persiapan pesta perayaan pun selesai dan akhirnya hari pesta pun tiba.
Mengingat ini adalah pesta besar, para bangsawan tua benar-benar berinvestasi pada putri mereka.
Tentunya dengan maksud agar Kaisar dan Putra Mahkota melirik putri mereka itu.
Ini juga adalah pertama kalinga Liana menunjukan diri setelah sekian lama hanya berdiam di kediaman Duke semenjak gossip beredar.
Ia datang mengenakan baju berwarna biru laut tanpa lengan, rambut yang dibiarkan terurai namun mengenakan pita dengan warna senada dengan bajunya.
Penampilannya itu membuat iri banyak gadis, padahal ia tampil dengan baju dengan model biasa. Namun ia tetap terlihat cantik dan elegan.
"Putriku memang yang tercantik." Puji Duchess Malvi.
"Terima kasih ibu." Ucao Liana sambil tersenyum lebar.
Kaisar pun akhirnya tiba dengan ditemani oleh putra mahkota.
Ia pun mengucapkan banyak terima kasih atas perayaan megah yang telah disiapkan.
Ketika pesta sudah dimulai, para bangsawan berusaha mengenalkan putri mereka pada Kaisar dan juga putra mahkota.
Mereka juga menyinggung secara terang-terangan soal calon putri mahkota baru yang seharusnya segera dipilih karena posisi itu sudah kosong.
"Yang Mulia, bukankah ini waktu yang tepat untuk memilih calon putri mahkota ?"
"Benar Yang Mulia, lihatlah putri-putri kami terlihat sangat cantik dan menawan."
Dan banyak lagi ungkapan manis yang mereka ucapakan soal investasi besar mereka itu.
Mereka bahkan dengan lancangnya mengatakan bahwa Duke Malvi sudah tak masalah dan mengikhlaskan kepergian Kyara.
"Jangan menunda lagi Yang Mulia, apa anda belum dengar kalau Duke Malvi sudah ikhlas dengan kepergian putrinya. Bahkan ia rela kalau putri bungsunya tak ikut dalam pemilihan."
"Benar Yang Mulia." Jawab salah seorang bangsawan.
Kaisar dan putra mahkota pun tersenyum mendengar jawaban itu.
Mereka tak mengira kalau para bangsawan bisa berbohong dengan bodohnya seperti itu. Tak mungkin sebagai orang tua ia rela atas kematian putrinya begitu saja.
Apalagi sampai membuat putri bungsunya tak bisa mengikuti pemilihan putri mahkota.
Benar-benar tak masuk akal.
"Kalian benar, ini memanglah saat yang tepat untuk membahas soal putri mahkota berikutnya." Ucap putra mahkota.
Para bangsawan terlihat semakin bersemangat mendengar ucapan putra mahkota. Mereka mengenalkan bahkan menawarkan putri mereka itu bak barang yang tengah dijual.
"Theo panggilkan pendeta." Titah putra mahkota.
Para bangsawan merasa heran, pesta sudah dimulai sejak tadi. Tapi putra mahkota meminta pelayan setianya untuk memanggil pendeta.
Apa mereka akan berdoa lagi ?.
Pendeta pun akhirnya tiba di aula pesta, putra mahkota pun meminta semua orang untuk mendengarkan apa yang akan ia umumkan saat ini.
"Mulai detik ini Liana Helcia Malvi resmi menjadi putri mahkota dan calon ratu kekasiaran timur." Umumnya singkat.
Para tamu menjadi sangat heboh, mereka merasa sangat kecewa saat ini.
Padahal Kaisar pernah berkata kalau Liana tak akan pernah menjadi putri mahkota tanpa melalui ujian.
Namun tiba-tiba saja putra mahkota mengumumkan hal sebaliknya. Para bangsawan merasa dipermainkan.
"Yang Mulia, apa-apaan yang dilakukan putra mahkota saat ini ? Bukankah dia tak mematuhi perintah anda ?."
"Kecurangan apalagi ini Yang Mulia ?"
"Apa anda mengingkari ucapan anda sendiri Yang Mulia Kaisar ?"
Putra mahkota pun tersenyum, begitu juga dengan Kaisar.
Duke Malvi sendiri juga nampak kebingungan, Kaisar tak pernah mengatakan tentang hal ini padanya.
"Aku tak pernah mengingkari ucapanku, dengarkanlah apa yang akan diucapkan oleh pendeta." Ucap Kaisar.
Para tamu pun menjadi semakin bingung, untuk apa pendeta ? Apa dia akan mendoakan Liana dan putra mahkota ?.
Pada akhirny pendeta agung pun mengungkapkan soal oracle yang diterima di kekaisaran timur.
Oracle yang mengatakan bahwa kekaisaran ini akan menjadi semakin kuat kalau putra mahkota menikah dengan garis keturunan murni keluarga Malvi.
Dan orang terpilih itu adalah Liana Helcia Malvi.
Ia dan Ragaz adalah pasangan yang telah di takdirkan oleh surga. Bahkan keturunan mereka nantinya juga akan menjadi yang terhebat.
Para bangsawan pun pada awalnya tak percaya.
Namun mana mungkin seorang pendeta agung berani memalsukan oracle Dewa Aelius ?.
Harapan mereka pun kini sirna, investasi mereka hanya menghasilkan kerugian saja. Mau tak mau mereka harus menerima orcale itu dengan lapang dada.
Duke dan Duchess Malvi sendiri juga sangat terkejut akan hal ini, mereka terlihat sangat senang dan sedih.
"Liana Helcia Malvi orcale ini ditujukan untukmu. Sudah seharusnya kau tak menolak berkat sebagus ini." Ucap pendeta.
"Hamba menerima berkat ini dengan senang hati." Ucap Kyara.
Liana sendiri harus menjaga etiketnya. Ia saat ini adalah putri mahkota kekaisaran timur.
Berteriak dihadapan orang sebanyak ini akan mencoreng nama keluarga dan juga kekaisaran.
Tampak jelas putri-putri bangsawan lainnya memberi tatapan iri padanya.